Senin, 28 April 2014

Keterdidikan Olahraga

Keterdidikan Olahraga

Agus Kristiyanto ;  Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Keolahragaan UNS Surakarta, anggota Komisi Nasional Penjas dan Olahraga
SUARA MERDEKA, 24 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
WAWASAN karakter dan daya saing bangsa dalam semesta olahraga, sebenarnya bukan barang baru Gerakan Olimpiade modern yang dilestarikan oleh bangsa seantero jagad dengan menganut filosofi universal Citius, Altius, dan Fortius. Jargon itu pun bukan hanya slogan melainkan bermakna sangat implementatif tentang nilai kompetisi yang diterima masyarakat dunia. Citius berarti lebih cepat, Altius berarti lebih tinggi, dan Fortius lebih kuat, menggambarkan betapa semuanya berkonotasi nilai-nilai karakter unggul dan berdaya saing.

Semangat tersebut bukan hanya berlaku dalam event pertandingan dan perlombaan olahraga formal melainkan harus tertransfer ke seluruh ranah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Persoalan besar yang hingga detik ini masih menjadi pekerjaan rumah kita adalah mencari strategi bagaimana supaya semangat olympism tersebut mengejawantah dalam seluruh tataran kehidupan. Tidak ada cara lain kecuali dengan mewujudkan masyarakat yang terdidik (melek) olahraga atau sport literacy.

Keterdidikan dalam olahraga (melek olahraga) sebenarnya dapat dipahami secara sederhana sebagai kondisi dengan masyarakatnya yang telah ìbebas buta akan nilai-nilai olahragaî. Hal itu merupakan persoalan tersendiri mengingat selama ini kurang mendapat perhatian. Kecilnya perhatian itu menjadikan nilai-nilai olahraga tak memiliki resonansi kuat dan kurang mengembang luas sebagai instrumen penting pembentukan karakter dan daya saing peserta didik, masyarakat, dan bangsa.

Dalam era setelah kelahiran UU Sistem Keolahragaan Nasional (UUSKN), keterdidikan dalam olahraga seharusnya menjadi sesuatu yang lebih terbangun di masyarakat dan menjadi bagian tak terpisahkan menuju bangsa yang berdaya saing. Daya saing bangsa menjadi persoalan inti karena hasil berbagai riset terakhir Human Development Report 2010 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-110.

Dibanding beberapa negara tetangga, Indonesia kalah unggul. Singapura peringkat ke-27, Malaysia (57), Thailand (92), dan Filipina (99). Survei Indeks Pertumbuhan Daya Saing Global (Global Growth Competitiveness Index) 2011 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-46, Singapura (2), Malaysia (21), dan Brunei (28). Survei mencakup inovasi, telematika, dan transfer teknologi. Kedua hasil itu mengindikasikan Indonesia kalah unggul, daya saing, dan kesejahteraan sosial. Indikator keterdidikan dalam olahraga dapat dikembangkan berdasarkan formulasi awal yang dirintis Physical Education Outcomes Committee of The National Association of Physical Education and Sport (NASPE).

Keterdidikan tersebut memiliki ciri-ciri masyarakat telah memiliki berbagai keterampilan dasar yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas jasmani, bugar secara jasmaniah, berpartisipasi dalam aktivitas jasmani, mengetahui implikasi dan manfaat aktivitas jasmani, dan menghargai aktivitas jasmani dan sumbangannya kepada gaya hidup sehat.

Konkret Mewujudkan

Dengan demikian bisa dipahami bahwa menuju keterdidikan olahraga hakikatnya mengupayakan terbentuknya lima indikator tersebut dengan isi program sebagai berikut. Pertama; menguasai keterampilan jasmani lengkap bukan sekadar membentuk kompetensi secara jasmaniah melainkan memiliki konotasi melengkapi kematangan karakter individu yang lebih percaya diri, terbuka, dan siap menerima tantangan baru.

Kedua; masyarakat terfasilitasi mendapatkan pengalaman edukatif terkait usaha mewujudkan kepemilikan status kebugaran yang baik. Masyarakat terdidik dalam olahraga, tidak sekadar tahu bagaimana cara mengembangkan kebugaran tapi benar-benar mewujudkannya dalam diri masing-masing. Ketiga; penekanan isi indikator ini adalah mengarah pada proses pembelajaran di masyarakat agar komposisi anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan jasmani meningkat.

Keempat; mengarahkan masyarakat memiliki pengetahuan memadai dan implikasi dari keterlibatan dalam aktivitas jasmani yang dipilih. Kualitas keterdidikan bergantung pada kualitas pengetahuannya menopang motif-motif dalam memilih bentuk aktivitas jasmani. Opsi atas sebuah aktivitas lebih dipertimbangkan berdasarkan kepemilikan pengetahuan yang memadai, termasuk pemahaman lengkap tentang manfaat kegiatan olahraga yang dipilih.

Kelima; mengarahkan masyarakat memiliki apresiasi tinggi tentang aktivitas jasmani dalam menopang gaya hidup sehat (life style). Olahraga adalah gaya hidup sehat yang merelasikan dengan gaya hidup sehat lainnya, seperti menjauhkan diri dari kebiasaan merokok, menghindari narkoba, vandalisme, holiganisme, dan lain-lain.

Gaya hidup sehat lainnya juga terkait dengan persoalan ketertiban, kebersihan, kedisiplinan, dan sportivitas. Apresiasi juga berkaitan dengan gaya hidup sehat perorangan dan perilaku masyarakat, meliputi usaha-usaha preventif menjauhkan dari kemungkinan terjangkiti penyakit secara fisik, moral, dan sosial. ●