Senin, 23 Maret 2015

Armagedon

Armagedon

Trias Kuncahyono  ;  Penulis kolom “Kredensial” Kompas Minggu
KOMPAS, 22 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Demikianlah kata Sang Pengkhotbah, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya…ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” Dan, sekarang ini, adalah ”waktu untuk perang.” Berperang melawan tindak angkara murka, berperang melawan tindakan tidak berperikemanusiaan, dan berperang melawan kegelapan. Berperang untuk menciptakan perdamaian.

Umpama kata, inilah zaman peperangan antara kekuatan terang dan kegelapan; perang antara kekuatan kebaikan melawan kekuatan jahat. Apa yang terjadi di Suriah utara dan timur serta Irak utara menjadi contoh yang paling pas untuk menjelaskan peperangan antara kekuatan terang dan kegelapan. Di wilayah itulah, kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) mengumbar angkara murka dengan menyingkirkan siapa saja yang dianggap tidak sejalan dengan ideologi dan keyakinan, dengan kehendaknya.

Hingga Oktober tahun lalu, tak kurang dari 14 wartawan Irak dibunuh dengan berbagai macam cara, ada yang ditembak, dipenggal kepalanya, dan ada pula yang dibakar hidup-hidup. Tentu jumlah tersebut belum termasuk wartawan dari AS dan Inggris, kontraktor asal Jepang dan pilot Jordania yang dibakar hidup-hidup. Masih banyak lagi korban NIIS, baik itu tentara Irak, tentara Kurdi, para pekerja sosial, perempuan, bahkan anak-anak. Ratusan ribu orang mengungsi dan kelaparan.

Inilah horor yang paling menakutkan di abad ke-21. Kalau semua itu dilakukan atas nama agama, sungguh sudah hancur dunia ini; kasihanilah agama. Bukankah tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan untuk saling membunuh, untuk membenci orang lain? Bukankah semua agama mengajarkan perdamaian dan hidup baik? Memang, agama sering tampil dalam dua wajah yang saling bertentangan.

Dari satu sisi, agama merupakan tempat di mana orang menemukan kedamaian dan harapan yang kukuh. Dalam agama, banyak orang menimba kekuatan dan mendapatkan topangan berhadapan dengan penderitaan. Di sisi lain, agama sering dikaitkan dengan fenomena kekerasan (Haryatmoko, Etika, Politik dan Kekuasaan), Padahal, seperti sudah disebut di atas, agama mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan. Namun, manusia menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga menyulut kekerasan.

Masuk akal jika para pemimpin dunia pencinta damai, masyarakat dunia yang mendambakan kehidupan yang aman dan damai, saling menghormati sesama umat manusia, ramai-ramai mengecam apa yang dilakukan NIIS. AS dan sejumlah negara termasuk negara-negara Arab, bersama-sama mengerahkan kekuatan militer menggempur posisi NIIS.

Bahkan, Vatikan pun yang biasanya menentang penyelesaian secara militer, kini mendukung penggunaan kekuatan militer. ”Kita harus menghentikan genosida ini,” kata Uskup Agung Silvano Tomasi, utusan Vatikan di PBB Geneva.

Dunia, memang harus bersatu melawan kekuatan anti kemanusiaan, anti peradaban. Bukankah, tidak ada yang menginginkan bahwa ”yang baik akan kalah?” Kekuatan kejahatan harus dikalahkan dengan segala cara, seperti yang digambarkan dalam Armagedon, di mana kekuatan kebaikan akan melancarkan pertempuran terakhir melawan kekuatan jahat. Bila kekuatan kebaikan tak mampu mengalahkan kekuatan kejahatan, ini merupakan kegagalan kemanusiaan di zaman kini. Dan, inilah tragedi abad ke-21! ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar