Selasa, 29 April 2014

Setop Stigma!

Setop Stigma!

Reza Indragiri Amriel ;   Anggota Asosiasi Psikologi Islami
SINAR HARAPAN, 28 April 2014

Artikel ini juga dimuat di JAWA POS 28 April 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                             
Sah sudah! Tepat dugaan saya! Kalau boleh mengutarakan rekomendasi paling ekstrem, saya ingin sekali menyarankan bocah hebat—yang menjadi sasaran kebiadaban petugas kebersihan di Jakarta International School (JIS)—dan keluarganya sesegera mungkin angkat kaki dari negeri ini.

Bukan karena saya tidak menaruh hati, apalagi benci kepada si bocah hebat tersebut. Justru karena saya tidak yakin, betapa pun ia telah sedemikian perkasa menaklukkan rasa takutnya dengan berani mengutarakan tragedi yang dialami, cepat atau lambat akan lalu-lalang ungkapan-ungkapan bermuatan stigma ke bocah hebat tersebut.

Simak saja anggapan negatif bahwa ibunda si bocah hebat tersebut berelasi buruk dengan darah dagingnya sendiri. Itu karena si bocah hebat ternyata memilih bercerita ke Captain America, tokoh yang tidak nyata, ketimbang ke figur yang melahirkannya. Jelas, itu anggapan ngawur. Lazimnya, orang-orang yang terpapar trauma perilaku mereka cenderung mengunci mulut rapat-rapat dan mengisolasi diri.

Demikian pula dengan si bocah hebat. Butuh waktu baginya untuk sedikit memulihkan kondisi psikisnya hingga yakin, tetap ada satu dua orang yang sudi menyodorkan telinga dan hatinya guna menyimak penuturan si bocah hebat itu.

Strategi menghadirkan Captain America guna memancing anak bercerita merupakan langkah tepat. Dunia anak identik dengan bermain, imajinasi. Kedekatan yang si bocah hebat rasakan dengan tokoh Captain America di satu sisi, tidak sepatutnya disimpulkan sebagai kegagalan ibu si bocah hebat di sisi lain dalam menjalankan peran orang tua secara efektif.

Baca pula posting di sebuah akun Facebook milik seseorang yang menjejerkan namanya dengan foto Bung Karno. Mengawali posting-nya dengan satu kata serapah, ia lalu mengkritik biaya pendidikan di JIS yang mencapai puluhan juta rupiah. Sampai di situ semua masih bisa diterima akal.

Anggap saja si pemilik akun adalah anak muda, kritikus sosial yang punya impian memutar orbit Bumi ke arah kebalikannya. Tapi selanjutnya, zig-zag nalar politisnya menjadi urakan. Si empunya akun menyatakan dukungannya terhadap para pelaku kekerasan seksual di JIS, bahkan menggelari mereka sebagai “pahlawan bangsa”.

Logika yang kacau-balau? Lidah (jemari) yang meracau? Apa pun itu, saya tidak menemukan pembenaran barang sedikit pun terhadap orang yang melontarkan kritik—tepatnya hujatan—sosial, lalu menutupnya dengan sanjungan bagi manusia-manusia laknat yang telah menjadikan anak-anak sebagai sasaran kekejian mereka.

Dua contoh di atas sesunggunya bukti kebenaran pernyataan Albert Bandura. Tokoh psikologi itu pada suatu masa berteori, mana kala hukum pidana kehilangan tajinya memunculkan efek jera, adalah sanksi sosial yang kemudian bisa diharapkan lebih sakti melumpuhkan para penjahat agar tidak mengulangi perbuatan mereka. Stigmatisasi adalah salah satu bentuk sanksi sosial itu.

Persoalannya, mengapa “sanksi sosial” sedemikian munkar justru ditujukan kepada si bocah hebat di JIS? Memang luka di tubuhnya kelak menutup kembali, tapi tidak demikian dengan cedera batin. Trauma itu bisa jadi mengendap selamanya.

Kini, ketika ia bersama orang-orang yang peduli padanya tengah bersusah payah mencoba membangun ketangguhan psikis menghadapi kenangan traumatis itu, tiba-tiba muncul “manusia-manusia” yang seakan tidak lagi mempunyai kemanusiaan mereka. Mereka, dalam ingatan saya yang mengacu pada hadis Nabi, laksana makhluk yang menampakkan tanduknya di pengujung petang menjelang magrib.

Mereka yang melontarkan stigma kepada si bocah hebat sudah sepantasnya tahu, tidak sedikit korban kekerasan seksual yang setelah dewasa menjelma sebagai pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Ada amarah, kebencian, kesedihan, dan sebutan-sebutan lainnya yang identik dengan sakit hati yang bermukim dalam diri, menunggu waktu bisa dilampiaskan kembali. Memang, hanya sebagian yang bernasib sedemikian buruk. Sebagian lagi, kendati telah melalui episode hidup yang begitu buruk, mampu tumbuh dewasa menjadi individu penyintas yang hidup produktif.

Salah satu faktor pembeda antara kedua kelompok individu tersebut adalah dukungan sosial. Anak-anak yang tetap memperoleh dukungan sosial terbukti gilang-gemilang melewati fase berat dan kelak menjadi petarung yang aktif menangkal jatuhnya anak-anak lain ke penderitaan serupa.

Jika penghakiman-penghakiman sosial berupa stigmatisasi terus berkeliaran, jelas ini tidak bermanfaat bagi pemulihan si bocah hebat. Ia terus-menerus diposisikan sebagai korban, sebutan untuk manusia yang berada di bawah. Ia tak putus-putus dipandang sosok yang kehilangan keberdayaannya. Ia, yang darahnya masih mengalir dan napasnya masih berembus, dipaksa mati dengan palu godam verbal yang dihantamkan berulang kali ke kepalanya.

Itu semua yang membuat saya, sekali lagi, ingin sekali menyarankan si bocah hebat dan orang tuanya segera berkemas dan meninggalkan negeri yang banyak warganya merupakan titisan kaum jahiliyah ini, kaum yang menyikapi aksi mengubur bayi hidup-hidup sebagai kebiasaan lumrah!

Pasti ada rahasia yang Tuhan kirim dengan menguji si bocah hebat itu. Ujian yang apabila—saya yakin—berhasil diatasi, akan melontarkannya ke kedudukan mulia.

Sayangnya, selalu ada pihak yang tidak menghendaki terealisasinya janji Zat yang mahakasih dan mahacinta itu. Pihak itu menghampiri dengan menimpakan beban tambahan ke diri bocah hebat. Ia, pihak itu, tanpa sadar barangkali tengah memamerkan kelemahan, sekaligus keburukan dirinya pribadi. Ia, yang karena tidak berpengharapan menjadi penghuni Firdaus, akhirnya memilih menyabotase orang lain agar masuk ke lembah kehinaan.

Untuk itu, “jika tidak mampu mengucapkan kebaikan, setidaknya jangan berbicara”! Tidak ada pepatah lain yang lebih relevan ditujukan kepada para “hakim” yang mengayun-ayunkan palu stigmanya ke si bocah hebat dan anak-anak lain yang juga berjuang menjadi penyintas.

Bait “Ben” yang dinyanyikan mendiang Michael Jackson ini sesuai benar dengan suasana hati saya. Kini, dengan seutuh jiwa, saya bisikkan lirik lagu itu ke si bocah hebat dan ribuan bahkan mungkin jutaan anak lainnya yang juga harus terlebih dahulu menapaki cerita kelam sebelum menjadi pemenang.

“Most people would turn you away I don't listen to a word they say… If you ever look behind and don't like what you find there's something you should know, you've got a place to go...” Allahu a’lam.