Minggu, 27 November 2016

Artefak

Artefak
Putu Setia  ;   Pengarang; Wartawan Senior TEMPO
                                                  TEMPO.CO, 26 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pemerintah Belanda akan mengembalikan 1.500 artefak ke Indonesia. Ini berita penting dalam sejarah perjalanan bangsa. Tapi siapa yang peduli saat ini, tatkala proses pemilihan gubernur di Jakarta begitu panas?
Orang lebih suka membicarakan apakah kepolisian berhasil ditekan dengan aksi demo agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditahan. Atau berdebat apakah salat Jumat sah atau tidak jika dilakukan di jalan raya. Apalagi adanya isu yang "ngeri-ngeri sedap", seperti makar misalnya. Itu pasti lebih menarik dibanding membicarakan artefak. Tak perlu survei, hanya sedikit yang tahu apa itu artefak.

Artefak adalah benda arkeologi yang dibuat oleh manusia dan dari benda
itu jejak-jejak sejarah bisa dilacak. Artefak bisa berupa arca, patung, keris, tombak, tulisan kuno yang ditorehkan di batu, di daun lontar, atau mungkin sudah berupa buku. Dari sini sejarah bangsa bisa dirangkai. Setidaknya kita bisa belajar tentang kearifan dan juga ketidakarifan di masa lalu.

Belanda berhasil memboyong ribuan artefak dari bumi Indonesia. Tempat penyimpanan khusus artefak itu diberi nama The Nusantara Collection, bagian dari Delft Museum. Para arkeolog dan peminat budaya Indonesia banyak yang datang khusus ke Delft untuk belajar tentang Indonesia. Para profesor di Fakultas Budaya dan Sastra Universitas Udayana Denpasar acap kali menyebutkan, kalau mau belajar tentang sejarah Nusantara, termasuk sejarah Bali, pergilah ke Delft. Di sana ada ratusan tanpa diketahui jumlah yang pasti lontar kuno yang memuat tentang sejarah, kesusastraan, keyakinan, dan legenda rakyat. Keris yang dipakai raja-raja Bali saat "Perang Puputan" juga ada di Belanda.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte berencana mengembalikan 1.500 artefak itu ke Indonesia. Sebagai bukti awal, Rutte menyerahkan sebuah keris kepada Presiden Joko Widodo dalam pertemuannya Rabu lalu. Banyak orang yang terkejut, salah satunya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Yang sesungguhnya lebih membuat terkejut adalah alasan kenapa Belanda mengembalikan artefak itu tanpa imbalan. Ternyata alasan biaya, karena memelihara benda kuno seperti itu membutuhkan dana besar. Mungkin ada alasan lain, misalnya, Belanda sudah tak memerlukan lagi menyimpan "sejarah bangsa lain". Indonesia sudah pasti ibarat mendapat durian runtuh. Menteri Muhadjir pun bilang ini peristiwa bagus, meski tak tahu harus berbuat apa sebelum pergi ke Belanda melihat benda-benda itu.

Akan ditaruh di mana artefak itu nantinya? Menteri Muhadjir hanya menyebutkan artefak akan dipilah-pilah, kalau berupa buku ditaruh di Perpustakaan Nasional. Artinya, artefak yang berupa patung akan ditaruh di Museum Nasional atau museum yang ada di daerah disesuaikan dengan asal artefak. Maka artefak yang berupa lontar mungkin akan menghuni Museum Lontar Gedong Kirtya di Singaraja, Bali.

Apakah kita siap dengan dana memelihara artefak itu jika Belanda saja kewalahan? Artefak itu harus dirawat. Sebaiknya jika berupa buku apalagi berbentuk lontar perlu disalin dalam format digital. Itu tahap awal dan dilanjutkan proyek penerjemahannya. Upaya ini pernah dilakukan untuk koleksi di Gedong Kirtya oleh sebuah lembaga swasta, tapi tak berlanjut karena pemerintah tak punya perhatian. Kalau pemerintah tetap tak punya perhatian terhadap urusan budaya luhur bangsa ini karena lebih banyak rupiah disedot urusan politik maka pengembalian 1.500 artefak dari Belanda adalah bencana. Artefak dipulangkan untuk dicampakkan dan lenyap pelan-pelan.