Senin, 28 April 2014

Petahana, Pemodal, dan Pesohor

Petahana, Pemodal, dan Pesohor

Agus Sudibyo  ;   Direktur Eksekutif Matriks Indonesia
TEMPO.CO, 28 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
Bagaimana profil para wakil rakyat terpilih yang akan memimpin negeri ini lima tahun mendatang? Menjawab pertanyaan ini sebenarnya lebih penting dari sekadar meributkan pasangan capres-cawapres yang akan bertarung pada Juli 2014. Empat persoalan di bawah ini dapat dijadikan titik tolak untuk menjawabnya.

Pertama, pemilihan legislatif dilaksanakan di tengah-tengah rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang tata cara pemungutan suara. Sosialisasi tata cara coblosan dan pengawasannya sangat kurang. Padahal ada banyak segi yang perlu dijelaskan ke masyarakat: perubahan dari sistem contreng menuju sistem coblos, jumlah dan bentuk surat suara, surat suara yang sah, serta potensi kecurangan yang mesti diantisipasi. Kondisi yang demikian ini memberi peluang lebih besar kepada pihak-pihak yang berpengalaman dalam memobilisasi massa, melakukan politik uang, dan memanipulasi suara dalam berbagai bentuknya.

Kedua, masyarakat umumnya belum mengenal calon wakil rakyat yang harus mereka pilih. Bagaimana masyarakat dapat mengenali kualitas caleg jika mereka hanya hadir di spanduk, baliho, poster, dan stiker yang penuh dengan janji-janji dan puja-puji diri? Tidak banyak sarana yang dapat diakses masyarakat untuk sungguh-sungguh mengidentifikasi mana caleg yang layak dipilih. Para politikus kawakan tampaknya juga banyak yang berpikir pragmatis: politik uang lebih efektif untuk memenangi pemilu dibandingkan dengan kampanye dan pendekatan intensif ke masyarakat.

Ketiga, gegap-gempita kampanye juga tidak ditujukan untuk memperkenalkan caleg ke masyarakat. Yang lebih banyak diperkenalkan dalam kampanye adalah partai politik. Alih-alih memperkenalkan para caleg, gegap-gempita kampanye itu justru banyak "menjual" kandidat presiden masing-masing partai.

Keempat, ruang publik politis kita mengalami lompatan waktu dan fokus. Media massa terlalu banyak menggunjingkan kontestasi antar-calon presiden. Sesuatu yang baru terjadi paling cepat 9 Juli 2014 terlalu banyak diulas, sementara yang terjadi pada 9 April 2014 dibahas sambil lalu. Lompatan waktu dan fokus ini berperan dalam menurunkan animo masyarakat terhadap pemilihan legislatif.

Dengan kondisi seperti ini, realitas seperti apakah yang akan tecermin dari hasil pemilihan legislatif 2014? Para inkumben masih akan mendominasi perolehan kursi. Memang tidak semua dari 80 persen anggota DPR/DPRD/DPD yang mencalonkan diri kembali akan terpilih kembali. Perubahan kekuatan dan elektabilitas partai politik menyebabkan beberapa inkumben tidak terpilih kembali. Namun secara umum peluang mereka untuk terpilih tetap lebih besar daripada pendatang baru. Mereka memiliki kesempatan berkampanye lebih panjang. Ibaratnya mereka telah melakukan kampanye secara rutin selama lima tahun dalam bentuk temu konstituen atau temu kader pada masa reses persidangan DPR/DPRD/DPD. Mereka juga lihai memanfaatkan program-program eksekutif untuk menyenangkan masyarakat daerah pemilihan, serta pengalaman yang lebih banyak dalam penggalangan massa dan memenangi pemilu. Para inkumben juga masuk kategori kedua kelompok caleg yang berpotensi memenangi pemilu: pemilik modal.

Determinasi uang jauh lebih kuat dalam pemilu legislatif kali ini. Untuk dapat bersaing memperebutkan satu kursi DPR RI, seorang caleg harus menyiapkan dana minimal Rp 3,5 miliar untuk kampanye, tim sukses, membayar saksi, mempengaruhi panitia, biaya survei, politik uang, dan lain-lain. Siapakah yang sanggup menyediakan dana sebesar itu tanpa jaminan terpilih? Bukan sekadar kelas menengah, tapi juga harus kelas atas: pengusaha, mantan pejabat atau keluarganya, inkumben DPR, dan para pesohor. Dana sebesar itu sungguh tidak realistis bagi para caleg aktivis dan intelektual pada umumnya. Selain modal ekonomi yang dimilikinya, para caleg pesohor atau selebritas mempunyai peluang publisitas yang jauh lebih besar daripada rata-rata caleg. Para selebritas memiliki daya magnetik yang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian publik dan pemberitaan media.

Pemilu yang mahal dan materialistis hanya menguntungkan kaum borjuis, para inkumben, serta keluarga pejabat dan pesohor. Modal ekonomi dan modal simbolik yang menentukan, bukan kredibilitas dan integritas. Bukan berarti mereka semua tidak memiliki kualifikasi wakil rakyat berkualitas. Tapi kita patut prihatin bahwa pemilihan legislatif 2014 ternyata tidak banyak berbeda, bahkan lebih buruk daripada pemilu sebelumnya dalam hal politik uang, manipulasi penghitungan suara, dan tipisnya peluang bagi para caleg pendatang baru yang bermodalkan kejujuran serta integritas.

Dengan demikian, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan perjuangan yang lebih keras lagi untuk mewujudkan lembaga legislatif yang lebih transparan, akuntabel, dan berdedikasi pada kepentingan masyarakat.