Minggu, 27 April 2014

Kalah

Kalah

M Alfan Alfian  ;   Dosen Universitas Nasional
TEMPO.CO, 25 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
Seseorang berkata kepada Sang Guru, "Jabarkan tentang mereka yang kalah." Kemudian Sang Guru menjawab bahwa yang kalah adalah mereka yang tidak pernah gagal. Kalah berarti kita bertekuk lutut dalam peperangan atau pertempuran. Gagal berarti kita tidak meneruskan pertempuran. Kekalahan terjadi ketika kita tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan. Kegagalan tidak mengizinkan kita bermimpi.

Penggalan kalimat di atas terdapat dalam novel Paulo Coelho, Manuskrip yang Ditemukan di Accra. Coelho menguraikan kalimat-kalimat bijak Sang Guru kepada penduduk Yerusalem yang plural, ketika kota itu dikepung.

Dalam politik, petuah Sang Guru itu lazim dipakai sebagai pembenaran bagi hadirnya politikus tipe petarung. Misalnya, ketika petinggi partai politik tetap nekat maju sebagai calon presiden, atau setidaknya calon kepala daerah, padahal di atas kertas peluangnya tipis, tim suksesnya membanggakan bahwa dia tipe petarung. Politikus petarung tidak mengenal kekonyolan, walaupun keberaniannya untuk maju ke arena pertandingan politik elektoral hanya untuk "kalah".

Aliran pilihan rasional segera mengecap itu semua kekonyolan. Kalau untuk kalah, mengapa memaksa maju? Tapi pastilah tokoh oligarki yang mampu memaksakan diri untuk tetap maju ke arena politik elektoral adalah sosok perekayasa politik hebat, kalau bukan licin. Kelak, dia akan puas dengan mengatakan dirinya tidak gagal, cuma kalah. Kalah itu pilihan terhormat, ketimbang gagal. Dalihnya memang klop dengan Sang Guru.

Tapi sosok politik beda dengan sosok non atau nirpolitik. Dalam politik, kegagalan atau kekalahan sang sosok berkonsekuensi bagi nasib dan masa depan gerbongnya. Sering kita dengar keluhan beranekaragam, ketika sosok kalah dalam kontes elektoral. Faksi loyalis yang tetap ikut yang kalah punya dalih berbeda, tapi mungkin hakikatnya sama, dengan yang pindah ke "tempat lain". Yang satu berjuang mencari celah untuk tetap eksis, satunya lagi juga beralasan mencari tempat untuk melanjutkan eksistensinya.

Yang membedakan, kesetiaan, kendati dalam politik berarti kefatalan. Yang eksis di tempat lain, yang dipandang tidak loyal, biasanya berujar, bagaimana mungkin engkau tetap setia kepada yang kalah, kalau hanya membuat hidupnya terseok-seok?

Sang Guru memang tidak menjelaskan apakah kesetiaan itu penting atau tidak dalam politik. Tapi, merujuk nasihatnya di atas, dapat dikatakan yang tidak setia adalah yang gagal, bukan yang kalah. Mereka yang masih setia ikut Pangeran Diponegoro sampai detik-detik terakhir bukanlah orang-orang yang gagal. Mereka sekadar orang-orang yang kalah. Dan, kalah yang dimaksud nilainya lebih tinggi dari yang gagal.

Para caleg yang jumlah dukungan suaranya tidak mencukupi untuk sebuah kursi, bagaimana menjelaskannya? Dari perspektif Sang Guru, mereka kalah, tapi tidak gagal. Tapi, yang kalah masih bisa dipilah. Kalah tanpa "politik uang" nilainya lebih tinggi, ketimbang yang menang atau kalah tapi tetap dengan menebar uang dan "segala cara". Yang terakhir inilah orang-orang yang gagal.