Senin, 23 Maret 2015

Empati

Empati

Kristi Poerwandari ;  Penulis kolom “Konsultasi Psikologi” Kompas Minggu
KOMPAS, 22 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Mungkin banyak dari kita yang ngeri dan bertanya-tanya, mengapa begal motor marak di banyak tempat, melakukan kejahatan dengan sangat sadis, hingga orang luka parah bahkan kehilangan nyawa.

Kita dapat berdiskusi tak henti, akar persoalannya mungkin kemiskinan, persaingan dalam lapangan kerja, tiadanya peneladanan, survival hidup, dan banyak lainnya. Tetapi, secara psikologi, ada pertanyaan lebih mendasar: meski alasan-alasan di atas, mengapa harus melakukan kejahatan berkekerasan yang sadis?

Satu konsep paling dasar yang tampaknya harus disinggung adalah empati. Empati bicara mengenai ”kemampuan untuk melihat dan merasakan dunia dari sudut pandang dan penghayatan orang lain”. Dapat dipilah dalam ”empati kognitif” mengacu pada kemampuan manusia untuk mengambil perspektif mental dari orang lain dan ”empati emosional” yang menunjuk pada kemampuan untuk dapat menghayati perasaan yang dirasakan oleh orang lain (Smith, 2006).

Keduanya berbeda. Saya dapat mencoba menjelaskan mengapa orang miskin mencuri, misalnya, ”ia terpaksa mencuri karena merasa tidak punya pilihan lain, sementara ia harus makan, dan anak-anaknya harus makan, dan ia sudah beberapa kali mencuri dan tidak pernah ketahuan, jadi ia memantapkan perilaku mencuri”. Ini contoh mengenai empati kognitif. Bila saya berpikir ”kasihan sekali ya orang itu, terpaksa harus mencuri. Kalau saya ada di posisinya, pasti pusing dan bingung sekali melihat bayi menangis karena tidak memperoleh susu yang cukup, anak-anak lapar dan tidak bisa sekolah…”, ini adalah contoh empati emosional.

Pemahaman kognitif

Empati atau pemahaman kognitif diperlukan agar kita dapat bertahan dalam dunia sosial yang sangat kompleks. Kita belajar dari dan menganalisis situasi yang dihadapi orang lain atau ada di hadapan kita untuk dapat mengatasi persoalan.

Bila orang kuat dalam empati atau pemahaman kognitif tapi tidak punya empati emosional, ia dapat menjadi orang yang kompetitif, tidak peduli, dan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang merugikan orang lain. Ini karena fokus perhatiannya adalah mencari pengetahuan untuk dapat menemukan peluang dan cara-cara menguasai kompleksitas hidup, bagaimana bisa memperoleh yang paling maksimal dengan cara yang paling strategis.

Orang yang kuat dengan dominasi pengetahuan kognitif, tetapi berkekurangan empati emosional, mungkin tidak mengalami kebingungan menghadapi dunia sosial. Bisa jadi ia justru punya keterampilan sosial yang tinggi dan terlihat menarik. Mereka punya pemahaman kognitif yang baik sehingga memberikan kesan seolah sensitif atau peduli akan emosi orang lain, tetapi sebenarnya tidak demikian. Karena tidak punya empati emosional, orang-orang seperti ini tidak punya hambatan untuk mengambil manfaat atau melukai orang lain, sulit merasa bersalah, mudah berbohong, tidak punya perasaan (Millon, Grossman, Millon, Meagher, & Ramnath, 2004).

Ada pula orang yang mungkin tidak memiliki empati kognitif ataupun empati emosional. Orang seperti ini mungkin mengalami kebingungan memahami kehidupan, tidak mengerti bagaimana harus menipu dan memanipulasi orang lain. Tetapi, ia juga tidak mampu menghayati perasaan dan pengalaman orang lain. Mungkin saja ia melakukan kejahatan atau melukai orang lain. Tetapi, karena bukan orang yang pandai memanipulasi dan mengelabui, barangkali ia jadi orang suruhan saja, atau ikut-ikutan dalam kelompok, bukan jadi pemimpin atau otak kejahatan.

Empati emosional

Jadi, empati yang selama ini sering kita bahas sebenarnya menunjuk pada empati emosional. Tidak cukup untuk memiliki empati kognitif saja. Untuk hidup yang manusiawi, sangat penting untuk kita juga memiliki empati emosional, bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain: ikut gembira ketika orang lain mengalami keberhasilan dan mampu menghayati sakit dan kesedihan yang dirasakan orang lain. Memang empati emosional yang sangat tinggi bisa mengganggu juga. Bayangkan bila kita mudah sekali tertular emosi negatif (sedih, takut, marah) atau sangat peka akan situasi yang dihadapi orang lain. Mungkin itu akan mengganggu dalam memfokuskan perhatian pada tugas-tugas kita dalam mengatasi persoalan yang kita hadapi sendiri.

Bagaimana penjelasannya, hingga ada orang yang tidak memilikinya, dan mampu melakukan hal-hal sangat buruk kepada orang lain? Ada yang menjelaskan, kepribadian anti sosial mungkin merupakan strategi perkembangan dari individu yang rentan secara genetik akibat dipicu pola pengasuhan yang kacau atau buruk (Murphy & Stich, 2000; Stevens & Price, 1996). Orang yang punya keterampilan tinggi memahami kondisi mental orang lain tetapi tidak punya empati emosional diduga mengembangkan karakteristiknya sebagai bentuk strategi hidup.

Otak-atik kita yang dimulai dengan keheranan menjelaskan fenomena begal motor akhirnya merembet pada kasus-kasus kejahatan lain hingga kejahatan terorganisasi. Pelaku begal bisa jadi (meski tidak selalu) orang yang rendah dalam pemahaman akan situasi mental dan dalam empati akan kondisi emosional orang lain. Tetapi, orang yang berkehendak melakukan kejahatan canggih barangkali justru orang yang punya kemampuan tinggi dalam memahami kondisi mental orang lain.

Muncul pertanyaan-pertanyaan baru: apakah penjelasan tidak ada atau hilangnya empati emosional selalu harus dikembalikan pada pola pengasuhan (individu) di masa kanak? Bagaimana dengan peran lingkungan sosial atau konteks lebih makro di masa remaja atau dewasa? Mengapa bahkan ada orang yang bersusah payah memilih untuk bergabung dengan kelompok yang mengambil ideologi kekerasan sebagai dasar eksistensinya (seperti NIIS)?

Memang masih banyak yang belum dapat dijelaskan. Diperlukan psikologi yang interdisiplin, yang terpapar pada berbagai cara berpikir dari disiplin ilmu lain, untuk dapat menjelaskan berbagai fenomena sosial khusus secara lebih komprehensif, dan menelurkan rekomendasi penanganan yang lebih tepat. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar