Senin, 18 Mei 2015

Biennale Venesia, Hegemoni Budaya

Biennale Venesia, Hegemoni Budaya

Jean Couteau   ;  Penulis kolom “Udar Rasa” Kompas Minggu
KOMPAS, 17 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seni rupa masa kini tidak lagi sibuk dengan representasi dunia, dan tidak begitu hirau dengan ekspresi subyektivitas sang seniman. Yang kian dikemukakannya bukan lagi ”statement” biasa (pernyataan), seperti di dalam seni bernada politik masa lalu, tetapi ”pertanyaan” atau bahkan ”pemertanyaan” (meta-questioning) perihal topik-topik, seperti jender, sejarah, komunikasi, hubungan dengan lingkungan, dan hibridisme budaya, yang semuanya semakin kompleks akibat benturan ruang, waktu, dan citra yang mencirikan globalitas kita. Jadi, seni kontemporer berfungsi sebagai sarana penyadaran bagi masalah kekinian global.

Di antara ajang seni kontemporer itu, yang paling terkenal ialah Biennale Venesia, yang pajangan dari negara-negara peserta tidak pernah sepi isu yang menghebohkan. Misalnya yang tahun ini ramai dibicarakan ialah instalasi berupa masjid buatan—lengkap dengan mimbar, mihrab, sajadah, dan Al Quran—yang mewakili Islandia. Karya Christoph Buche ini meneguhkan secara simbolis ”hak” Islam untuk hadir di negeri Barat sebagai keyakinan biasa di antara keyakinan-keyakinan lainnya.

Tampilan Indonesia di Venesia juga menarik: Yang dipertanyakan tidak kurang dari tatanan kultural dunia. Tampilan itu berupa sebuah Trokomod, sebuah kapal imajiner, berbentuk setengah komodo setengah kuda troya, yang seolah datang merapat di Pelabuhan Venesia—pelabuhan yang merupakan pintu masuk terpenting rempah-rempah Nusantara ke Eropa dari abad XII sampai abad XVI. Namun, Trokomod ini tidak lagi membawa rempah seperti kapal zaman dahulu kala. Senada dengan mitos kuda troya raksasa yang di dalamnya penuh tentara, Trokomod ini menyusupkan Indonesia di tengah dunia Barat. Tentaranya di sini ialah aneka artefak yang melambangkan bagaimana Indonesia melihat dirinya serta melihat dunia Barat.

Untuk memahami arti yang sesungguhnya dari pajangan ini, harus kita ingat bahwa sampai abad XVI, para saudagar Eropa mendapatkan rempah melalui suatu rantai pelabuhan dagang (Venesia, Alexandria, Hormuz, Surat, dan Malaka) berikut rantai pusat kekuasaan (di Arab, Persia, India Utara, Dekkan, dan Malaya) yang pada galibnya bermartabat politik-kultural yang setara. Dunia kala itu bersifat multi-polar secara ekonomi, politik, dan kultural.

Pelayaran Portugis-Spanyol pada abad XV-XVI dan kolonisasi Amerika merombak perimbangan ini. Teknik perkapalan baru memungkinkan para pedagang dari Eropa membeli rempah langsung dari para produsen Nusantara dan kemudian memaksakan monopolinya. Maka, mata rantai dagang di atas terputus. Dan kesetaraan digantikan dengan keunggulan Eropa/Barat dalam segala bidang: pertama ekonomi, lalu politik, dan akhirnya kultural. Hingga lahirlah kuasa total dari Barat, selain atas teknik dan ekonomi, juga atas historiografi, konseptualisasi, dan, ujung-ujungnya, seluruh seni-budaya dunia.

Karya Trokomod dari Heri Dono meneguhkan kehadiran Indonesia. Tadinya seolah ”tidak eksis”, kata Heri. Tetapi, pesannya tidak sekadar nasionalis. Memang! Dia secara simbolis menganjurkan agar Indonesia menolak persepsi ”Orientalis” yang dicamkan oleh penjajahan dan kini masih menggenangi pemikiran kita. Persepsi itu, harap dia, hendaknya digantikan dengan citra diri lebih Indonesia-sentris (misalnya video kekinian yang menyertai Trokomod), dan dilengkapi dengan pandangan terhadap dunia Barat yang juga Indonesia-sentris, semacam ”Occidentalisme” untuk menandingi ”Orientalisme”. Tetapi, pesan Heri Dono lebih jauh lagi. Melampaui keindonesiaan, dia menegaskan bahwa hegemoni Barat hampir-hampir lewat, dan bakal ditumbangkan oleh aneka kuda troya dari belahan dunia lainnya.

Oleh karena itu, sirat dia, kini telah tiba waktunya untuk memperjuangkan kembali suatu ragam multilateralisme sebagaimana berlaku pada masa pra-kolonial, yaitu pada masa kejayaan bersama, baik di Venesia di Barat—tempat bienial—maupun di Surat, Majapahit, Kwantung, dan lain-lain di Timur. Multilateralisme gaya baru itu pada gilirannya bakal menjadi landasan pembentukan historiografi, konseptualisasi, dan seni-budaya yang betul-betul ”merdeka”, di mana ruang budaya dunia akan bersanding dan bertanding ”sama-rata” satu terhadap lainnya.

Tawaran Heri Dono ini penting, oleh karena kini hegemoni Barat memang sudah surut drastis di dalam bidang ekonomi, dan dengan sendirinya di dalam jangka menengah akan surut pula di dalam bidang politik dan kemudian kultural. Dengan sendirinya, Tiongkok, India, Indonesia, dan negara-negara lain akan semakin menuntut agar ”hadir” di gelanggang dunia. Perubahan itu menggandung risiko radikalisme-radikalisme baru. Maka, harus dihadapi secara sadar-terbuka dan tanpa dengki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar