Rabu, 30 April 2014

Obama dan Suksesi di Saudi

Obama dan Suksesi di Saudi

Tjipto Subadi  ;   Dosen Prodi Pendidikan Geografi FKIP dan Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
SUARA MERDEKA, 29 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
’’Selama anak-anak saya masih hidup, kekuasaan tidak akan berpindah ke cucu-cucu saya.’’ (wasiat Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al Saud)

"Siapa pun yang kelak memimpin Saudi setelah Raja Abdullah, negara itu tetap menjadi sahabat AS"

HANYA sehari sebelum kedatangan Presiden Obama ke Riyadh (27/3), setelah menghadiri KTT Nuklir di Den Haag, kabar mengejutkan datang dari Arab Saudi. Baru kali ini terjadi dalam sejarah kerajaan itu sejak didirikan Raja Abdul Aziz bin Abdurrahma al Saud tahun 1932, negara kaya minyak tersebut menunjuk wakil putra mahkota. Dia Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz (69), putra bungsu yang masih hidup dari Raja Abdul Aziz, dan kini tokoh ketiga dalam hierarki kekuasaan.

Sebelumnya, tidak pernah ada wakil putra mahkota. Dengan demikian Pangeran Muqrin menjadi tokoh terpenting ketiga dalam hierarki kekuasaan, setelah Raja Abdullah bin Abdul Aziz (90) dan putra mahkota Pangeran Salman bin Abdul Aziz (79). Sehari kemudian (28/3) Obama ke Saudi bertemu Raja Abdullah bin Abdul Aziz dan putra mahkota Pangeran Salman bin Abdul Aziz, didampingi wakil putra mahkota Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz.

Kunjungan Obama ke Riyadh itu memang cukup mengejutkan, pasalnya saat ini hubungan bilateral Saudi dan AS paling buruk sejak keduanya bersahabat semasa era Presiden Rossevelt dan Raja Abdul Aziz al Saud tahun 1940-an. Kondisi itu disebabkan oleh kebijakan AS terhadap program nuklir Iran dan krisis Suriah serta dukungannya terhadap Arab Spring yang ditentang oleh rezim di Riyadh.  

Selama ini AS selalu jadi payung keamanan bagi Saudi, yang menjadikannya bisa bertahan lebih dari 8 dasa warsa. Pemerintahan monarki otoriter jelas khawatir andai AS mencabut payung keamanan itu mengingat cepat atau lambat umur rezim al Saud bisa berakhir diterjang badai Arab Spring. Itulah sebabnya Saudi mendukung Jenderal Jenderal Abdel Fatah al-Sisi ketika mengudeta Presiden Mohammed Mursi dan sekarang menetapkan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi teroris, di samping Al Qaeda.

Kunjungan Obama kali ini tambah bermakna mengingat makin dekatnya suksesi di Saudi setelah penunjukan Pangeran Muqrin. Wafatnya putra mahkota Pangeran Nayef  bin Abdul Aziz di Jenewa Swiss (2012) dan keterpilihan Menhan Pangeran Salman bin Abdul Aziz sebagai putra mahkota, makin membuka pintu bagi suksesi di negara monarki Islam kaya minyak tersebut.

Pasalnya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz (90) sakit-sakitan, bahkan tahun 2011 menjalani operasi punggung di New York. Musyawarah Dewan Kesetiaan yang merupakan majelis keluarga kerajaan terdiri atas para putra dan cucu senior Raja Abdul Aziz, juga memilih Salman menjadi wakil perdana menteri, jabatan yang ditinggalkan Pangeran Nayef.

Sementara adiknya, Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz yang semula wakil mendagri terpilih menjadi mendagri, menggantikan Nayef dan posisi yang ditinggalkan digantikan putra Pangeran Nayef, Muhammad bin Nayef. Dengan demikian, Salman menduduki tiga jabatan penting di negara yang memiliki 25% cadangan minyak dunia, yakni putra mahkota, menhan, dan wakil perdana menteri.

Janji Setia

Sejak Raja Fahd bin Abdul Aziz terserang stroke berat (1995) praktis secara de facto putra mahkota Abdullah bin Abdul Aziz memerintah. Setelah Raja Fahd wafat (2005) maka Raja Abdullah menggantikannya dan menunjuk Pangeran Sultan bin Abdul Aziz menjadi putra mahkota meski sebenarnya menhan itu pesaing politiknya.

Sesungguhnya persaingan politik pewaris tahta Kerajaan Saudi dimulai pada 1 Agustus 2005, ketika seluruh pangeran dari keluarga kerajaan yang berjumlah 23.000 orang berjanji setia kepada Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Raja Abdullah dikenal taat pada Islam dan nilai-nilai tradisional Arab, sedangkan adik tirinya Pangeran Sultan dikenal pro-Barat dan sekuler. Apalagi mereka juga berbeda ibu dan kabilah, di mana Abdullah dari Kabilah al Jilwa dan Sultan dari Kabilah al Sudairi yang dikenal dengan sebutan Sudairi Seven.

Siapa yang memenangi suksesi menuju puncak kekuasaan andai sewaktu-waktu Raja Abdullah wafat? Kabilah mana dari Dinasti al Saud yang bakal memimpin? Yang jelas, setelah era Raja Abdullah, tampuk kekuasaan belum akan jatuh pada generasi ketiga para cucu Raja Abdul Aziz, selama ada generasi kedua putra Abdul Aziz yang masih hidup, sebagaimana wasiat pendiri Saudi tersebut.

Selain itu, AS yang merupakan mitra strategis Saudi, ditambah Israel dan Iran yang menjadi tetangga, sangat berkepentingan terhadap jalannya suksesi, yang apakah berjalan secara damai? Ataukah menimbulkan gejolak politik sehingga menggoyang sendi-sendi dinasti al Saud yang hampir 8 dasa warsa menguasai wilayah Hejaz dan Nejed, yang kini menjadi Saudi.

Siapa pun yang memimpin Saudi setelah Raja Abdullah, negara itu tetap menjadi sahabat AS, dan terus menjalankan kebijakan stabilitas yang merupakan prinsip fundamentalnya. Kebijakan energinya terhadap AS pun tak akan berubah, dan sebagai imbalannya negara adikuasa tersebut tetap menjamin keamanan Saudi serta keberlangsungan rezim al Saud hingga memasuki usia seabad tahun 2032. Itulah makna kunjungan Obama ke Saudi.