Senin, 25 Mei 2015

Kinerja Menteri Susi dalam Angka

Kinerja Menteri Susi dalam Angka

Kadir Ruslan  ;  Bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS)
KORAN TEMPO, 25 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Belakangan ini, isu perombakan kabinet (reshuffle) bertiup semakin kencang. Kinerja sejumlah menteri Kabinet Kerja dinilai tidak memuaskan. Meski lumrah, reshuffle galibnya tidak hanya didasarkan pada pertimbangan politik, apalagi semangat bagi-bagi kekuasaan. Dalam masalah ini, evaluasi secara obyektif terhadap kinerja menteri harus dikedepankan.

Berembus kabar bahwa salah satu menteri yang bakal diganti adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Jika isu tersebut menjadi kenyataan, tentu amat disayangkan. Pasalnya, secara obyektif, Menteri Susi merupakan salah satu menteri dengan kinerja terbaik.

Data statistik merupakan instrumen paling ampuh untuk melakukan evaluasi dan penilaian secara obyektif. Secara statistik, kinerja apik Menteri Susi sedikitnya dapat ditunjukkan melalui tiga hal: pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor perikanan, peningkatan ekspor komoditas perikanan, dan penurunan harga ikan segar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, pertumbuhan PDB subsektor perikanan (year-on-year) sepanjang kuartal IV 2014 dan kuartal I 2015 paling moncer dibanding subsektor lain yang tercakup dalam sektor pertanian—yang meliputi subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. BPS mencatat, pada kuartal IV tahun lalu, pertumbuhan subsektor perikanan mencapai 8,91 persen dibanding kuartal yang sama pada 2013. Padahal, pada saat yang sama, sektor pertanian hanya tumbuh 2,77 persen.

Sementara itu, pada kuartal I 2015, PDB perikanan kembali tumbuh mengesankan—di tengah perlambatan ekonomi nasional—dengan angka pertumbuhan mencapai 8,64 persen dibanding kuartal yang sama pada 2014. Angka tersebut jauh di atas pertumbuhan sektor pertanian yang hanya 3,80 persen.

Kinerja pertumbuhan subsektor perikanan yang mengesankan tersebut sejatinya secara tidak langsung memberi konfirmasi bahwa hasil tangkapan para nelayan terus mengalami peningkatan secara signifikan, dan suplai ikan segar di pasar cukup melimpah dalam enam bulan terakhir.

Tidak mengherankan jika ikan segar termasuk komoditas kelompok bahan makanan yang menyumbang deflasi (penurunan harga) cukup signifikan dalam dua bulan terakhir. BPS melaporkan, pada Maret dan April 2015, komoditas ikan segar menyumbang deflasi masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,02 persen.

Setali tiga uang. Kinerja ekspor komoditas perikanan juga sangat mengesankan. Bayangkan, BPS mencatat, pada kuartal I 2015 nilai ekspor perikanan sudah menembus US$ 906,77 juta. Itu artinya, nilai ekspor perikanan pada 2014 yang mencapai US$ 3,1 miliar kemungkinan besar bakal terlampaui.

Faktanya, kinerja mengesankan Menteri Susi yang ditunjukkan oleh angka-angka statistik juga sejalan dengan penilaian yang diberikan oleh publik. Hasil Survei Indo Barometer yang dirilis pada April lalu, misalnya, menempatkan Menteri Susi sebagai menteri berkinerja terbaik menurut persepsi publik dengan poin sebesar 24,1 persen (CNN Indonesia, 6 April). Karena itu, jika memang pemerintah benar-benar serius dan punya komitmen yang kuat meningkatkan kinerja sektor kelautan dan perikanan, Menteri Susi semestinya tetap dipertahankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar