Rabu, 30 April 2014

Analisis Akuisisi BTN

Analisis Akuisisi BTN

Mutamimah  ;   Dosen Fakultas Ekonomi Unissula
SUARA MERDEKA, 29 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
DI tengah isu politik yang hangat, masyarakat dikejutkan rencana akuisisi PT Bank BTN Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk. Pihak yang setuju beralasan bahwa akuisisi itu perlu guna menghadapi persaingan berkait kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Melalui akuisisi diharapkan kedua bank bisa makin besar sehingga lebih siap bersaing dengan bank lain, terutama bank asing.

Adapun pihak yang tak setuju berpendapat akuisisi tidak masuk akal mengingat segmen dua bank itu berbeda, bahkan bertolak belakang. Bank BTN bergerak dalam sektor ritel, sementara Bank Mandiri korporasi. Mengapa rencana akuisisi itu memunculkan pendapat pro dan kontra? Haruskah ada akuisisi bank tersebut?

Akuisisi merupakan pengambilalihan (take over) sebuah perusahaan dengan cara membeli saham atau aset perusahaan, namun nama perusahaan yang dibeli tetap ada. Contoh HM Sampoerna yang diakuisisi Philip Morris, Kecap Bango yang dibeli Unilever Indonesia, Carrefour Indonesia yang dibeli Chairul Tanjung, dan klub sepak bola asal Italia, Inter Milan yang diakuisisi Erick Thohir.

Akusisi dapat didukung sepanjang bermanfaat untuk semua stakeholder (pemangku kepentingan), yaitu perbankan, pemegang saham minoritas, karyawan, nasabah, masyarakat, dan tak ada satu pun yang dirugikan. Bank BTN adalah bank yang mayoritas sahamnya dimiliki rakyat, diwakili pemerintah yaitu 61,4%, badan usaha asing 25,45%, serta sisanya milik perorangan, karyawan, reksa dana, dana pensiun, asuransi, dan koperasi.

Sering terjadi rencana akuisisi bank diikuti penolakan, semisal karyawan atau nasabah berunjuk rasa. Ada beberapa alasan yang memicu kondisi itu. Pertama; asymmetric information. Dalam perbankan bisa terjadi ketidakseimbangan informasi, yaitu antara informasi yang dimiliki eksternal dan internal. Biasanya, internal memiliki lebih banyak infomasi ketimbang eksternal. Keminiman informasi yang dimiliki masyarakat dapat menimbulkan prasangka negatif terhadap rencana akusisi.

Kedua; ada resistensi dari karyawan/manajer dan biasanya terwujud dalam penolakan rencana akuisisi. Ada kekhawatiran beberapa posisi/jabatan strategis hilang atau berpindah ke pihak lain. Bahkan sebagian karyawan khawatir di-PHK mendasarkan alasan demi efektivitas dan efisiensi.

Perlu beberapa persiapan dan langkah supaya rencana akuisisi bisa diterima semua pihak. Pertama; rencana itu harus dikomunikasikan secara transparan kepada semua pemangku kepentingan supaya mereka memahami tujuan akuisisi, termasuk konsekuensinya. Akuisisi bertujuan meningkatkan aset bank, mengakselerasi pertumbuhan bisnis, menjadikan harga kredit lebih murah, memperluas jangkauan pemasaran, dan menurunkan risiko. Walaupun dua bank (dalam kasus ini Mandiri dan BTN) punya segmen berbeda, akuisisi tak masalah sepanjang keduanya bisa menyinkronkan visi dan misi.

Perbedaan segmen pasar dalam satu atap perbankan justru menjadikannya lebih kuat menghadapi persaingan, bahkan jadi salah satu wujud diversifikasi. Akuisisi juga wujud sinergitas karena menghasilkan tingkat skala ekonomi sehingga cost lebih rendah, termasuk biaya penentuan kredit (pricing) kepada nasabah. Strategi biaya bunga rendah secara otomatis meningkatkan minat nasabah/kreditur.

Harmonisasi

Kedua; bank yang diakuisisi mempunyai kemiripan budaya, nilai-nilai, dan falsafah yang tidak bertolak belakang. Manajer harus bisa mengharmonisasikan semua itu sehingga operasional bank pascaakuisisi tetap berjalan baik, bahkan lebih baik. Ke depan, harus ada jaminan tidak bakal terjadi benturan budaya antara BTN dan Mandiri. Komitmen itu harus dijaga dengan baik sehingga tujuan akusisi cepat terwujud.

Ketiga; analisis akuisisi harus dilakukan dengan teliti, tepat, dan mengikuti prosedur mengingat akuisisi sejatinya strategi yang penuh risiko. Keberhasilan strategi akuisisi sangat bergantung pada ketepatan analisis dan kepatuhan terhadap prosedur. Dalam memilih mitra yang mengakuisisi tentu perlu memiliki bank yang punya rekam jejak baik, terutama berkait strategi akuisisi.

Jadi, sejak awal harus diidentifikasi dengan baik segi positif dan negatifnya, keunggulan dan kelemahannya guna mengantisipasi dampak negatif yang mungkin terjadi. Selain itu, menyiapkan solusi terbaik (win-win solution) supaya tidak ada penolakan dari pemangku kepentingan, termasuk resistensi dari manajer/karyawan bank.

Keempat; dasar analisis akusisi bukan sekadar sisi keuntungan keuangan semata melainkan juga perlu memperhitungkan potensi dan prospek bisnis strategis pada masa mendatang. Selain itu perlu berlandaskan semangat value creation. Jika hal ini dilakukan maka setelah proses akuisisi, bank tersebut dapat membukukan keuntungan lebih besar sehingga bisa lebih menyejahterakan karyawan dan pemangku kepentingan yang lain.

Andai akuisisi sebuah bank hanya mendasarkan pertimbangan dan motivasi keuangan dan keuntungan material maka keuntungan yang diperoleh hanya bersifat jangka pendek, dan berisiko merugikan pemangku kepentingan. Tiap proses akuisisi seharusnya bisa mentransformasikan tiap nilai tangible yang diperoleh menjadi lebih terukur dan bernilai sehingga terwujud sebuah keberlangsungan.