Senin, 02 Mei 2016

Pesona Istanbul

Pesona Istanbul

Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 29 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Maret 1985 saya pertama kali menginjak Istanbul, Turki, dengan tujuan meneruskan studi pascasarjana di Universitas Istanbul, sebagaimana dokumen yang saya terima dari kedutaan Turki di Jakarta.

Saya ke Turki atas tawaran Menteri Agama Munawir Sjadzali. Setiba di Istanbul, setelah istirahat sejenak di hotel, saya langsung mendatangi pemimpin Universitas dengan menunjukkan surat pengantar Kedutaan Turki di Jakarta. Sebuah kampus megah dan klasik. Namun, yang membuat kaget dan kecewa, ternyata bahasa pengantarnya bahasa Turki.

Menurut penjelasan pimpinan fakultas, dibutuhkan waktu dua tahun untuk mendalami bahasa Turki guna membaca dan menulis karya ilmiah setingkat disertasi. Saya putuskan untuk mencari kampus lain, tetapi mesti diproses dari awal lagi. Maka saya menghadap duta besar RI di Ankara, Marsekal Abdulrachim Alamsyah.

Dengan gesit dia langsung mencari informasi, bahkan langsung membuat janji dengan rektornya, yaitu kampus Middle East Technical University (METU), Ankara. Keesokan harinya kami ke kampus. Hatiku langsung jatuh cinta. Sebuah kampus besar, dikelilingi hutan, terdapat lapangan sepak bola, banyak lapangan tenis, dan gedung-gedung fakultas serta asrama mahasiswa.

Saya mendaftar ke fakultas sosial, jurusan filsafat, namun mesti menunggu karena pembukaan semester baru tiga bulan lagi. Di negara orang, tiga bulan waktu berjalan terasa sangat lama. Untuk pulang ke Jakarta biaya tidak ada. Membaca kegundahan saya, Pak Dubes yang sangat baik hati ini menawari saya tinggal di rumah dinas.

Jadi, selama tiga bulan saya isi dengan kursus bahasa Turki, bahasa Inggris, dan rajin olahraga badminton serta tenis bersama teman-teman KBRI Ankara. Tiba harinya masuk kuliah dan tinggal di asrama, layaknya tinggal di kota kecil, international small city. Semua kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan kesehatan gratis.

Belasan bus kampus antar-jemput karyawan dan mahasiswa hilir-mudik setiap hari di METU-Ankara. Yang paling berat adalah pisah dengan keluarga. Beasiswa setiap bulan hanya sekitar USD100. Jika untuk ukuran gaya hidup sewaktu di pesantren, tentu ini sudah mewah. Ini hanya standar untuk mahasiswa bujangan, mengingat semua fasilitas belajar terpenuhi.

Tetapi sebagai mahasiswa yang berkeluarga dengan dua anak, sungguh ini suatu tantangan baru, mengingatkan saya waktu tahun 1974 mengadu nasib ke Jakarta dengan kondisi miskin. Untunglah saya berdua dengan Amin Abdullah dari UIN Yogyakarta yang juga pejuang kehidupan bermental tahan banting. Pernah juga terpikir pulang melamar kuliah ke Kanada atau AS.

Tetapi, saya pikir temanteman akan menilai kami lari dari gelanggang perang. Tidak konsisten dengan niat dan tekad untuk studi ke Turki. Di lain sisi, membayangkan untuk menyelesaikan program master dan doktor dengan beasiswa kecil dan pisah dari keluarga, hati dan pikiran ini ngelangut. Ternyata kuliah di luar negeri dan pisah dari keluarga itu sangat berat.

Yang membuat saya tetap optimistis dan semangat adalah, pertama, melihat dari dekat Kota Istanbul yang begitu indah dan menyimpan kekayaan sejarah luar biasa. Turki satu-satunya negara muslim yang tidak pernah dijajah Barat, bahkan menaklukkan sebagian wilayah Eropa. Kedua, sikap Pak Dubes yang selalu siap membantu mencari solusi setiap ada problem, termasuk mencarikan tiket pulang ke Tanah Air setiap liburan musim panas.

Ketiga, suasana dan fasilitas kampus METU yang memungkinkan kami belajar serius. Kota Istanbul semula bernama Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium atau Kerajaan Katolik Romawi Timur, yang direbut oleh pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453. Drama peperangan yang berlangsung 50 hari ini sangat heroik, masing-masing mengerahkan pasukan dan strategi perang yang selalu menjadi kajian sejarah sampai hari ini, bahkan di Istanbul terdapat museum panorama penaklukan Konstantinopel itu dalam film tiga dimensi.

Pengunjung serasa berada di tengah medan pertempuran. Kejatuhan Konstantinopel ke tangan kekuasaan Islam seakan sebagai perimbangan dengan jatuhnya Granada pusat Islam di Spanyol yang jatuh ke tangan penguasa Katolik. Meski saya tamat S-3 dari METU pada 1990, setiap ada kesempatan saya dengan senang hati berkunjung ke Turki, khususnya Istanbul yang penuh pesona.

Belum lama ini, April 2016, saya ke Istanbul menemani Wapres Jusuf Kalla menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi OKI, yang dihadiri sekitar 30 kepala negara anggotanya. Tiga buah Jembatan Bosporus yang menghubungkan daratan Asia dan Eropa memperteguh posisi Kota Istanbul sebagai penghubung budaya Barat dan Timur, menyimpan warisan sejarah era Yunani, Katolik, Islam, dan peradaban kontemporer yang kesemuanya masih bisa dilihat dan dirasakan.