Selasa, 29 April 2014

Restorasi dan Revolusi Mental

Restorasi dan Revolusi Mental

Ahmad Baedowi  ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA INDONESIA, 28 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
ADA pernyataan menarik dari Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) yang juga calon presiden dari PDIP. Ketika didesak oleh beberapa kalangan dan wartawan tentang visi dan misi seorang capres, dengan gaya khasnya Jokowi menjawab bahwa saat ini yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar visi dan misi, melainkan perubahan sikap, yaitu revolusi mental. Bangsa yang besar dan memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan ini, kata Jokowi, harus bisa berubah dari kebiasaan berpikir negatif ke arah yang lebih positif. Tanpa perubahan cara pandang ini, Indonesia diyakini tak akan mampu mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil dan sejahtera.

Kata ‘revolusi mental’ mengesankan akan ada usaha yang sungguh-sungguh dan sangat serius dari Jokowi, jika ia nanti terpilih sebagai presiden, untuk mengubah cara pandang masyarakat. Namun, pertanyaannya ialah dari sektor dan aspek apa kira-kira Jokowi harus memulai? Karena berkaitan dengan mentalitas, titik awalnya harus dimulai dari pendidikan. Bukan sebatas membentuk karakter melalui jargon pendidikan karakter, melainkan jauh dari itu ialah bagaimana menteri pendidikan yang akan ditunjuknya nanti harus memiliki cara pandang yang sama dengan Jokowi, terutama dalam mengevaluasi sekaligus mengkritisi setiap kebijakan pendidikan yang antisosial dan antiperubahan.

Pendidikan harus memiliki road map yang jelas dan komprehensif, mulai desain perencanaan yang detail hingga proses implementasi yang bisa diukur. Selain itu, mentalitas budaya birokrasi pengelola pendidikan jelas harus menjadi sasaran utama perubahan. Dalam lanskap perubahan budaya, target utama pemerintahan ke depan ialah bagaimana seluruh potensi difokuskan untuk mengubah perilaku masyarakat, bukan cara pandang (mind-set). Mengubah perilaku akan lebih riil jika dilakukan melalui proses penubuhan karakter anak di sekolah. Mengapa?

Karena sepanjang sejarah kemanusiaan, karakter selalu menjadi domain penting untuk ditelaah dan dikemukakan sebagai dasar terciptanya tatanan sosial yang beradab. Bahkan hampir semua agama menitahkan para penganutnya untuk memiliki keadaban dalam perilaku dan memperlakukan sesama, serta didasari pandang an dan nilai-nilai yang positif. Semua nilai positif pasti berasal dari sikap jiwa atau karakter yang positif. Karena itu, ada benarnya jika Jokowi bilang kita perlu revolusi mental, setara misalnya dengan jargon restorasi seperti yang diusung tandem koalisi PDIP, yaitu Partai NasDem.

Restorasi dan revolusi, jika diartikan sebagai pemulihan kembali suatu kondisi seperti sediakala secara ekstrem, jelas mempunyai banyak peluang untuk diinterpretasi. Kondisi sediakala yang semacam apa yang pernah dicapai Indonesia? Hal mana dan sektor apa yang dulu pernah membanggakan kita sebagai bangsa dan ingin dihidupkan kembali melalui sebuah partai? Pertanyaan-pertanyaan itu, jika dianalisis secara mendalam dan benar, pasti akan menempatkan PDIP dan NasDem sebagai partai paling serius yang akan mengubah jalannya sejarah Indonesia.

“History is a race between education and catastrophe,” kata HG Wells. Jika PDIP dan NasDem ingin dikenang sepanjang masa, titik pangkal perjuangan mereka harus dinisbatkan kepada keyakinan untuk memperbaiki kondisi pendidikan di tanah air. Sepanjang sejarah Indonesia, pendidikan belum pernah menjadi sektor paling membanggakan bagi bangsa ini. Malah sebaliknya, jika kita becermin dalam-dalam, kita akan sadar bahwa kekarut-marutan kondisi Indonesia merupakan mata rantai yang tak putus dari rendahnya kualitas pendidikan anak bangsa.

Ada banyak anak yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Mereka gagal bukan hanya karena faktor sistem yang tidak menempatkan anak sebagai pusat perhatian, melainkan banyak juga kegagalan dibentuk kelemahan guru dan manajemen sekolah yang tidak becus dalam mendidik. Ada banyak juga anak yang berhasil, bahkan untuk contoh yang satu ini lebih banyak datang dari sisi kemampuan anak yang memperoleh dukungan, baik secara fi nansial maupun moral, dari orangtua, guru, dan lingkungan sekolah yang sehat.

Pendidikan, dalam diaspora yang sangat luas, memang memberi banyak kesempatan dan peluang bagi masa depan anak-anak. Keyakinan itulah yang harus terlihat dari visi besar Partai NasDem dalam memperjuangkan kesetaraan kondisi untuk masa depan anak-anak Indonesia. Jika kesetaraan adalah fitrah yang secara normatif merupakan kebutuhan manusia secara keseluruhan, benar adanya jika UUD 1945 telah menyebutnya secara kasatmata. Partai politik harus memiliki platform pendidikan yang cerdas dan bermutu, terutama dalam memahami dan memaknai gagasan tentang kesetaraan.

Baker (2004) dalam Equality: From Theory to Action memberi banyak inspirasi dalam menafsirkan makna kesetaraan. Baginya, kesetaraan kondisi (equality of condition) jauh lebih penting daripada kesetaraan dalam konteks akses dan partisipasi. Dalam equality of condition fokus kita berikan bukan hanya terhadap tujuan dan proses pendidikan itu sendiri, melainkan juga berkaitan dengan kesetaraan terhadap sumber daya, kesetaraan dalam pengakuan dan penghargaan, kesetaraan dalam kekuasaan, dan kesetaraan dalam kepedulian, solidaritas dan cinta. Semua jenis kesetaraan itu jelas membutuhkan kecerdasan partai politik seperti NasDem untuk merealisasikannya.

Kesetaraan sumber daya harus dibuktikan dengan penciptaan sistem pendidikan yang lebih terbuka dan nondiskriminatif, sedangkan kesetaraan dalam pengakuan dan respek harus diciptakan bukan hanya dengan membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan, melainkan juga harus diekspresikan secara tertulis dalam skema pedagogis dan desain kurikulum yang efektif. Sementara itu, kesetaraan kekuasaan harus dilihat dalam relasi guru-siswa yang semakin peduli dengan proses belajar-mengajar yang demokratis sehingga implikasi dari pandangan itu akan membawa keterbukaan pandangan untuk saling menghargai posisi dan peran masing-masing dalam proses belajar.

Bagi saya, membuat partai itu harus kurang lebih sama dengan membangun sebuah sekolah atau lembaga pendidikan. Dalam membuat sekolah, yang terpenting ialah keyakinan bahwa apa yang kita buat hari ini ialah untuk kemenangan dan kesuksesan anakcucu kita ke depan. Alangkah indahnya jika seluruh partai, tidak terkecuali PDIP dan NasDem, menjadikan partai politik sebagai lembaga pendidikan yang akan menciptakan generasi penerus yang cerdas dan beriman serta membanggakan ibu pertiwi.

Tentu kita ingin restorasi dan revolusi mental yang dapat menggerakkan perubahan seperti dikumandangkan Jokowi dan Surya Paloh melihat persoalan pendidikan ini secara serius dengan membuat sayap kajian bidang pendidikan yang komprehensif. Have a nice try.