Selasa, 22 November 2016

Identitas Pendidikan Kebangsaan Kita

Identitas Pendidikan Kebangsaan Kita
Satia Prihatni Zein  ;   Konsultan Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                         MEDIA INDONESIA, 21 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SAYA masih ingat ketika dulu masih sekolah, perayaan Hari Kartini masih identik dengan mengenakan baju tradisional daerah asal masing-masing, dan melakukan pawai kecil-kecilan di sekitar sekolah.

Saat itulah para siswa dan orangtua sibuk mencari baju yang sesuai dengan asal daerah dan sukunya.

Bagi sebagian yang tidak mau repot, cukup memakai baju kebaya yang ditimbang mewakili baju nasional Indonesia.

Dua puluh lima tahun kemudian pada perayaan Hari Kemerdekaan tahun lalu, anak saya mengikuti kegiatan pawai yang diadakan pihak kabupaten, dan setiap sekolah mengirimkan kontingen yang terdiri dari siswa berpakaian tradisional dari daerah yang ada di Indonesia, sertaberpakaian yang mewakili profesi tertentu.

Baju-baju dari beragam suku dan/atau provinsi dikenakan para siswa, namun mengalami modifikasi sedikit terkait penutup kepala dan baju bagi siswi putri yang tetap mengenakan jilbabnya.

Di sini saya melihat, identitas suku dan keagamaan dapat lebur menjadi identitas kebangsaan dengan harmonis.

Sesungguhnya negosiasi identitas seperti ini sudah berlangsung lama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, tanpa mengancam identitas sebagai seorang Indonesia.

Benedict Anderson, pernah mendefinisikan sebuah bangsa sebagai imagined communities, yakni seorang warga dari bangsa tersebut tidak akan pernah kenal dengan seluruh warga dari bangsa itu.

Namun, rasa 'kesatuan' dan persaudaraan tumbuh dalam diri setiap warga tersebut, dan hal inilah yang membuat sebuah bangsa unik.

Bayangkan dalam sebuah Indonesia yang sangat luas dan bineka ini, seorang anak Indonesia yang berada di Aceh, mungkin tidak pernah akan berjumpa dengan anak Indonesia lainnya di Papua.

Namun, apa yang menyebabkan mereka tetap merasa menjadi bagian dari Indonesia?

Itu karena imajinasi akan sebuah bangsa yang ditanamkan dan disemai dalam ruang-ruang keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Sesungguhnya 'pertempuran' untuk merebut imajinasi akan identitas kebangsaan sedang berlangsung setiap hari di kelas-kelas di seluruh Indonesia.

Ketika para pemuda dan pemudi mendeklarasikan Sumpah Pemuda 1928, mereka sebenarnya tengah menyatukan imajinasi akan sebuah identitas yang mencakup satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa.

Imajinasi inilah yang menjadi penyatu ragam identitas yang saat itu masih terkait dengan asal daerahnya seperti Sumatra, Jawa, Celebes, dan lain sebagainya. Seiring waktu identitas tersebut membentuk sebuah identitas bangsa Indonesia.

Hingga saat ini imajinasi akan sebuah identitas bangsa masih memiliki daya tarik dan berhasil menyatukan sebuah bangsa dengan keragaman yang sangat tinggi seperti Indonesia, namun betulkah?

Menemukan identitas

Proses pendidikan sejatinya ialah proses menemukan identitas diri, dengan siswa mengenal siapa dirinya serta seluruh ragam potensi yang ia miliki.

Dalam proses ini pula, identitas diri sebagai bagian dari sebuah keluarga, sebuah komunitas, dan akhirnya sebuah bangsa menjadi semakin jelas.

Idealnya proses ini juga akan mendukung kesadaran akan hak dan tanggung jawab siswa terhadap dirinya, keluarga, masyarakat, dan negara.

Idealnya pula dalam pembentukan identitas tersebut ragam latar belakang dan implikasinya tidak menemui konflik dan mendorong terbentuknya warga negara yang mendukung pengembangan budaya serta memberikan sumbangsih yang positif melalui penanaman nilai-nilai luhur.

Diskursus mengenai apa dan bagaimana identitas bangsa Indonesia, masih berjalan dan terus berubah seiring dengan perubahan yang dialami bangsa ini.

Nilai-nilai yang diasosiasikan dengan identitas bangsa Indonesia saat ini mungkin tidak selalu positif seperti yang diajukan Mochtar Lubis dalam pidatonya, Manusia Indonesia.

Namun, sejatinya identitas dan nilai-nilai luhur sebuah bangsa disemai sejak dini dalam proses pendidikan baik dalam keluarga, masyarakat, maupun secara formal dalam pendidikan di sekolah, tetap menjadi bagian dari usaha luhur memperbaiki hal itu.

Masalahnya rumusan akan identitas dan nilai-nilai keindonesiaan tersebut belum berhasil dituangkan dalam bentuk operasional yang memberi ruang dialog dan kontemplasi bagi guru dan siswa dalam membentuk identitas mereka.

Selain itu, banyak sekolah belum menjadi tempat yang aman dan ramah bagi siswa untuk membentuk identitas dirinya dan cenderung membatasi siswa.

Juga masih banyak guru belum memberikan ruang bagi siswa membentuk identitasnya sendiri berbasis kepada instrospeksi dan uji coba dalam mengambil keputusan dan mengambil tanggung jawab akan keputusannya.

Inilah yang menyebabkan identitas siswa tidak pernah tumbuh dengan tuntas sehingga kesadaran akan diri yang menjadi bagian dari keluarga, komunitas, dan bangsa menjadi kabur.

Jika melihat kecenderungan dewasa, seolah-olah terdapat tarik-menarik yang kuat antara identitas keagamaan dan identitas kebangsaan misalnya, atau identitas daerah dengan identitas kebangsaan.

Dan tarik-menarik ini menentukan bagaimana keputusan akan dibuat baik pada tingkat individu maupun tingkat komunitas.

Sentimen yang bertiup saat ini seolah-olah identitas hanyalah tunggal dan ekslusif dan kaku.

Implikasi dari hal ini adalah semakin menguatnya identitas dominan dan jika diiringi dominasi jumlah dan dalam sistem demokrasi akan menjadi dominasi kekuasaan, terjadilah tirani mayoritas.

Banyak negara memiliki keragaman baik karena datangnya imigran dari negara lain ataupun memang merupakan kesatuan dari beragam etnisitas, konsep multikulturalisme ditawarkan untuk mengakomodasi keragaman tersebut.

Namun, dengan semakin tingginya tingkat kekerasan akhir-akhir ini yang dilakukan keturunan kaum imigran di Eropa, banyak yang mengatakan bahwa multikulturalisme telah gagal mengelola keragaman di Eropa.

Di Indonesia sendiri, keragaman telah menjadi realita awal sejak bangsa ini berdiri, namun tantangan pengelolaannya memang tidak pernah surut.

Apakah konsep multikulturalisme sebagai konsep pedagogi memang tidak lagi dapat menawarkan solusi bagi pembentukan identitas kebangsaan Indonesia saat ini?

Konsep insurgent multiculturalism yang ditawarkan Henry Giroux mungkin bisa menjadi rujukan, yakni pendidikan multikulturalisme tidak hanya berhenti pada pengenalan 'puncak-puncak' tradisi dari sebuah etnik seperti pakaian adat, rumah adat, makanan, dan lain sebagainya.

Sebuah konsep yang digunakan untuk merumuskan ruang budaya baru, dengan ragam identitasnya tidak hanya diakui dan dihargai, namun juga melakukan interaksi dan negosiasi.

Konsep itu juga mendorong munculnya dialog dan kesadaran yang berbasis etika dan realita politik sehingga hubungan antara identitas dan kekuasaan juga ditelaah sebagai realitas dari multikulturalisme.

Giroux juga menekankan bahwa untuk konsep insurgent multiculturalism dapat diterapkan diperlukan guru yang mampu mengajak siswa mengeksplorasi perbedaan budaya melalui narasi, sejarah dan ragam sumber daya termasuk 'puncak-puncak' peradaban tadi.

Untuk itu, seorang guru juga perlu menyadari identitas dirinya dan memiliki keyakinan akan keragaman sebagai sumber belajar dalam mengasah kemampuan siswa mengenal, dan mengelola keragaman serta mengenal dirinya dalam bagian konteks keragaman yang lebih luas.

Harapannya, ruang kelas menjadi ruang yang aman dan terbuka bagi siswa dan guru melakukan dialog keragaman dalam rangka membantu siswa tidak hanya belajar, tetapi juga meneguhkan identitasnya.

Sehingga imajinasi akan sebuah bangsa Indonesia dapat hidup terus-menerus dan identitas seorang bangsa Indonesia memiliki makna mendalam yang tidak tunggal, menemukan ekspresi dalam bingkai kebinekaan dan demokrasi yang mapan dan stabil.