Senin, 28 April 2014

Presiden, Antara yang Diinginkan dan Dibutuhkan

Presiden, Antara yang Diinginkan dan Dibutuhkan

Amril Jambak ;  Wartawan di Pekanbaru, Riau
HALUAN, 24 April 2014

Artikel ini telah dimuat di DETIKNEWS 14 April 2014 dan OKEZONENEWS 16 April 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                             
PEMILU Legislatif (Pileg) 2014 usai sudah. Hitung ce­pat (quick count) beberapa lembaga survei menempatkan PDIP di posisi teratas. Seperti quick count CSIS & Cyrus, dimana PDIP memperoleh 19,20 persen suara, Partai Golkar 14,40 persen dan Partai Gerindra 11,90 persen suara.

Meratanya perolehan suara untuk PDIP, Golkar, dan Gerindra diprediksi akan membuat koalisi makin sulit ditebak. Diper­kirakan bakal ada tiga atau empat pasang calon dalam Pilpres 2014.
Ketua Departeman Hu­bungan Politik dan Inter­nasional dari CSIS, Philips J Vermonte menga­takan, selain PDIP, Golkar dan Gerindra yang memiliki suara tertinggi, Partai Demok­rat, PKB, maupun Partai Nasdem juga masih punya peluang besar untuk diajak berkoalisi. Ketiga partai ini memiliki suara yang tidak terpaut jauh dengan perolehan suara Golkar dan Gerindra.  “Mungkin ada 3-4 pasang karena suaranya merata,” ujar Philips. Ini terjadi karena semua partai politik belum ada yang mencapai syarat 25 persen.
PDIP yang diprediksi akan menjuarai perolehan pileg di atas 25 persen, ternyata tidak tercapai. Padahal dengan pencapaian angka 25 persen, dan me­nga­jukan pencalonan capres-cawapres tersendiri, PDIP dipastikan mampu mem­bentuk kabinet yang pro­fesional tanpa harus ber­koalisi. Namun jika PDIP kalah, oposisi merupakan opsi lain yang dia ambil.
Sosok Prabowo yang men­jadi figur dalam tubuh Gerin­dra pun akan cocok untuk dica­lonkan menjadi presiden. Pasalnya loyalis Gerindra, mampu membe­dakan siapa­kah yang harus mereka pilih sebagai pemim­pin bangsa. Sedangkan Partai Golkar yang konsis­ten selama perjala­nan pemilu wajib untuk diper­hitungkan, sekalipun Aburi­zal Bakrie, kalah diban­dingkan Jokowi dan Pra­bowo. Tapi banyak rakyat telah memilih Golkar sebagai partai pilihan me­reka. Jika berkaca dari tiga besar parpol peme­nang pileg hasil quick count tersebut, tiga nama yang telah disam­paikan Ketua Depar­teman Hubungan Po­litik dan Internasional dari CSIS, Philips J Vermonte, bisa jadi bertarung dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2014 menda­tang.  Penulis mencatat, di dalam konteks seharian, ada dua bahasa yang perlu dicermati, yakni diinginkan dan dibutuh­kan. Diinginkan belum tentu dibutuhkan.  Secara lahiriah, keinginan bagaikan hawa nafsu yang hendak dilepaskan sesaat. Artinya diinginkan, meman­dang sesuatu tapi tidak memikirkan jangka panjang. Sedangkan yang dibutuhkan, merupakan keharusan dan penting, karena berbagai pertimbangan dengan me­man­dang ke depan. Lalu seperti apa pemimpin yang dibutuh­kan ataupun yang diinginkan?
Kata-kata itulah yang terlontar dari seorang sopir taksi. “Kalau dibutuhkan, itulah menjadi prioritas. Tapi yang diinginkan hanya mel­ihat kondisi sekarang, tidak melihat ke depan. Artinya, yang diinginkan belum tentu dibutuhkan,” ungkap sopir tersebut, ketika berbincang dengan penulis, baru-baru ini.
Mengutip tulisan Prof Dr Baharuddin, M.Ag, Guru Besar STAIN Padang­sidempuan, dalam pandangan teori psikologi Islam, suatu tingkah laku selalu berhu­bungan dengan pemenu­han kebutuhan atau pemenuhan keinginan.
Meskipun suatu tingkah laku atau tindakan yang sama dalam bentuk dan jenisnya tetapi karena berbeda dalam proses terja­dinya di mana ada yang didasarkan untuk memenuhi kebutuhan dan yang lainnya didasarkan keinginan, maka tindakan tersebut menjadi berbeda.
Tindakan yang didasar­kan kebutuhan ada­lah tin­da­kan dalam rangka memelihara dan mengem­bangkan potensi diri. Semen­tara tindakan atas dasar keinginan adalah tindakan yang berorien­tasi kepada mem­peroleh kenikmatan atau kelezatan dan menjauhi ketidak­nya­ma­nan. Sesuatu yang mendatang­kan kenik­matan akan dilaku­kan dan sesuatu yang akan men­datangkan ketidak­nya­manan pasti dijauhi.
Tindakan makan dan minum misalnya, dapat menjadi perbuatan yang didasarkan atas kebutuhan atau atas dasar keinginan. Makan dan minum yang dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan bio­logis untuk memper­tahan­kan kehidupan meru­pa­kan contoh dari tindakan yang di­dasarkan oleh kebutuhan. Namun dalam waktu yang sama, makan dan minum bisa saja bukan dalam rangka meme­nuhi kebu­tuhan biologis untuk mem­per­tahankan hidup, bisa juga untuk memenuhi keingi­nan hawa nafsu ka­rena memang makan dan minu­man yang tersedia sangat lezat.
Seseorang akan makan dengan sebanyak-banyaknya karena memang makanan­nya  lezat. Tetapi kalau makanannya kurang lezat, dia tidak akan memakan­nya. Jadi, perbuatan makan dilakukan karena kelezatan makanan tersebut. Jadi, tingkah laku yang didasarkan oleh pemenuhan kebutuhan selalu berhu­bungan dengan potensi diri. Sementara tingkah laku yang didasarkan kepada keinginan selalu berhubu­ngan dengan hasrat kepada yang menyenangkan atau menjauhi yang tidak menye­nangkan.
Atau dengan kata lain, memuaskan dorongan untuk mendapat kenikmatan dan menghindar dari yang tidak menyenangkan. Demi­kian­lah, suatu tingkah laku yang didasarkan kepada kebutuhan tetap akan di­laku­kan mes­kipun dalam waktu tertentu tidak me­nyenang­kan, namun karena itu merupakan pe­ngem­­bangan potensi diri, maka dia tetap akan melaku­kannya.
Di sinilah terjadi dina­mika tingkah laku, dalam realitas kehidupan selalu saja ada orang yang berting­kah laku berdasarkan kebu­tuhan dan ada pula orang lain yang bertingkah laku atas dasar keinginannya. Termasuk dalam hal pemi­lihan pemimpin, contoh­nya pilkada bupati atau walikota dan wakilnya, seseorang selalu menentukan pilihan­nya atas dasar kebu­tuhan atau keinginan.
Pemimpin yang dibutuh­kan adalah pemimpin yang mampu mengembangkan seluruh potensi, mulai dari potensi fisik-material maupun psikologis-immaterial sampai pada potensi sumberdaya manusianya.  Pemimpin yang demi­kian harus memiliki keu­tuhan kepribadian, wawa­san keilmuan yang luas, kecer­dasan multidimensional, keagungan akhlak, dan kematangan profesional. Pemimpin dengan ciri-ciri demikian tidak akan me­laku­kan hal-hal rendahan demi kepentingan peme­nangannya. Karena visi dan misinya adalah mengem­bangkan sumberdaya.
Demikianlah, sehingga ia tidak laku bagi para pemilih yang mendasarkan pilihannya pada kepuasan fisik-biologis dan material. Ia jauh me­lam­paui cara berpikir materialis, sehingga sangat sulit meme­nangkan pemilihan, sekalipun pada hakikatnya kita membu­tuhkan pemimpin yang seperti ini. Pemimpin yang diingin­kan adalah pemimpin yang dapat memuaskan keinginan pemilihnya, baik material maupun im­ma­te­rial.
Pemimpin yang model ini selalu dipertimbangkan ber­dasarkan kelompok organisasi dan golongan, hubungan keluarga, hubu­ngan pertema­nan, keuntungan material, janji politik, suku, ras, bahkan agama. Calon pemimpin yang memi­liki kedekatan teman, orga­nisasi, suku, ras, dan lain sebagainya itu yang akan menjadi pilihan. Jadi, me­milih pemimpin adalah atas dasar kepentingan kepuasan keingi­nan yang dibungkus dengan kedeka­tan-kedekatan tersebut.
Pemimpin yang diper­kirakan akan memenangkan pertarungan selalu adalah pemimpin yang diinginkan, sekalipun tidak dibutuhkan. Karena memang realitas pemilih mayoritas memilih pemimpin yang dinginkan.
Pemimpin yang demi­kian menjanjikan sejumlah hal yang dapat memuaskan keinginan mereka, baik keinginan material maupun immaterial. Mereka tidak peduli apakah pemimpin itu akan mengembangkan poten­si yang ada atau tidak, bagi mereka memuaskan keingi­nan adalah segala-galanya.
Orang akan puas dengan mendapatkan sesuatu, misal­nya kaos, gambar, spanduk, ongkos, atau uang. Bukan kebutuhan untuk mengem­bangkan potensi daerah. Demikian juga, mereka rela menggadaikan suaranya, demi sedikit imbalan yang mereka terima. Mereka merasa berhutang budi, hanya karena selembar kaos, atau lainnya, padahal akibat­nya mereka akan menga­lami stagnasi dalam pengem­bangan potensi daerahnya. 
Semoga kita semakin cerdas memilih pemimpin kita di masa akan datang. Berpikir­lah sebelum memilih, jika tidak ingin menyesal.