Rabu, 30 April 2014

Sang Pemula

Sang Pemula

Parni Hadi  ;   Wartawan dan Aktivis Sosial
SINAR HARAPAN, 29 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
Para pejuang kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang yang  tercerahkan dan terpanggil untuk melakukan tugas yang lebih besar melampaui tujuan hidup pribadinya. Mereka tercerahkan berkat pendidikan dan terpanggil berkat kepekaan perasaan melihat kondisi masyarakat.

Mengawali abad ke-20, para pejuang kemerdekaan kita menempuh cara yang berbeda dalam melawan penjajah Belanda: tidak lagi mengangkat senjata, melainkan mengangkat pena. Ya, mereka berjuang melalui tulisan yang disebarluaskan melalui pers untuk menghimpun kekuatan dari orang-orang yang sepikiran.

Sejarah pergerakan kebangkitan nasional memang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kebangkitan cendekiawan dan pers  nasional.

 Dr Wahidin Soedirohusodo dan Dr Soetomo adalah lulusan sekolah kedokteran STOVIA yang terpanggil mendirikan organisasi Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908, yang kemudian kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Di samping dokter dan organisator, keduanya juga menulis, bahkan mendirikan dan memimpin surat kabar.

Pendidikan kedokteran melatih orang untuk peka kepada penderitaan sesama. Bukan hanya karena penderitaan akibat penyakit, tapi juga karena kondisi sosial, politik, dan ekonomi akibat penjajahan.

 Karena itu, tidak mengherankan jika banyak pemimpin  Indonesia sejak awal Republik bergelar dokter. Jangan heran pula, jika gerakan perubahan politik pascakemerdekaan melibatkan dan dimotori mahasiswa kedokteran, termasuk gerakan mahasiswa awal 1974, yang ingin mengoreksi  kepemimpinan Presiden Soeharto.

Gerakan mahasiswa yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Malari (lima belas Januari), karena terjadi pada 15 Januari 1974 itu dipimpin Hariman Siregar, aktivis mahasiswa FKUI. Peristiwa 40 tahun lalu itu ditandai dengan terbakarnya Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang terjadi bersamaan demonstrasi mahasiswa besar-besaran.

“Sang Pemula”

Sebelum Boedi Oetomo (BO) berdiri, ada tokoh mahasiswa kedokteran yang wartawan sekaligus aktivis pergerakan, tapi namanya tidak dikenal banyak orang karena tidak ditulis secara menonjol dalam buku sejarah Indonesia. Ia adalah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1880-1918).

Menurut data yang diungkapkan sastrawan besar Indonesia, Pramudya Ananta Toer, dalam bukunya yang berjudul Sang Pemula, cetakan pertama tahun 1985 dan cetakan kedua (dengan revisi) tahun 2003, dialah sebenarnya perintis pers sekaligus gerakan kebangkitan nasional Indonesia. Tanpa maksud untuk mengurangi penghormatan kepada kedua pendiri BO itu, tulisan ini disajikan untuk melengkapi dokumen sejarah dan memperluas pemahaman kita.

Raden Mas Tirto Adhi Suryo, kita singkat Tirto, lahir di Blora, Jawa Tengah, yang juga tempat kelahiran Pram(udya). Tirto adalah anak seorang priayi terkemuka, cucu Bupati Bojonegoro. Terlahir dengan nama Djokomono, ia lulusan sekolah Belanda, HBS, dan jebolan (tidak tamat) dari sekolah kedokteran STOVIA.

Djokomono suka menulis dalam bahasa Belanda dan Jawa sejak menjadi murid sekolah dasar. Ia mulai mengirimkan tulisannya kepada berbagai penerbitan yang terbit di Batavia (Jakarta), sejak usia 14-15 tahun. Tercatat ia mengirim tulisan ke koran Chabar Hindia Olanda (terbit 1888-1897), Pembrita Betawi (terbit 1884-1916), dan Pewarta Priangan, terbitan Bandung.

Keluar dari STOVIA, setelah belajar enam tahun, Tirto diangkat menjadi redaktur Pembrita Betawi dan pada 1901 naik menjadi redaktur-kepala koran itu, menggantikan orang Belanda, F Wiggers.

Setahun kemudian, ia menjadi penanggung jawab penerbitan itu. Pada 1903, ia mendirikan koran Soenda Berita, di Cianjur, Jawa Barat,  dengan bantuan dana dari Bupati Cianjur. Ini adalah penerbitan pertama dalam sejarah pers nasional yang redaksi dan percetakannya bertempat di desa.

Ia sempat mengembara ke Maluku, tinggal dan menikah dengan Prinses Fatimah, putri Raja Bacan. Selama di Bacan ia menyiapkan penerbitan surat kabar dengan delapan tujuan: untuk memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberi bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan haknya, memberi pekerjaan pada orang yang membutuhkannya di Betawi, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangun dan memajukan bangsanya dan memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.

Sungguh Tirto seorang visioner. Kedelapan tujuan itu ia wujudkan dalam pendirian koran Medan Prijaji (baca priayi), yang mulai beredar dalam bulan Januari 1907. Dia meminta pelanggannya membayar lebih dulu sebelum terbit.

Ia adalah perintis usaha perniagaan dengan menggunakan dana masyarakat. Pada 1907, ia juga menerbitkan Soeloeh Keadilan. Bersama HM Arsad, Tirto adalah pribumi pertama yang mendirikan perusahaan berbadan hukum NV, yang bergerak di perdagangan buku dan percetakan, yakni NV Medan Prijaji.

Pada 1 Juli 1908 ia menerbitkan surat kabar untuk perempuan dengan nama Poetri Hindia di Betawi. Tirto menjadi pemimpin redaksi penerbitan pertama untuk gerakan perempuan pribumi ini. Ia memberi kesempatan kepada perempuan untuk menulis.

Sebagai orang pergerakan, Tirto melahirkan Serikat Priyaji pada 1904. Inilah organisasi pergerakan pertama pribumi yang bercorak modern, menggunakan “lingua-franca” bahasa Melayu sebagai “bahasa bangsa-bangsa yang terperintah”. Ini berbeda dengan Boedi Oetomo yang lahir 1908 dan menggunakan bahasa Jawa. Pada 1909, Tirto mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah, yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam.

Sebagai wartawan tulisannya dikenal sangat tajam, sehingga salah seorang muridnya, Mas Marco Kartodikromo, menyebutnya sebagai wartawan-pengarang yang sanggup menulis dengan pisau-belati yang membuat banyak orang “moentah darah”.

Seperti kebanyakan pejuang perintis kemerdekaan, Tirto mengakhiri hidupnya jauh dari kemewahan dan hiruk-pikuk pemberitaan. Pada 7 Desember 1918, sebuah iringan kecil mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir di pemakaman Mangga Dua, Jakarta.

Tidak ada pidato sambutan. Pada 1973, makamnya dipindah di Bogor. Di batu nisannya tertulis Perintis Pers, sesuai Keputusan Menteri Penerangan/Ketua Dewan Pers, 1973. Konon itu pun tanpa pengakuan resmi yang dikeluarkan pemerintah.