Selasa, 29 November 2016

Hijrah dan Frontier Spirit

Hijrah dan Frontier Spirit
Hasanudin Abdurakhman  ;   Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang; Bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta
                                                DETIKNEWS, 28 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ekonomi Asia Tenggara dikuasai oleh orang-orang dari etnis Tionghoa, keturunan dari orang-orang yang merantau dari daratan China. Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia, punya kemiripan dalam hal itu. Kenapa bisa begitu? Apa yang istimewa pada etnis ini sehingga mereka bisa begitu. Mungkin ada penjelasan soal itu dari sisi antropologi. Tapi saya lebih suka melihatnya dengan cara yang berbeda.

Dalam kunjungan ke Papua, saya banyak bertemu dengan orang Jawa. Ada yang ditugaskan oleh kantor tempat mereka bekerja. Tapi tidak sedikit pula yang datang sendiri, bekerja di berbagai bidang. Termasuk mereka yang bekerja di sektor informal, berjualan di pinggir jalan. Bersama mereka ada orang Bugis dan Makassar, dalam jumlah yang lebih besar. Mereka ini menguasai berbagai sektor ekonomi, khususnya sektor informal.

Tidak hanya di Papua. Kita bisa menemukan orang-orang Bugis dan Jawa bertebaran di seluruh Tanah Air. Sama halnya dengan orang Minang yang juga merantau ke seluruh Indonesia. Demikian pula dengan orang-orang Madura yang banyak merantau di Kalimantan.

Saya masih sering teringat dengan kampung saya. Di tahun 60-an, ketika orang tua saya membuka lahan di kampung baru, masih satu pulau dengan kampung asal mereka, ada juga orang-orang yang datang dari Jawa, bersama mereka membuka lahan. Pada mulanya hanya satu keluarga yang membuka lahan. Setelah ia berhasil, punya ladang sederhana, dan melihat prospeknya, ia kembali ke Jawa, mengajak yang lain. Menyusullah beberapa keluarga, melakukan hal yang sama. Kelak, lebih banyak lagi orang yang datang, sampai mereka membentuk 2 kampung, berisi orang-orang yang pindah dari Jawa.

Ada hal menarik soal perantau ini. Mereka umumnya berhasil, melebihi orang-orang yang merupakan penduduk asli di tempat yang mereka datangi. Tak jarang hal itu kemudian menimbulkan kecemburuan. Sayangnya, kecemburuan itu merujuk pada etnis.

Adakah etnis perantau? Adakah suku tertentu saja yang hidupnya suka merantau? Orang Minang dan orang Batak dikenal suka merantau. Tapi tentu saja ada juga yang tidak merantau. Sama halnya dengan orang China. Lebih banyak orang China yang tidak merantau dibanding yang merantau.

Yang saya lihat pada akhirnya bukan etnis, melainkan semangat. Hingga kini saya masih kagum dengan semangat orang-orang Jawa yang membuka lahan di kampung kami itu. Kita bisa bayangkan, di tahun 60-an, mereka perlu berhari-hari pergi dari Jawa waktu itu hanya ada kapal laut, itupun jumlahnya tak banyak. Entah berapa hari mereka harus menunggu sampai kapal berangkat. Setelah tiba di ibu kota provinsi, mereka harus meneruskan perjalanan lagi, untuk tiba di kampung saya. Setidaknya perlu 1 minggu untuk seluruh perjalanan.

Perjalanan para perantau dari China daratan yang menjadi nenek moyang etnis Tionghoa di Indonesia tentu lebih dahsyat lagi. Pendek kata, para perantau ini adalah orang-orang yang mau membuat langkah baru, meninggalkan ikatan-ikatan yang selama ini ada, mengambil risiko terhadap sesuatu yang tidak pasti. Tapi tentu saja bukan hanya itu yang mereka punya. Yang lebih penting adalah, mereka mau berjuang sampai berhasil.

Hal-hal itu adalah komponen yang sangat penting untuk sukses. Melepaskan diri dari zona nyaman, dan mau mengambil risiko. Tapi tidak hanya itu. Kalau hanya itu saja, kesannya akan seperti orang nekat tanpa perhitungan. Elemen lainnya adalah, kemauan untuk bekerja sampai tuntas, sampai berhasil.

Dalam konteks sejarah Amerika, semangat seperti digambarkan di atas disebut frontier spirit. Semangat itulah yang membangun Amerika, menjadikannya negara besar. Pada dasarnya semangat itu ada dalam setiap peradaban, dan sepanjang sejarah. Dalam khasanah sejarah Islam kita mengenal konsep hijrah, yang menjadi momentum penting dalam kegemilangan Islam.

Artinya, soal perantauan ini sebenarnya bukan soal etnis. Ini adalah soal spirit tadi. Soal orang-orang yang mau bertarung dengan segenap kemampuan sampai berhasil. Jadi, tidak ada alasan untuk cemburu pada etnis tertentu yang lebih berhasil. Setiap orang, etnis apapun, bisa berhasil, selama mereka mau bekerja dengan spirit tadi.

Tapi apakah setiap orang harus hijrah dulu untuk bisa maju dan sukses? Sebenarnya tidak. Hijrah itu hanya gejala yang terlihat. Ia bukan sebab. Orang yang berani hijrah adalah orang yang punya spirit tadi. Jadi, hijrah itu hanya akibat. Karena itu, orang yang tidak merantau pun banyak pula yang sukses.

Yang perlu dilakukan lebih dahulu adalah hijrah dalam pikiran. Mengubah pola pikir, dari yang jumud ke pikiran maju. Menjadi kreatif, mau mengambil risiko, dan mau berjuang sampai tuntas. Termasuk dalam hal ini adalah membuang jauh-jauh rasa permusuhan saat melihat kesuksesan orang lain, atau orang dari etnis lain. Kita bisa sukses seperti mereka. Kita hanya perlu bekerja keras seperti mereka. Itulah pola pikir pemenang.