Senin, 02 Mei 2016

Tokoh Moderat dan Apa Adanya

Tokoh Moderat dan Apa Adanya

Bachtiar Nasir  ;   Pimpinan AQL Islamic Center
                                                   KORAN SINDO, 29 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub adalah tokoh Islam yang moderat, sederhana, apa adanya, tetapi tegas. Ulama kelahiran Kemiri, Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 ini memiliki kapabilitas mumpuni khususnya di bidang hadis.

Beliau juga multitalenta dan memiliki hubungan yang baik dengan berbagai kalangan. Dalam masalah keumatan, KH Ali Mustafa sangat dikagumi para tokoh dan pemuda Islam. Karena itu, kita semuanya kehilangan Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta itu dengan berpulangnya ke Rahmatullah.

Karena sikap tegas beliau, secara keilmuan sering kali beliau berbenturan pendapat dalam beberapa masalah. Namun, beliau memilih pendapat yang diyakini kebenarannya. Misalnya ketika menjabat sebagai wakil ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2005-2010), tidak jarang berbeda pendapat dengan ulama lainnya.

Tapi begitulah sikap dan ketegasan seorang ulama. Beliau memilih sikap dan gaya bicara yang sangat tegas. Sering kali orang lain salah paham. Itulah sikap pertengahan yang sangat terasa dan tampak dengan jelas dari KH Ali Mustafa sebagai seorang ulama. Dari sisi keilmuan, tidak diragukan.

Beliau adalah alumni Fakultas Syariah, Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi (1976-1980) dan mengambil program magister di Fakultas Pascasarjana, Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi, Spesialisasi Tafsir Hadis (1980-1985). Namun, beliau juga adalah sebagai tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU) di posisi terhormat, yaitu di Komisi Fatwa.

KH Mustafa adalah ulama yang tidak melulu berdiri sebagai sosok penceramah, tetapi juga sebagai akademisi sekaligus sebagai dai dengan kualitas nasional dan internasional. Kiprahnya di dunia Islam dikenal sebagai seorang tokoh besar NU yang menduduki jabatan sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Fatwa. Beliau juga berperan aktif di dunia internasional sehingga banyak karyanya yang ditinggalkan semasa hidupnya.

Selain itu, beliau memiliki komunikasi yang baik dan mampu berinteraksi dengan media mainstream. Karena itu, beliau sangat aktif menulis dan juga sangat aktif menyikapi berbagai masalah-masalah sosial dan isu-isu kekinian yang berkembang. Selain sebagai penulis, beliau juga aktif dalam interaksi sosial.

Bahkan, beliau memiliki semangat yang tinggi untuk turun langsung dan berhadapan dengan masalah-masalah umat. Itulah yang membuat para pemuda dan tokoh di Indonesia kagum kepada beliau. Terlepas dari berbagai kesibukan di bidang keumatan, beliau juga gigih membangun lembaga pendidikan.

Almarhum adalah seorang multitalenta dalam bidang dakwah mulai manajemen, komunikasi massa, akademik, media mainstream, hingga tulis-menulis. Beliau juga adalah seorang kiai dan pengasuh di lembaga yang dipimpinnya di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Pisangan Barat, Ciputat. Satu hal yang penting kita teladani dari beliau adalah keberanian dan ketegasannya.

Sebut saja dalam menyikapi maraknya kampanye lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Mantan imam Masjid Besar Istiqlal ini secara tegas menyatakan bahwa LGBT akan menghancurkan bangsa Indonesia jika itu tidak dicegah. Pencegahan LGBT sama pentingnya memerangi narkoba, konflik, dan terorisme.

Dengan terang-terangan pula, beliau mengungkap ada oknum-oknum yang berupaya merusak bangsa Indonesia dengan menerima aliran dana United Nations Development Programme (UNDP) untuk program LGBT di Indonesia. Dari sosok beliau juga terpatri keteladanan dalam memegang teguh prinsip keagamaan.

Salah satu ulama yang berani mengkritik liberalisme Islam di Indonesia adalah sosok KH Ali Mustafa. Kritik beliau terhadap liberalisme sama kerasnya terkait dengan isu radikalisme dan terorisme. Pandangan beliau tentang terorisme tidak menggunakan kaca mata kuda bahwa terorisme juga dapat lahir karena kebodohan dalam memahami agama.

Artinya, pendidikan agama sangat penting untuk membentuk karakter umat. Tentu yang diharapkan dari kalangan tokoh dan pemuda Islam saat ini adalah sikap kritisnya kepada liberalisme dan sekularisme jangan sampai mati. Dalam hal ini, umat Islam harus berani melawan berbagai sihir dan syirik pemikiran yang tengah menyerang kaum muslimin itu.

Sihir dan syirik pemikiran tak lain adalah pemikiran sekularisme, pluralisme, dan liberalisme yang terus mewabah di negara-negara berpenduduk muslim, termasuk Indonesia. Salah satu sihir yang merusak umat Islam adalah tersiarnya istilah yang mengatakan tidak apa-apa tidak salat asalkan tidak korupsi.

Ini salah satu contoh cara berpikir yang menyesatkan. Kelompok anti-Islam seperti liberalis memang sengaja mencampuradukkan antara ketauhidan dan isu antikorupsi. Sulit mencari sosok seperti beliau, tetapi apa yang ditinggalkan selama ini memberikan manfaat baginya dan memperberat timbangan amalnya di akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.