Rabu, 30 April 2014

Para Intelektual

Para Intelektual

Armada Riyanto  ;   Pengajar Filsafat STFT Widya Sasana Malang;
Sedang Ber-semester Sabat di Depaul University, Chicago, Amerika Serikat
KOMPAS, 29 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
Pendidikan itu mencerdaskan dengan keseluruhan proses yang memanusiawikan. Oleh karena itu, para tokoh intelektualnya, para gurunya, memancarkan dan mengalirkan integritas.

Ada seorang guru yang mengalami penderitaan berat, tetapi dia tak jera. Ia tidak tergiring menjadi penjual integritas ke-guru-annya. Sebaliknya, ia makin cinta dan menghadirkan diri sebagai agent of change di dunianya.

Dia berasal dari Cekoslovakia, negara yang kini terbelah dua, Ceko dan Slovakia. Oleh ayahnya dia dikirim ke Indonesia dengan harapan mendapat masa depan lebih baik karena keluarganya yang berdarah Yahudi semua meninggal di kamp konsentrasi Hitler. Hanya satu saudaranya yang bisa melarikan diri.

Meski demikian, awal-awal kehidupannya di Indonesia tak kalah berat. Tentara Jepang menggiringnya ke interniran di Cimahi selama dua tahun, masuk kubangan penganiayaan dan penderitaan walau bukan orang Belanda. Untunglah ia selamat.
Energinya yang tiada habis memungkinkan jiwa mudanya berkelana hingga memperoleh beasiswa doktoral di Cornell University. Disertasinya tentang ”Islam Indonesia di Saat Pendudukan Jepang” menjadi emblem intelektualitas dan pasionitasnya akan sejarah modern Indonesia.

Guru itu bernama Harry Jindrich Benda. Sebagian sahabat memanggilnya Heinz Benda. Lahir tahun 1919 dan wafat di usia terbilang muda, 52 tahun.

Dalam studi sejarah Indonesia modern namanya tidak mungkin dihapus dari catatan kaki dan daftar kepustakaan karena pemahaman intelektualnya yang luar biasa mengenai dinamika politik Indonesia sesudah merdeka.

Dalam beberapa tulisan tentang keterkaitan politik dan para intelektual, ia sangat konstan dalam kritik mengenai ”pengkhianatan intelektual” oleh para cendekia. Ia tidak ingin mereka terjebak dalam ”pelacuran intelektual” dan ”elitisme”.

Bisakah intelektualitas ”dikhianati”? Bisa, halnya nyata saat integritas pendidikan digiring kepada pemihakan kekuasaan. Atau, saat kekuasaan politik mengangkangi skema idealitas pendidikan. Pendidikan tercebur ke kubang kekuasaan saat terjadi pengkhianatan intelektual. Intelektualitas tidak lagi mengabdi anak didik, melainkan ideologi kekuasaan.

Kapan ”pelacuran” intelektual terjadi? Ketika segala apa yang menjadi komponen ”integritas” dijual murah untuk kenyamanan dan keenakan sementara. Komunitas intelektual yang secara murah bermesraan dengan kekuasaan atau ideologi—dalam discernment ala Harry J Benda—berimpitan dengan pelacuran intelektual.

Elitisme

Dalam Non-Western Intelegentsias as Political Elites (Journal of Politics and History, nomor 6, 1960) Harry J Benda berkata, keterkaitan intelektualitas dan ke-elite-an posisi dalam masyarakat tidak bisa dimungkiri.

Dalam societas yang sedang dilanda euforia demokrasi dan secara primitif masih mengawali langkah-langkah pembenahan struktur ekonomis, sosial, dan budaya, prinsip Platonian ”raja filosof” menemukan rumahnya.

”Raja” merupakan terminologi cetusan kekuasaan dan kekuatan politis. ”Filosof” menunjuk pada kehadiran para intelektual.

Prinsip ”raja filosof”, yang dalam makna aslinya di Republic (Plato), menunjuk kepada necesitaskehadiran pemimpin yang harus mengerti prinsip keadilan, kini dalam elitisme menjadi emblem mesranya intelektual dengan penguasa.

Alih-alih para intelektual mampu mengarahkan penguasa politik, yang hampir selalu terjadi adalah kebalikannya. Para penguasa mempekerjakan dan mendominasi para intelektual. Intelektualitasnya menjadi ”senjata ideologis” penguasa untuk menaklukkan semua musuh politiknya.

Para teoritikus kritis menyebutnya ”intelektualitas instrumentalis” (Max Horkheimer, Eclipse of Reason, 1947). Pendidikan sebagai wahana kemanusiaan lantas bergeser menjadi sekadar ”instrumen kekuasaan”.

Inilah yang dicemaskan oleh Harry J Benda mengenai para eksponen pendidikan di Tanah Air. Elitisme menindas integritas para pendidik.

Elitisme terjadi ketika intelektual melirik kekuasaan dan menanggalkan tugasnya mengabdi kemanusiaan. Saat intelektualitas berada di pinggiran kekuasaan, saat itu pula berhenti segala idealisme mengenai pendidikan.

Para intelektual senyatanya adalah manusia biasa. Mereka suka bercengkerama dalam kenyamanan dan senang dalam sangkar indahnya kekuasaan. Namun, berbeda dengan rakyat biasa, para intelektual memiliki kekuatan bahasa ilmiah.

Dalam buku kebijaksanaan kuno terdapat ungkapan, ”Lebih baik dia diikat lehernya dengan pemberat besi dan ditenggelamkan di laut daripada menyesatkan budi dan batin anak-anak.” Ungkapan ini tidak lain hendak menegaskan ”tugas suci” setiap proses pendidikan dan kewajiban indah para tokohnya.

Akhir-akhir ini ada gejala-gejala nyata perihal campur aduk pesona kekuasaan bersanding dengan para elite pelaku pendidikan. Memang siapa pun senang ”jago”-nya menang dalam persaingan politik.

Namun, belajar dari sosok Harry J Benda, seharusnya kehadiran para intelektual menjadi lentera integritas manusia atau obor di kegelapan politik. Setiap isyarat peluk-mesra yang menandai tendensi pemihakan kekuasaan selalu menjadi tanda mundurnya kualitas pendidikan.

Pendidikan mempromosikan prinsip kesetiaan pada kebenaran. Dengan berdiri pada fondasi integritas, para pelaku pendidikan semestinya tidak gentar mengkritik setiap penyalahgunaan bahasa penguasa dan mengajar kesetiaan pada keadilan dan perdamaian tata politik bangsa. Peran mereka dalam sejarah memiliki karakter transisional sebagai agen perubahan (agent of change), bukan perubahan yang menindas tetapi memanusiawikan.