Rabu, 30 April 2014

Menanti Aksi Politisi Beken

Menanti Aksi Politisi Beken

Achmad Firdaus  ;   Pengurus ISS National University of Singapore
REPUBLIKA, 29 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
Ketika pintu kebebasan dibuka lebar, bukan hanya potensi kebaikan yang menyeruak, tapi juga berbagai realita menggelikan terkadang membuat bingung. Dalam logika manusia, kenyataannya demokrasi membuat kita "tak habis pikir" seolah segala sesuatu yang tak mungkin secara kasat mata bisa `dipaksakan' menjadi mungkin. Tapi, seperti inilah paradoks demokrasi, sebagaimana yang dikhawatirkan Plato, vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan), akan berubah menjadi vox populi vox diaboli (suara rakyat suara setan) jika memilih orang-orang yang tak berkompeten.

Memang, tak bisa dimungkiri bahwa pesta demokrasi di negeri ini telah menjadi `pasar bebas' yang memungkinkan setiap orang untuk ikut berkompetisi.
Namun, basis kompetisi dalam pesta demokrasi di Indonesia lebih mengandalkan popularitas figur dan kemampuan finansial. Sehingga, sistem proporsional dengan daftar terbuka melalui penetapan keterpilihan atas dasar suara terbanyak memberi peluang besar bagi setiap figur yang populer, seperti artis, keluarga pejabat, atau pesohor lainnya meraih kemenangan dalam pertarungan politik.

Soal apakah ia memahami dan memiliki kemampuan mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat itu urusan nomor sekian. Secara konstitusional, memang tidak ada larangan setiap warga negara mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Seperti halnya di Amerika Serikat, mantan presiden Ronald Reagan dan Gubernur Arnold Schwarzenegger juga masuk ke dunia politik dengan latar belakang artis. Tapi, mereka tidak hanya mengandalkan popularitas sebagai pesohor, karena sebelumnya mereka pun telah aktif berpolitik dalam berbagai program kerja parpol.

Vote getter

Jika membandingkan suasana perpolitikan di negara demokrasi yang lain, tentu sangat berbeda dengan percaturan politik di negeri ini, karena artis dan para pesohor di Indonesia bisa secara tiba-tiba diusung menjadi caleg partai politik tertentu dengan modal ketenaran dan kemampuan finansial. Inilah yang menimbulkan praduga negatif bahwa kehadiran artis-artis ini tak lebih dari sekadar vote getter (pengumpul suara) bagi parpolnya.

Vote getter ini memang amat penting bagi setiap parpol, terlebih lagi jika melihat sikap apatis yang ditunjukkan masyarakat akibat buruknya kinerja parpol dibarengi pula dengan berbagai kasus korupsi yang melibatkan wakil rakyat.
Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini parpol membutuhkan solusi instan untuk mendongkrak suara dan kepercayaan rakyat. Salah satu solusi yang paling praktis adalah dengan mengorbitkan artis atau para pesohor ke panggung politik. Tak peduli apakah sang artis berasal dari kader partai atau bukan, yang penting orang terkenal dan memiliki modal untuk `dijual' ke masyarakat.

Partai politik memang terkesan `memaksa' para artis bertransformasi secara instan menjadi anggota dewan. Para pesohor itu dipolitisasi untuk maju sebagai caleg demi mendukung suara partai politik agar lolos dari parlemen threshold, hasilnya pun tidak mengecewakan karena tidak sedikit para pesohor itu berhasil lolos ke Senayan. Namun faktanya, tidak semua legislator beken ini memiliki kinerja yang baik sebagai wakil rakyat, mereka secara umum sama saja dengan sebagian besar anggota legislatif nonartis yang juga kinerjanya tenggelam di balik hiruk-pikuk dan persaingan politik.

Lakon politik

Hasil rekapitulasi suara pada pemilu legislatif lalu mencatatkan beberapa nama artis yang berhasil melenggang ke Senayan. Figur-figur yang sering kita lihat wara-wiri di layar kaca menghibur masyarakat lewat perannya sebagai pemain sinetron, penyanyi, presenter, model, dan pemain film kini harus bersiap melayani masyarakat lewat lakon politiknya di parlemen.

Fenomena artis yang menjadi anggota dewan sebenarnya bukanlah hal baru di dunia perpolitikan Indonesia. Yang menjadi titik perhatian adalah double job yang mereka perankan kadang tidak efektif. Jangan sampai para artis yang duduk di Senayan hanya bisa `setuju' dalam suara mayoritas partai di setiap rapat komisi dan pleno, tanpa mau mela kukan perubahan yang lebih baik bagi negeri ini, atau paling tidak, mereka peka ketika membahas isu-isu perbaikan nasib rakyat.

Para artis yang `telanjur' masuk dalam dunia politik harus memahami bahwa dunia baru mereka saat ini bukanlah panggung sandiwara. Jika selama ini mereka terbiasa dengan seni peran, dunia imajinasi, dan basa-basi, maka setelah menjadi wakil rakyat mereka harus menjalankan perannya sebagai politisi tanpa ada rekayasa, karena dunia politik membutuhkan integritas moral dan kejujuran. Jangan sampai para artis yang terjun ke dunia politik ikut terciprat kotornya lumpur politik lalu mereka menjadi koruptor-koruptor andal yang pintar bermain peran.

Dengan demikian, para politisi beken ini harus sadar bahwa menjadi anggota dewan bukanlah sebuah status sosial yang harus dibanggakan, tapi sejatinya, itu adalah sebuah pengabdian kepada masyarakat sekaligus sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bish shawaab.