Rabu, 30 April 2014

Antre Melamar

Antre Melamar

Mohamad Sobary  ;   Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO, 30 April 2014

                                                                                                                       
                                                                                         
                                                             
Inilah realitas politik. Partai-partai menampilkan para tokohnya. Bagi yang tak punya tokoh internal, mereka tampilkan orang lain. Mungkin terutama asal membayar. Pantas tak pantas yang membayar dijagokan.

Dielus-elus untuk diturunkan ke gelanggang. Dan pada masa kampanye, mereka saling melirik, saling mencari kelemahan lawan. Kira-kira persis jago di dalam suatu ”kalangan”, yang sedang diadu oleh para botohnya. Dalam kalangan adu jago itu, yang bertarung, menurut Clifford Geertz, ketika mengamati adu jago di Bali, bukan hanya kedua ayam jantan yang diadu, melainkan para botoh, yaitu para pemilik jago tersebut.

Dari luar kalangan, para botoh berdebar-debar, adu kekuatan jantung. Ketika jagonya dipatuk musuh, sang botoh yang merasakan pedihnya paruh jago lawan. Ketika kepalanya dicakar dengan kuku-kuku tajam jago musuhnya, sang botoh lebih merasakan sakitnya. Dalam kecemasan, dan sambil mengurangi kecemasan itu, dia bersorak-sorak menggalakkan perlawanan jagonya. Sebenarnya dia bersorak-sorak untuk mengurangi kecemasannya sendiri.  

Dalam kampanye menjelang pemilihan legislatif yang baru lalu itu, barang siapa berteriakteriak terlalu keras, terlalu bersemangat, boleh jadi dia berteriak untuk menutup kecemasannya sendiri. Ketika dia menjadi jago lain, boleh jadi dia sedang menutupi kekerdilannya sendiri. Banyak pihak bersikap seperti itu. Berarti masing-masing pihak tadi kurang lebih sedang tak mampu berbuat lain untuk menunjukkan kelebihan dirinya.

Untuk memperoleh efek komunikasi bahwa dirinya lebih, baginya tak ada jalan lain kecuali menjelek-jelekkan jago lain. Apakah jago yang dijelek-jelekkan otomatis jelek, dan tak dipilih rakyat? Tidak. Yang dijelek-jelekkan tidak otomatis jelek. Kenyataan politik menunjukkan yang dijelek-jelekkan itu malah dipilih oleh lebih banyak pemilih. Dan ini menjengkelkan orang-orang yang itu.

Sudah dijelek-jelekkan dia tidak jelek. Seharusnya, sejak awal orangsudah tahu, untuk mengangkat nama baik dirinya, dan untuk membikin pengaruh positif di mata para pemilih, mereka melakukan apa yang simpati, apa yang santun, apa yang baik, yang dimiliki partainya, dan sekaligus jagonya. Mengatakan yang baik tidak boleh bohong. Katakan saja pengalaman, dan jasa di masa lalu, yang faktual, yang cocok dengan kebutuhan rakyat, dan jika tak memiliki apa yang baik, kata apa adanya.

Politik boleh bertolak dengan apa adanya. Pelan. Sabar. Tabah menanti gejala perubahan politik yang menguntungkannya. Baru kemudian menentukan taktik dan strategi yang bersifat apa adanya tadi. Dan tidak bohong. Partai-partai kita rata-rata tak memiliki strategi politik seperti ini. Tak ada partai yang dengan sabar, dan taktis, memulai dari bawah, dengan modal apa adanya, tapi punya militansi dan sikap politik yang menggambarkan sikap dan wawasan orang besar.

Tapi kenyataannya kita semua orang kecil, kerdil-kerdil, berpikir teknis, jangka pendek dan jarang yang memperlihatkan diri sebagai politisi besar, yang punya visi kenegaraan dan misi politik yang cukup menggetarkan. Untuk kelihatan besar, kita mengecilkan partai atau tokoh partai lain. Untuk mengesankan hebat, kita menjelekkan orang lain. Dan untuk mengesankan bahwa kita jujur, kita bongkar aib orang lain.

Semua lupa, tiap pihak punya aib. Tiap pihak punya titik lebih. Semua juga lupa bahkan tiap pihak punya titik lemah yang sangat fatal. Bagaimana kalau aib itu dibuka sampai tandas, setandastandasnya, sehingga dia tampak seperti telanjang bulat, tanpa tabir, tanpa selembar kain penutup? Orang lupa, tindakan politik harus berhenti di batas wilayah politik. Ketika batas politik mentok tapi mereka menabraknya, yang ditabrak itu wilayah kriminal.

Politisi Orde Baru, pemain Orde Baru dulu melakukan itu untuk memenangkan partainya. Di zaman itu, batas politik dan kriminal tidak ada. Dan dibuat tidak ada. Partai penguasa sungguh berkuasa. Gaya berpolitik seperti itu masih ditampilkan oleh sebagian politisi kita, dan partai politik kita sekarang. Mungkin boleh saja tetap seperti itu. Tapi tak lama masa hidupnya karena, partai macam itu akan ketinggalan zaman.

Dan ditinggalkan para pemilihnya, dalam kesepian di tengah hiruk-pikuk kehidupan politik kita yang kurang besar manfaatnya itu. Yang hidup hanya yang agak baik, yang berusaha mencari makna demi makna untuk membikin politik kita menjadi lebih relevan dengan kehidupan masyarakat.  

Kontes politik, yang terjadi selama masa kampanye, disusul debat demi debat sesudahnya, memperlihatkan gejala itu. Kita disuguhi, dari tahun ke tahun, berita-berita membosankan. Pertarungan politik kita bukan pertarungan ide, gagasan dan visi kenegaraan. Kita hanya saling mencakar, seperti jago-jago yang diadu di dalam suatu kalangan. Kebosanan politik itu tak pernah berganti.

Dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu, orang partai mendominasi kehidupan, dengan dominasi kedunguan yang membuat kita ikut dungu. Kapan dominasi kecerdasan, yang memberi pendidikan politik yang sehat, ganti mendominasi? Seluruh perhatian tercurah pada urusan teknis, yang bagi orang nonpartai menyebalkan: membentuk poros-poros aliansi. Seperti anak-anak kecil, para politisi itu mudah sekali melupakan permusuhan.

Kemarin musuh, hari ini menjadi kawan. Atau berusaha mati-matian, sekuat tenaga, untuk menjadi kawan. Jika poros aliansi terbentuk, dan kelak salah satu poros itu keluar sebagai pemenang, tahukah apa yang bakal segera terjadi sesudahnya? Untuk waktu pendek, mereka akan berbulan madu. Mereka akan berkata, kekuatan berbagai partai yang beraliansi itulah kawan sejati. Mereka sejatinya kawan yang tak ada tolok bandingannya. Kemudian terjadi gesekan kepentingan.

Kalau kepentinganlah urusannya, tak ada barang yang bisa disebut kecil. Lalu muncul caci maki lagi. Lalu bertengkar lagi. Dan masing-masing akan melirik, seperti dua ekor jago di dalam suatu ”kalangan” sabung ayam. Patok mematok. Cakar mencakar. Para botoh akan pening. Mereka tak bisa lagi berbuat serileks- rileksnya. Tindakan harus diambil. Pecah kongsi tak menjadi masalah kalau itu memang yang harus terjadi. Dan rakyat dipertaruhkan.

Permusuhan antarpartai terjadi lagi, dengan biaya yang ditanggung rakyat. Betapa berat nasib rakyat. Tapi biarlah untuk sementara itu kita lupakan, karena poros-poros mengerikan itu belum terbentuk.