Senin, 25 Mei 2015

Diaspora dari Kampung Sendiri

Diaspora dari Kampung Sendiri

I Wayan Westa  ;  ( Tanpa Penjelasan )
KOMPAS, 24 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                
Saat dunia dikondisikan makin datar oleh teknologi nirkabel, di mana manusia dari penjuru dunia saling terhubung dalam hitungan detik, nun di pojok dusun kecil, di tengah-tengah kebun salak, di Desa Sibetan, tak jauh dari kaki Gunung Agung, Karangasem, Bali, kita masih sempat membaca karya sastra Jawa Kuna terbaru karya pujangga gunung bernama Guru Made Degung. Di awal milenium ini, tepatnya tahun 1998,dia menyelesaikan dengan sempurna Kakawin Ekadasasiwa.

Degung menganggit cerita indah tentang berlapis ritus untuk pemujaan pada 11 Rudra, personifikasi Siwa dari 11 penjuru dunia untuk harmoni semesta. Dari segi bahasa dan konvensi, apa yang ditulis Made Degung tidak beda dengan kisah para ”leluhurnya” di Jawa, saat mana di abad ke-9, tepatnya di bulan Agustus 1084 Masehi, Mpu Yogiswara menulis Kakawin Ramayana dengan amat memukau. Ramayana yang dibangun dengan prosedi persajakan Jawa Kuna merupakan karya sastra terpanjang yang ditulis pujangga Nusantara. Dijalin dalam 26 sargah, 2.778 bait.

Dari karya Made Degung kitamembaca benang merah tentang geokultur Jawa klasik, dari era-era kerajaan Hindu Jawa, yang sampai saat ini tetap menjadi oase kebijaksanaan klasik di Bali. Begitu pula saat sahabat kami,sastrawan Cok Sawitri, mengadaptasi Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular menjadi novelenak dibaca. Karya yang ditulis dari era puncak Prabhu Hayam Wurukdari Kerajaan Majapahit ini mendapat makna penting dalam membangun fondasi dasar perjalanan bangsa. Di titik ini ”tantularisme” telah merangkai semangat pluralisme menjadi mosaiknan indah.

Dari pikiran sinkritik Mpu Tantularlah payung bhinneka tunggal ika itu dirajut, untuk seterusnya memberi setiap ruang batin bangsa ini bertumbuh dalam diaspora salingbertemali, terhubung dalam ruang-ruang lebih agung memuliakan manusia sejagat, bahwa di puncak kebinekaan itu tiada kebenaran mendua, semua tunggal adanya.

Dan di saatpenghargaan pada pluralismemakin mengering, didesak pikiran-pikiran monolitik, novel Sutasoma, adaptasi Cok Sawitri, menjadi penting. Penting karena ia sanggup menjadi jembatan untuk generasinya,di mana mereka takbisa lagi mengaksessemangatitu dari bahasasumber: bahasa Jawa Kuna.

Cok Sawitri telah mendekatkan suara Tantular kembali, di ranah-ranah hidup lebih urban, dalam diaspora kebangsaan yang senantiasa berdinamika, saling berkelindan, dalam ego saling menafikan. Dan novel ini merangkai kembalisebuah semangat,untuk menemukanmakna batin yang hilang dari bumi Nusantara. Dan Bali, hinggadetik ini, masih menjadi mosaik Nusantara kecil, di mana semangat multikultur itu masih dirawat, dijaga dengan magnitude cukup besar.

Benteng terbuka

Sejak keran turis dibuka lebar-lebar, Bali tak cuma menunjukkan diri sebagai ”desa dunia”, ia sekaligus menunjukkan sebuah pulau dengan benteng terbuka. Arus barang, arus modal, arus orang, dan percampuran kultur silang dunia tak terhindarkan, nyaris tanpa screening. Danarus itu pun berdiaspora menjadi kultur urban, di manatradisi dan lokalitas itu kianmerundung, rapuh. Dandi situ Bali tak cuma menunjukkan warna kian buram, tapi dengan nyata menunjukkan juga warna-warna dunia dari segala penjuru. Bagi saya itulah dunia urban. Saat mana semua ras, ideologi, pasar, kepentingan teramu di tanah Bali.

Bagaimana sastra menangkap diaspora itu? Bagaimana pengarang menyuarakan suara urban di tengah-tengahtradisi dan lokalitas yang kian buram, di tengah desa turis yang tak cuma dikunjungi para pelancong, orang suci, para pialang, tapi juga para bandit? Karena bom pun akhirnya meledak di tengah hiruk-pikukritual, hedonisme, dan semangat memanjakan tubuh.

Hari ini kita perlu membaca lebih dekat suara lokal dari duniadisebut ”Bali”, terlebih dalam dunia sastra modern. Tentu ada ribuan puisi, ratusan cerpen, dan puluhan novel yang mengambil setting dan temaBali, baik dalam bahasa asing, bahasa Bali, maupun bahasa Indonesia. Harus diakui, para penulis itu, ada yang menulisdari jarakdekat. Ada yang menulis dari jarak yang jauh. Pengertian jarakbukanlah sesuatu yang bisa diukur. Setiap pengarangterpaut jarak dari obyek yang hendak ditulis. Jarak itu meliputi jarak waktu, sejarah, kultur, sosiologi, psikologi, tradisi, lokalitas, bahasa,teks, dan beragam jarak lain.

Untuk jarak yang teramat dekat ini,di zamannya, AA Pandji Tisna adalah penyuarapaling sublim dari duniabernama Bali. Ia menulis dan berbicara tentang kampung halaman sendiri. Siapa saja sempat membaca novel Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935),Sukreni Gadis Bali (1936), I Swasta Setahun di Bedahulu (1938), dan I Made Widiadi(Kembali Kepada Tuhan) (1978). Tiga novel tersebut adalah novel-novel sebelum perang.Pandji Tisna teramat gamblang menghadirkanpsiko-sosial orang-orang Bali, ketika turisme belum menjadi ”raja” di Bali. Dari situ kita menemukan potret sosial masyarakat Bali sebelum perang. Pertarungan ego, libido kuasa, perang ilmu hitam, intrik kotor, karmapala adalah sisi yang paling sering dikemas dalam penulisan novel itu. Di titik ini, Pandji Tisna berhasil membahasakan lokalitas itu sebagai suara kemanusiaan bersama walau sebagaimana pengakuannya,iahanya bisa menulissaat iaberhadapanlangsung dengan realitas. Pendek katanovel-novel Pandji Tisna bertutur perihal jiwa zaman.

Pandji Tisna makin meredup manakala iadigojlok seabrek kesibukan sosial dan politik, dipaksa menggantikan ayahnya sebagai raja, untuk seterusnya di tahun 1946 ia melepas jabatan itu karena memeluk nasrani. Di tahun 1955 ia mengarangromanI Made Widiadi (Kembali Kepada Tuhan) yang bercerita tentang pengembaraan spiritual ke lintas agama, lintas keyakinan, dan lintas budaya. MadeWidiadi, orang Bali, tokoh utama roman ini,saat itu telah menjadi perantaulintas benua, lintas budaya, dan lintas keyakinan. Made Widiadi bolehjadi sosokPandji Tisna sendiri,hal manadi zaman sebelum perangdia telah berdiaspora ke lintas kebudayaan, dengan bacaanlumayan luas.

Pandji Tisna adalah sebuah wajah dunia Bali sebelum perang, di zaman raja-raja Bali sedang diadu domba pemerintah kolonial. Namun di ujung kini, di awal milenium dunia baru, saat keran turisme dibuka lebar-lebar, di kala tanah-tanah Bali menjadi rebutan pemilik modal, investasi demi investasi bergulir, Bali tentu menjadi dunia lain. Dunia urban di mana banyak sisi hidup orang Balimengalami keterpinggiran, sekaligus wajah perubahan yang belum tentu konstruktif. Patologi sosial, upacara yang jor-joran, kemacetan,sampah, krisis air bersih, adalah problem yang segera menjadi kerak jika tidak cepat dicarikan solusi.

Residu dan patologi sosial seperti ini dicatat dengan jujur cerpenis Gde Aryantha Soethama. Gambaran dunia lokal dan tradisi yang dirundung kering di tengah-tengah dunia urban Pulau Bali adalah sketsa buram, babak drama pedih yang ditampilkanhampir di setiap karya prosa Gde Aryantha Soethama. Karya-karya Gde Aryantha Soethama, sebagaimana diakui Dr I Nyoman Darma Putra, pengajar sastra Universitas Udayana, mengungkap dengan lembut kompleksitas konflik antara nilai-nilai tradisi dan modern di Bali. Citra Bali yang demikian luas dikenal sebagai pulau kahyangan tak tercela, acap menampilkan ironi dan kisah-kisah memilukan.

Kita bisa membaca gambaran buram inidari bukukumpulan cerpen bertajuk Mandi Api, yang meraih Khatulistiwa Literary Award 2006. Di sini, setelah membaca cerpen ”Kubur Wayan Tanggu”, ”Terompong Beruk”, ”Sekarang Dia Bangsawan”, ”Ibu GuruAnakku”,atau 21 cerpen yang termuat dalam buku Mandi Api menyiratkan ironijungkir balik bahwa pariwisata tak cuma diupayakan sebagai mesinpendulang dollar, tetapi juga menyisakan segunung persoalan pelik, semisal kesenjangan sosial, perdagangan seks, pencemaran lingkungan, keterpinggiran, seni yang dijual murah, perubahan gaya hidup, munculnya feodalisme baru, dan ironi kemanusiaan lainnya. Dan amatlah jelas, cerpen-cerpen Aryantha Soethama adalah karya yang lahir dari dunia urban, dunia yang tidak lagi monolitik atau satu warna.

Cerpen-cerpen Aryantha Soethama adalah dunia simpang jalan, manakala nilai-nilai tradisi, keluguan orang Bali, kesantunan kultur agraris berbenturan dengan modernitas, dunia yang secara perlahan membentuk diaspora baru, diaspora yang sampai kini terus menggelinding, yang mungkin akan melahirkan garis tegas tentang ”Bali Kini”, ”Bali Lain”, dan ”Bali Dulu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar