Rabu, 30 April 2014

Kontroversi Idris Sardi

Kontroversi Idris Sardi

Aris Setiawan  ;   Pengajar ISI Surakarta
TEMPO.CO, 29 April 2014

                                           
                                                             
Dunia musik Indonesia berduka. Seorang maestro biola, komponis ulung, dan pakar ilustrasi musik film telah pergi untuk selamanya pada 28 April 2014. Segala hidupnya telah diziarahkan untuk musik. Ia adalah musikus yang kontroversial. Idris Sardi tak sepenuhnya berpegang pada musik klasik Barat (romantik) saja. Ia melintas batas kala bermain musik bercita rasa jazz, keroncong, hingga musik film. Kemampuannya yang dapat dengan lentur menyeberang ke haluan musik lain itu membuatnya dicibir, namun kemudian dipuja. Idris Sardi merupakan musikus multi-talenta.

Sejak belia, ia dianggap sebagai "anak ajaib". Ia mampu melenggak-lenggokkan jemari tangannya dengan piawai di atas dawai-dawai biola menuruti alur melodi musik klasik Barat. Idris yang masih ingusan telah banyak dibebani tanggung jawab berat. Pagi hari pukul 04.30 ia harus bangun, kemudian berangkat ke kantor Radio Republik Indonesia Yogyakarta untuk membuka siaran pertama radio bersama pamannya, Martono (pendidik musik), dengan memainkan lagu Humorisque karya Antonin Dvorak (Hardjana, 2004). Bahkan, pada usianya yang ke-12 tahun, ia mendapat kesempatan untuk menjadi "mahasiswa luar biasa" di Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta. Ia tak dapat bersentuhan dengan dunia anak-anak yang sewajarnya. Saat anak-anak seusianya bermain petak-umpet, ia dengan tekun dan keras melatih kreativitas bermusiknya. Kemampuan bermusik biola Idris Sardi semakin mumpuni kala ia mendapat bimbingan dari guru-guru musik profesional seperti Hendriek Tordasi, George Setet, Nicolai Varfolomijeff, Henk te Strake, Renata Vanos, Hans Botmmer, dan Gerald Kenny.

Idris Sardi mendapat caci dan hujatan kala nekat mengubah haluan dan arah musiknya. Pada dekade 1960-an, masyarakat musik Indonesia dibuat terhenyak oleh kemampuannya memainkan biola dengan gaya musik klasik Jascha Heifetz ke gaya komersial Helmuth Zackarias. Dikisahkan oleh Suka Harjana lewat Catatan Perjalanan Seorang Seniman, Idris Sardi juga nekat saat berafiliasi dengan musik keroncong (kelompok Orkes Keroncong Tetap Segar). Ia dimaki oleh banyak musikus klasik Barat. Ia dianggap tak memiliki pakem musikal yang jelas, tak berfokus pada satu genre musik. Pro dan kontra yang ditujukan kepadanya menunjukkan bahwa sejatinya Idris Sardi adalah seniman yang diperhitungkan. Segala gerak-gerik olah kreatifnya memantik perdebatan dalam dunia musik kala itu. Semakin ia dihujat, seolah semakin nekat.

Titik kulminasinya terjadi kala Idris Sardi menggarap serius musik film. Kala produksi film-film Indonesia mengalami kemerosotan dan kritik tajam, Idris Sardi justru mampu mendapat pengakuan dan penghargaan. Tak kurang dari 189 ilustrasi musik film digarapnya. Tak sembarang film dibuatkan ilustrasi musik. Ia memilih film-film yang dianggapnya bermutu dan membawa pesan perubahan. Musik-musiknya mampu memberi penguatan terhadap karakter dan dramatika film; menjadi lebih hidup dan bermakna. Ia merupakan legenda ilustrator musik film di Indonesia. Idris Sardi merengkuh penghargaan sebagai penata musik terbaik untuk film Pengantin Remaja (1971), Perkawinan (1973), Cinta Pertama (1974), dan Doea Tanda Mata (1985). Hingga detik ini, belum ada yang mampu menyamai prestasinya itu. Kini ia telah tiada, meninggalkan kisah manis dalam jagat musik di Indonesia. Ia bukan lagi seorang maestro semata, tapi juga bapak musik kita. Selamat jalan, Idris Sardi!