Kamis, 24 November 2016

Sebaran Ideologi Kekerasan

Sebaran Ideologi Kekerasan
Noor Huda Ismail  ;   Peneliti Terorisme; Kandidat PhD Politik dan Hubungan Internasional Monash University Australia; Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian
                                                DETIKNEWS, 23 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Apa yang menyebabkan Juhanda, lelaki Sunda itu tega melempar bom rakitan ke sebuah tempat suci umat Kristiani di Samarinda? Apa yang mendorong Afif alias Sunakim menyalakkan senapan di depan kedai kopi Starbucks di Jl MH Thamrin awal tahun 2016 ini?

Mengurai akar penyebab aksi terorisme itu sangatlah sulit. Namun, paling tidak ada dua cara pandang.

Yang pertama disebut dengan pendekatan strukturalis. Bagi pengusung pendekatan ini, aksi terorisme itu adalah bentuk reaksi dari sebuah kelompok yang terpinggirkan untuk melawan sebuah kelompok yang mereka bayangkan menindas diri mereka.

Dalam kasus radikalisasi di Prancis, ilmuwan sosial Prancis, Giles Kepel melihat faktor ekonomi, sosial dan marjinalisasi kaum imigran dan anti Islamlah yang menjadi pemantik utama rasa kekecewaan yang berakhir pada sikap militansi.

Namun jika cara pandang ini yang dipakai di Indonesia, kenapa hanya ada segelintir orang seperti Juhanda dan Afif saja yang menjadi teroris? Padahal ada ribuan orang merasakan hal yang sama? Apakah mereka yang termarjinalkan itu seperti 'daun kering' yang mudah disapu oleh 'angin' dan kemudian jika tergesek sedikit saja mereka akan terbakar?

Oleh karena itu, pandangan pertama itu ditolak oleh Oliver Roy yang juga ilmuwan sosial Prancis. Pandangan kedua yang diwakili Roy ini percaya bahwa terorisme merupakan sebuah kasus individual yang sangat spesifik. Biasanya, dimulai dari proses pelepasan diri individu dari kelompok besar yang menjadi arus utama.

Di Indonesia, maka kelompok besar itu bisa seperti NU, Muhammadiyah. Bagi Roy, individu yang tidak terwadahi oleh organisasi ini, akan mencari atau membentuk kelompok sendiri yang lebih kecil. Di sinilah mereka merasa terwadahi. Oleh karena itu, dalam kaca mata Roy, melihat nilai-nilai yang diyakini, "titik balik" kehidupan pribadi dan juga kondisi psikologis pelaku itu jauh lebih penting.

Melihat kasus terorisme yang muncul di Indonesia, kedua faktor "struktural" dan "individual" ini tidaklah berdiri sendiri. Kedua faktor ini bekerja dengan baik apabila diikat oleh sebuah ideologi atau keyakinan para pelaku. Ideologi inilah yang menjadi cara pandang melihat dunia, tata nilai dan bahkan arahan gerak mereka.

Namun, ratusan individu yang kemudian menjadi pelaku terorisme di Indonesia itu, lebih dari 70% nya bergabung ke kelompok kekerasan bukan karena pesona ideologi kelompok ini. Mereka terseret ke dunia kekerasan ini lebih karena jaringan sosial seperti hubungan pertemanan, guru-murid, anak-bapak, suami-istri, paman-keponakan, dan hubungan kekerabatan lainnya.

Dalam kultur masyarakat Indonesia yang unsur "pakewuh" atau "merasa tidak enak hati" masih sangat kuat, maka seringkali individu ini menjadi sosok yang lemah ketika berhadap dengan sosok yang mempunyai posisi sosial yang lebih tinggi. Pada saat itu, biasanya individu tidak mampu lagi berpikir kritis karena adanya tekanan kelompok sosial ini. Apalagi jika mereka telah diikat dalam persaudaaran ideologi yang sama dengan doktrin: "sami'na wa atho'na" (saya mendengar dan saya akan taat) .

Misalnya sosok Setiawan, seorang mantan narapidana terorisme dari Semarang. Semua stereotype sempit yang sering dilabelkan kepada kelompok ini seperti berjanggut dan celana cingkrang tidak ada pada dirinya. Ia sangat sopan dan sarjana ekonomi UNDIP. Bahkan, salah satu keluarga dekatnya, sekarang menjadi salah satu menteri di kabinet Jokowi.

Namun, karena dia diminta tolong oleh ustad pengajiannya untuk menjemput tamu, ia tidak bisa menolak. Sang tamu kemudian menginap di rumahnya lima hari. Ia baru tahu siapa identitas tamu sebenarnya adalah Noordin M Top, setelah ia dicokok oleh Densus 88 ketika ia ikut rapat 17 Agustusan di kampungnya. Ironisnya, Setiawan baru paham ideologi kelompok ini justru ketika ia di dalam penjara!

Menurut Setiawan, paling tidak, ada 3 ciri utama pendukung ideologi kekerasaan ini.

Pertama. Mereka seolah-olah menjadi "panitia masuk surga". Dengan mudah mereka akan mengkafirkan orang lain. Untuk tujuan ini, memakai teks agama secara sepotong-potong yang disesuaikan dengan ideologi mereka.

Kedua. Mereka menjadi fanatik dan menutup diri. Oleh karena itu, merekapun tidak menerima perbedaan dalam cara memahami teks agama yang ada. Padahal fakta di lapangan, dalam pemahaman fiqihpun ada berbagai macam mazhab seperti Hambali, Syafii, Maliki dan lain-lain.

Ketiga. Mereka ingin ada perubahan yang revolusioner yaitu mengganti sistem pemerintah yang sekuler menjadi, yang menurut mereka, lebih Islami. Untuk mencapai hal ini, mereka tidak enggan memakai kekerasan.

Untuk memutus 'oksigen' hidup kelompok ini tidaklah mudah. Karena bagi masyarakat tertentu, para pelaku ini masih sering disebut sebagai "mujahid". Apalagi beberapa media masih terus menganggap setiap aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ini sebagai rekayasa dan pengalihan isu (padahal korbannya benar-benar ada).

Oleh karena itu, sudah saatnya negara untuk tidak hanya menekankan pendekatan keamanan dan masyarakat harus siap memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang ingin memulai hidup baru ketika mereka sudah berubah ideologi.