Senin, 28 April 2014

Politik “Orang Baik”

Politik “Orang Baik”

Munawir Aziz ;  Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM
SUARA MERDEKA, 26 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
INDONESIA membutuhkan orang-orang baik untuk kembali menghiasi kursi parlemen dan tampuk kepemimpinan presiden. Pemilu 2014 menjadi pertaruhan politik bagi warga negara. Ajang pemilu tahun ini, tak saja merombak peta kekuatan politik antarparpol, tapi juga menentukan arah kebijakan nasional. Gerbong politik di DPR mengalami perombakan dengan hasil akhir dari pertarungan politik anggota legislatif dalam pemilihan umum.

Nakhoda kepemimpinan mengalami dinamika dengan kompetisi calon presiden yang bersiap maju pada 2014. Joko Widodo, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie dan beberapa tokoh lain mengisi bursa calon presiden, bersiap menata koalisi dan mencari pendamping dalam paket kepemimpinan.

Tentu hal ini menjadi perbicangan penting dalam sketsa politik. Di jajaran nasional, visi politik pemimpin bangsa menentukan masa depan pendidikan, ekonomi, dan budaya bangsa. Siapa presidennya berdampak pada visi dan kinerja yang menggerakkan roda politik. Pertarungan para politikus mencari posisi dan kursi pada Pemilu 2014 merupakan kontestasi untuk menghiasi wajah Senayan 5 tahun ke depan.

Di level legislasi, pada ranah nasional dan daerah, akan akan berdampak pada penyusunan kebijakan yang menentukan nasib sumber daya alam di pelbagai daerah. Silang-sengkarut polemik tambang menjadi salah satu pembahasan berkait kepentingan anggota DPR/DPRD.

Lima belas tahun reformasi telah mengubah wajah politik negeri ini. Pada awal reformasi, ketika politik negeri ini mencari arah, terjadi gesekan di panggung politik: perebutan kekuasaan dan beredarnya kasus korupsi. Lebih dari 200 kepala daerah tersandung kasus korupsi. Data media pada 2011, 138 bupati/wali kota dan 17 gubernur terjerat kasus korupsi. sedangkan, tahun 2013 meningkat drastis.

Data Kemendagri pada Februari 2013, 290 kepala daerah berstatus tersangka, terdakwa, dan terpidana. Dari jumlah tersebut, 251 kepala daerah atau sekitar 86,2% terjerat kasus korupsi. Data ini menjadi catatan penting mengingat visi politik negeri ini untuk memerangi korupsi.

Di tengah cermin kusam tentang pemimpin, muncul sosok-sosok inspiratif yang membawa perubahan dalam lanskap politik. Jokowi dan Ahok terbukti membawa perubahan bagi DKI Jakarta, selama sekitar satu setengah tahun kepemimpinan. Kemudian, Jokowi maju sebagai capres dari PDIP, meskipun banyak kalangan ingin dirinya menyelesaikan problem masyarakat urban Ibu Kota.

Selanjutnya, Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng), dan Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung) menghadirkan semangat baru dalam ranah politik. Jika melihat rekam jejak kepemimpinan, kehadiran figur-figur inspiratif tersebut membawa perubahan dalam gaya politik tiap daerah.

Politik Transformatif

Ganjar di Jawa Tengah mendobrak model komunikasi politik dengan menggandeng petani, dan mendorong desa/kampung mandiri. Di Surabaya, Tri Rismaharini ber­hasil menjadikan wajah kota yang segar dan penuh taman. Aspek keamanan dan kebersihan menjadi prioritas untuk menata Sura­baya, sebagai ikon Jawa Timur. Di Bandung, Ridwan Kamil menggebrak dengan beberapa program prioritas: pembenahan transportasi, kebersihan kota, serta komunikasi antarawarga dan kantor dinas.

Visi kepemimpinan merupakan kekuatan dari kehadiran pemimpin inspiratif. Kepemimpinan yang inspiratif dan transformatif berdampak pada harapan baru yang menjalar menjadi keberpihakan media, antusiasme media, dan semangat pada jajaran birokrasi. Inilah model kepemimpinan politik yang berorientasi masa depan.

Belajar dari sejarah, warga Indonesia sudah mulai bergerak mencari pemimpin inspiratif dan transformatif. Pemimpin inspiratif mampu mencipta inovasi, menghadirkan ide dan membawa semangat dalam visi politiknya. Adapun pemimpin transformatif, mampu menggerakkan ide dan inovasinya dalam kebijakan yang mampu diaplikasikan oleh jajaran birokrasi. Pemimpin tak hanya inspiratif tapi juga transformatif: inilah masa depan dari karakter figur pemimpin-pemimpin negeri ini.

Ketajaman menganalisis persoalan daerah, kepemimpinan yang komunikatif, visi yang kokoh dan keberpihakan pada kepentingan rakyat menjadikan pemimpin mampu menyelesaikan problem daerahnya. Analisis terhadap permasalahan daerah dapat dirasakan dengan terjun langsung melihat kondisi riil warga. Komunikasi intensif menjadi jembatan ide-ide pemimpin dengan media massa dan warga. Kekokohan visi akan menjadi tameng dari kompromi politik yang hanya menguntungkan parpol atau golongan.

Selain Ganjar, Ahok, dan Ridwan, tentu masih banyak kepala daerah yang visioner. Dari 34 provinsi dan 511 kabupaten/kota, ada banyak tokoh yang siap membenahi daerahnya dengan visi politik yang berpihak pada kepentingan rakyat. Hanya perlu menyambung garis komunikasi yang kuat agar gubernur-kepala daerah yang visioner dapat saling berkomunikasi dengan berpijak pada visi, bukan kepentingan partai.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang inspiratif-transformatif. Melalui Pemilu 2014, saatnya negeri ini dipimpin mereka yang visioner dan mampu mengimplementasikan ide-ide kreatifnya. Pileg 9 April sudah berlalu, mereka yang menjadi wakil rakyat siap mengeksekusi ide dan program kerjanya. Akankah presiden-wakil presiden, hasil Pilpres 9 Juli nanti, mampu membawa Indonesia yang lebih baik? Sejarah yang akan membuktikan, dan kita wajib mengawal. ●