Kamis, 17 November 2016

Pragmatisme AS-Tiongkok

Pragmatisme AS-Tiongkok
Mira Murniasari ;   Mahasiswa Program Studi Doktor Hubungan Internasional Southeast Asia Studies Xiamen University, Fujian, Tiongkok
                                         MEDIA INDONESIA, 15 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

RAKYAT Amerika Serikat akhirnya memilih Donald John Trump sebagai presiden ke–45 untuk menggantikan Barack Obama pada 8 November 2016. Trump membuat publik dunia khawatir karena pada saat kampanye ia banyak melontarkan pandangan kontroversial dan tidak populis. Tak terkecuali Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Ia sempat mengemukakan kekhawatirannya jika Trump terpilih sebagai presiden AS, upaya dunia selama ini untuk membangun perdamaian dan kestabilan ekonomi akan jauh dari harapan.

Namun, yang tak kalah penting dari kekhawatiran publik dunia ialah menelaah bagaimana sebenarnya sikap dan pandangan Tiongkok terkait dengan terpilihnya Trump. Bagaimana hubungan kedua negara paling berpengaruh di dunia tersebut di masa mendatang.

Pada 9 November 2016, sehari pascaterpilihnya Trump sebagai Presiden AS, Kepala Negara Tiongkok Xi Jinping langsung memberikan ucapan selamat. Dalam ucapannya, Jinping menyatakan harapannya, yaitu AS-Tiongkok ialah dua negara ekonomi terbesar dunia, yang punya tanggung jawab menjaga kestabilan dan perdamaian dunia. Mereka juga harus berperan serta mendorong perkembangan kemakmuran global, dapat membangun satu hubungan sehat dalam jangka panjang, berjalan dalam satu koridor yang sama, saling menghormati, dan tidak saling menciptakan konflik.

Yang tak kalah penting, Jinping mengharapkan kedua negara bisa menggalang kerja sama yang saling menguntungkan. Selain itu, Jinping juga mengharapkan terpilihnya Trump dapat menjadi titik awal baru bagi kedua negara untuk membangun hubungan yang lebih baik dan maju. Bukan itu saja, dia ingin hubungan Tiongkok-AS lebih bermanfaat bagi kesejahte-raan rakyat kedua negara dan juga dunia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lu Kang, bahkan mempertegas pihaknya ingin membangun hubungan lebih baik dengan pemerintah AS yang baru. Menurutnya, terlepas dari berbagai permasalahan yang ada di antara kedua negara, kerja sama ekonomi perdagangan kedua negara cukup besar, mencapai US$550 miliar pada 2015, dan ditargetkan mencapai US$1 triliun di 2024. Ditegaskan pula bahwa jika tidak bermanfaat bagi rakyat kedua negara, tidak akan mungkin kerja sama ekonomi perdagangan akan sebesar itu.

Tiongkok pun meyakini, siapa pun politikus Amerika, hanya jika bertolak dari kepentingan rakyat negaranya, akan mengambil langkah kebijakan yang bermanfaat bagi kerja sama ekonomi perdagangan kedua negara.

Uji keharmonisan

Beberapa pihak memprediksi hubungan Tiongkok–AS akan memanas dengan terpilihnya Trump. Namun, beberapa pakar Tiongkok menyatakan hubungan kedua negara tidak akan mengalami perubahan berarti.

Hubungan Tiongkok–AS di bawah kendali Jinping–Obama yang dibangun berdasar ‘negara besar kekuatan baru’ selama ini memang terlihat jauh dari harmonis. Konflik dan persaingan pengaruh secara terbuka mewarnai hubungan kedua negara, terutama dalam masalah Laut China Selatan, Dalai Lama (terkait HAM), hingga tuduhan Tiongkok telah melakukan spionase siber.

Saat ini Tiongkok ialah negara ekonomi kuat kedua setelah Amerika. Dengan cadangan dana yang dimiliki, Tiongkok telah menjadi salah satu sumber utama dana AS. Bahkan, industri besar AS sangat bergantung kepada Tiongkok, baik secara SDM maupun bahan baku. Dengan posisi itu, akankah Trump akan terus memelihara konflik dengan Tiongkok, atau bahkan semakin memanas?

Salah satu yang dikhawatirkan banyak pihak dengan terpilihnya Trump ialah semakin memanasnya situasi di Laut China Selatan. Kebijakan luar negeri Trump yang diungkapkan dalam kampanyenya ialah melindungi dan memprioritaskan kepentingan Amerika. Laut China Selatan tentu termasuk. Meskipun ketertarikan Trump terhadap masalah ini dinilai tidak sekeras Hillary Clinton, keinginan dia untuk memperkuat pertahanan negaranya cukup mengkhawatirkan. Tentara Amerika saat ini sangat memberikan perhatian khusus terhadap masalah Laut China Selatan, bahkan siap berperang dengan Tiongkok di sana.

Laut China Selatan ialah kepentingan inti nasional Tiongkok. Tidak ada negara mana pun yang berhak turut campur di dalamnya, termasuk AS. Terpilihnya Trump sebagai presiden tidak akan pernah mampu mengubah hal tersebut atau bahkan memundurkan langkah Tiongkok meski 1 inci pun. Bagi Tiongkok, siapa pun Presiden AS, itu tidak akan mengubah arah kebijakan luar negeri Tiongkok.

Dari hal ini, kekhawatiran berbagai pihak akan semakin memanasnya situasi di Laut China Selatan cukup beralasan. Namun, kepentingan terbesar AS dalam menjalin hubungan dengan Tiongkok sebenarnya haruslah berdasar pada kepentingan inti rakyat AS karena Trump dipilih mereka. Latar belakang Trump sebagai peng-usaha dan dinilai sebagai orang sangat pragmatis juga diyakini akan membuat Trump mengambil langkah-langkah yang tak kalah pragmatis dalam menjalin hubungan dengan Tiongkok karena kestabilan hubungan kedua negara besar ini tidak hanya akan mendatangkan keuntungan bagi mereka, tetapi juga dunia.

Jinping–Trump diharapkan dapat menjadikan dua negara besar ini menjadi lebih dewasa. Keduanya diharapkan mampu mengatasi setiap permasalahan sensitif dan kompleks dengan kepala dingin demi membangun mimpi kestabilan global dan kemakmuran rakyat dunia.

Di sisi lain, penolakan Trump atas Trans Pacific Partnership (TPP) akankah membuatnya merapat ke jaringan kerja sama bentukan Tiongkok, antara lain Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Kita semua akan menjadi saksi dari bagaimana perkembangan hubungan Tiongkok–AS ke depan dalam kendali duet Jinping–Trump.