Selasa, 29 November 2016

Bangsa yang Tidak Bahagia

Bangsa yang Tidak Bahagia
Aprinus Salam  ;   Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM)
                                              KORAN SINDO, 28 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bangsa hadir dan diperlukan untuk dicintai dan sekaligus dibenci. Dalam tarikan energi itu bangsa Indonesia hidup dan bertahan.

Sayangnya, negara dan masyarakat tidak mampu mengelola dengan baik dua energi yang sangat penting itu sehingga sebagai bangsa kita hidup dalam perasaan galau. Sebagai bangsa, kita bukan bangsa yang bahagia. Secara historis misalnya ada masa lalu yang dicintai (dan dikagumi), yakni abad ke-7 hingga abad ke-16, suatu masa yang sering dianggap sebagai masa kejayaan Nusantara dengan kerajaan besarnya seperti Sriwijaya dan Majapahit.

Tetapi, ada masa lalu yang dibenci, yakni masa penjajahan. Masa penjajahan adalah masa yang kita terima dengan perasaan benci. Karena masa penjajahan itu pula, kita menyenangkan diri dengan kisah-kisah kepahlawanan dan pahlawan yang layak dicintai. Kita memang membenci penjajahan, dalam arti kita membenci segala bentuk intervensi dan gangguan dari luar ke dalam bangsa kita. Tetapi, itu bukan berarti kita membenci bangsa Eropa yang pernah menjajah kita.

Bahkan banyak dari kita yang menyukai dan mencintai Eropa dan Amerika. Dalam konteks ini, negara pernah gagal mengelola perasaan cinta dan benci pada satu bangsa tertentu, padahal bangsa itu tidak pernah menjajah di dan pada masa lalu yang kita benci. Banyak contoh lain misalnya tradisi dan modernitas. Kitamencintai tradisi karena nilai-nilai kearifannya, tetapi benci pada tradisi yang snobis dan merasa paling luhur sendiri.

Kita membenci modernitas dan kapitalisme karena telah menggerus kemanusiaan kita, tetapi kita mencintainya karena modernitas telahmembebaskan kita dari belenggu tradisi yang mengungkung. Kita membenci pembangunan yang merusak lingkungan, tapi kita mencintainya dengan menikmati hasil pembangunan. Secara umum, mungkin kita akan berpendapat bahwa untuk menuju bangsa yang bahagia sebaiknya energi cinta dimaksimalkan dan energi benci diminimalkan atau dihilangkan.

Asumsi itu pun ternyata tidak benar karena sebagai bangsa ada ihwal kebencian juga sangat perlu dibangun dan dipertahankan. Kita tetap perlu memelihara kebencian terhadap segala macam kejahatan. Negara perlu membantu bangsanya untuk memelihara terusmenerus perasaan benci untuk melawan dengki, hasut, keserakahan, ketamakan, kerakusan, dan sebagainya. Tetapi, kita juga perlu mengurangi rasa cinta yang berlebihan terhadap segala bentuk kesuksesan, keberhasilan, kemenangan, dan kekayaan.

Hal itu disebabkan energi cinta terhadap hal itu bisa menimbulkan cara-cara kejahatan untuk mendapatkannya. Itulah sebabnya, negara juga tidak perlu mengeksplorasi bangsanya untuk menjadi bangsa yang serbasukses, bangsa yang harus selalu berhasil dan menang, atau menjadi bangsa yang kaya.

Titik Kesetimbangan

Bangsa adalah sekumpulan manusia yang terikat dalam satu perjanjian historis, politik, dan kultural manusia-manusia yang terlibat dan terhimpun di dalamnya. Artinya, bangsa adalah himpunan manusia dan kemanusiaan yang terkonstruksi sedemikian rupa oleh sejumlah aturan dan beragam kesepakatan. Tetapi, sebagai himpunan manusia dan kemanusiaan, substansi tertinggi bangsa adalah bahwa bangsa merupakan penjelmaan energi manusia-manusia yang cinta dan benci ada di dalamnya. Kita tidak bisa bertanya kenapa cinta dan benci harus ada.

Karena, hal itu sama dengan mempertanyakan apa itu ruh yang tersembunyi di dalam diri kita sehingga kita bisa hidup dan ada. Pertanyaannya, bagaimana mengelola cinta dan benci agar mendapatkan titik kesetimbangan tertentu. Dalam pemahaman inilah kita telah mendapat satu pedoman yang sangat pantas untuk dielaborasi kembali, yakni apa yang telah disebutkan dalam Pembukaan UUD 45. Dalam Pembukaan UUG 45, teks secara eksplisit telah menandaskan tiga faktor penting dalam mengelola ketimpangan bangsa dan negara.

Tiga faktor penting itu adalah faktor spiritualitas (atas berkat Allah Yang Mahakuasa dan seterusnya), intelektualitas (mencerdaskan kehidupan bangsa dan seterusnya), dan emosionalitas (kemerdekaan, keadilan kesejahteraan, kemakmuran). Persoalannya bahwa justru titik tekan negara dalam mengelola bangsanya lebih meng-akomodasi dimensi atau faktor emosionalitas. Cinta dan benci tidak mendapat kontrol atau titik kesetimbangan.

Hal tersebut juga berkaitan dengankarakternegara Indonesia yang, walaupun telah memiliki Pancasila, dalam praktiknya modernisme, kapitalisme, pembangunanisme, dan sekularisme menjadi ”ideologi” dominan dalam rangka mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran. Sebagai akibatnya, energi cinta dan benci menjadi menonjol dan tak terkendali. Implikasi tidak terkendalinya energi cinta dan benci itu dapat kita lihat dari banyak konflik, kerusuhan, dan kekerasan atas nama cinta dan benci itu sendiri.

Menuju Bangsa Bahagia

Jika titik kesetimbangan itu tidak diupayakan, jangan pernah berharap kita akan menjadi bangsa yang bahagia. Suatu kondisi keseimbangan antara spiritualitas, emosionalitas, dan intelektualitas. Pertanyaan berikutnya, kenapa kita perlu menjadi bangsa yang bahagia? Belajar dari sejarah peradaban bangsa dan negara di seluruh muka bumi, tidak ada bangsa dan/atau negara yang abadi. Itu artinya, bangsa dan negara itu fana dan sementara.

Bukan mengurangi semangat, tulisan ini justru ingin membangun dan menguatkan semangat bahwa karena kebangsaan kita ini sangat sementara, kelolalah rahmat kesementaraan itu secara maksimal. Tujuan tertinggi dari kehidupan bukan mendapatkan keberhasilan, kemenangan, atau kesuksesan bangsa, jika hal itu didapatkan dengan dan dalam penderitaan bingung dan galau berkepanjangan, bahkan frustrasi. Perlu sesuatu yang lebih teleologis dan abadi.

Negara perlu menanamkan kesadaran bersama bahwa faktor spiritualitas dan intelektualitas sangat diperlukan untuk mengontrol energi cinta dan benci. Negara wajib membuat bangsa Indonesia bahagia. Bangsa yang bahagia sekaligus selamat dunia akhirat.