Rabu, 11 Mei 2016

Isra Mikraj dan Salat Transformatif

Isra Mikraj dan Salat Transformatif

Muhbib Abdul Wahab ;   Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah
                                                    KORAN SINDO, 04 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Salah satu buah audiensi langsung dengan Allah SWTdalam perjalanan Isra dan Mikraj Rasulullah SAW adalah perintah salat lima waktu. Dalam Islam satu-satunya ibadah yang kewajibannya dengan cara ”mengundang langsung Nabi-Nya” ke Sidratil Muntaha adalah salat.

Nabi SAW pernah bersabda: ”Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah salat.” (HR Ahmad). Jadi, salat merupakan ibadah terbaik (ibadah paling banyak mengandung hikmah, kebaikan, dan energi positif) bagi kehidupan muslim. Jika salat merupakan ibadah terbaik, sudahkah kita melakukannya dengan sebaik-baiknya (ikhlas, khusyuk, penuh konsentrasi, dan menginspirasi) sehingga memperoleh kebaikannya bagi kehidupan kita?

Mengapa banyak mushalli (pelaku salat) sekaligus pelaku kejahatan seperti korupsi dan aneka kemaksiatan lain? Mengapa salat yang sudah dilakukan sejak kecil (minimal sejak akil balig) seolah tidak membekas dalam diri pelakunya sehingga salat yang dilakukan berjamaah lalu dibarengi korupsi berjamaah seakan-akan menjadi lumrah? Mengapa salat belum efektif membentengi mushalli dari perbuatan keji dan mungkar?

Gagal Paham Tujuan Salat

Salah satu sebab salat tidak membuahkan akhlak mulia, integritas moral, dan perilaku sosial yang terpuji adalah sang mushalli ”gagal paham” terhadap tujuan salat. Idealnya setiap mushalli menyadari dan memahami sepenuh hati bahwa zikir terbesar adalah melalui salat dan tujuan salat adalah untuk mengingat-Nya.

”Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat hanya untuk mengingat-Ku.” (QS Thaha/20:14). Bagi sebagian orang, salat boleh jadi dimaknai sebatas ibadah ritual (rutin dan hampa makna). Salat dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, bukan sebagai sebuah panggilan keimanan untuk mendekatkan ”keintiman spiritual” dengan Sang Kekasih, Allah.

Dengan kata lain, salat ditunaikan masih dalam rangka memenuhi ”syarat dan rukunnya” sesuai tagihan fikih ibadah, belum menjadi kebutuhan, kebiasaan batin dan kenikmatan rohani untuk menajamkan kepekaan hati dan mencerdaskan pikiran. Jadi, formalitas salat itu tidak lebih dari sekadar ”menyalatkan anggota badan”, belum sampai ”menyalatkan hati, pikiran, dan kehidupan”.

Karena itu, gagal paham tujuan salat merupakan awal ketidakbermaknaan salat itu sendiri. Sangat tidak mengherankan jika kemudian Allah SWT mengkritik orang-orang yang salat (mushallin). Mereka dikategorikan sebagai orang-orang yang celaka karena mereka lalai dari pesan-pesan spiritual dan moral dari salat (QS Al-Maun/107: 4-5).

Secara tegas Nabi SAW juga menyatakan: ”Tidak dianggap salat, orang yang salatnya tidak dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar,” (HR. Ahmad). Jadi, mushalli yang tetap korupsi dan melakukan aneka kemaksiatan itu sejatinya termasuk orang yang salatnya gagal, tidak ngefek dalam pembentukan kepribadian dan integritas moralnya.

Kegagalan tersebut antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan mushalli untuk salat dengan khusyuk atau gagal menundukkan hati dan memfokuskan pikiran pada pesan moral salat. Gerakan dan bacaan salat boleh jadi sudah dipraktikkan dengan baik, namun hati dan pikiran mushalli belumbisa fokus dan hadir dalam substansi dan spiritualitas salat.

Tidak jarang, yang diingat dan hadir dalam salat adalah ihwal lain di luar salat. Hati dan pikiran dipenuhi aneka memori dan aktivitas dialogis di luar zikrullah. Karena itu, salat bermakna harus dimulai dengan tazkiyatun nafsi (penyucian diri): badan, pakaian, tempat, dan hati secara terpadu, dan dilandasi spirit ikhlas yang kuat untuk menyalatkan hati dan pikiran sebelum, selama, dan sesudah salat. Jadi, salat itu harus membuahkan kesalehan multidimensional: personal, sosial, intelektual, politik, kultural, dan sebagainya.

Sinergi Hati dan Pikiran

Sinergi hati dan pikiran yang ”disalatkan” (dilibatkan secara penuh dalam salat) akan lebih bermakna jika setelah salat kehidupan mushalli juga ”disalatkan” (diwarnai dan dihiasi dengan spiritualitas salat). Jika salat dimulai dengan takbiratul ihram sebagai simbol sinergi hati dan pikiran dalam sistem tauhid dengan penuh ketundukan, tanpa kesombongan, karena yang Maha Besar dan Maha Segala-galanya adalah Allah, salat diakhiri dengan salam sebagai simbol integrasi hati dan pikiran dengan kehidupan sosial yang penuh kedamaian.

Jadi, kekhusyukan hati dan pikiran dalam salat harus ditindaklanjuti dengan ”menyalatkan kehidupan”, menindaklanjuti nilai-nilai spiritual dan moral salat itu dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, jika dalam salat secara fisik kita diwajibkan menutup aurat, menutup aurat kehidupan setelah salat juga harus dilanjutkan. Jika dalam salat, hati dan pikiran kita sudah rukuk dan sujud (tunduk dan menghamba hanya kepada Allah), di luar salat sang mushalli juga harus terus menjaga kesetiaan dan ketaatannya kepada Allah.

Jika dalam salat mushalli telah berkomitmen untuk ”iyyaka nabudu wa iyyaka nastain ” (Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), kehidupannya harus ”disalatkan” dengan tidak lagi menyembah ”berhalaberhala modern”, tidak menyembah kekuasaan dan kekayaan, dan tidak pula meminta pertolongan kepada dukun dan paranormal untuk mengubah nasib dan kesuksesan hidupnya.

Jika dalam salat mushalli selalu berdoa ”ihdina as-shirath almustaqim ” (Tunjuki kami jalan yang benar), jalan kehidupan di luar salat yang harus ditempuh adalah jalan kebenaran, yaitu jalan yang diridai Allah, bukan jalan setan, bukan pula jalan orang-orang yang dimurkai Allah, maupun jalan orangorang yang sesat. Menyalatkan kehidupan sama artinya dengan mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual dan moral yang ”disimulasikan” dalam salat menjadi nilai-nilai aktual dalam kehidupan nyata.

Jadi, salat yang bermakna dan membawa keberuntungan mushalli adalah salat transformatif, yaitu salat yang benar-benar membawa perubahan dan perbaikan kualitas hidup menuju kebaikan dan kemaslahatan. Salat transformatif pada hakikatnya adalah ”salat kehidupan” itu sendiri, salat yang memotivasi dan menginspirasi sang mushalli untuk mengawal kebaikan dan kebenaran dengan penuh istikamah, tanpa mudah tergoda dan larut dalam pusaran kenikmatan dunia.

Salat transformatif merupakan salat integratif (anggota badan, hati, dan pikiran) dengan penuh kenikmatan spiritual karena sang mushalli hadir dan berpartisipasi aktif dalam menikmati ”menu spesial dialogis” dengan Allah. Sesuai dengan arti generiknya, yaitu doa, salat transformatif sejatinya memberikan harapan kebaikan bagi kehidupan sang mushalli pada masa depan.

Salat transformatif juga merupakan salat yang dapat member solusi bagi permasalahan kehidupan sang mushalli. Karena itu, salat transformatif pasti membuat sang mushalli tidak merasa galau, kecil hati, pesimistis, dan kehilangan orientasi dalam kehidupannya. Dengan demikian, ”Jadikanlah sabar dan salat itu sebagai penolongmu (solusi dan terapi kehidupanmu). Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS al-Baqarah/2: 45)

Menurut Abduddaim al- Kaheel, dalam Asrar as-Syifa bi as-Shalah, salat yang dilakukan dengan benar dan kontinu secara psikologis dapat membuat hati dalam suasana penuh relaksasi, mental spiritual berada dalam kondisi fresh (segar bugar), sehingga persoalan kehidupan yang dihadapi dapat dipecahkan dengan hati yang bersih dan pikiran yang cerah.

Salat khusyuk dan intensif (tidak sekadar menjalankan salat wajib yang lima waktu, tetapi juga dilengkapi yang sunah) juga dapat mendinamisasikan sistem kekebalan tubuh sehingga sang mushalli tidak mudah terkena penyakit; sebaliknya, mampu melawan dan mengatasi penyakit yang akan menyerang dirinya.

Di atas semua itu salat memang menjanjikan kestabilan jiwa (istiqrar nafsi) dan kedamaian hati sehingga mushalli mestinya tidak mudah marah, tidak emosional, namun memiliki kematangan jiwa dan pikiran yang tenang dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan.

Dan, salah satu hikmah pengaturan waktu-waktu salat fardu (lima waktu) adalah bahwa salat yang khusyuk itu dapat mengedukasi mushalli menjadi orang yang disiplin, menghargai, serta memanaj waktu secara efisien dan efektif. Salat juga harus dimaknai sebagai riyadhah (latihan spiritual) dalam rangka pendakian spiritual (Mikraj ruhani) menuju kedekatan hamba dengan Sang Khaliq di satu sisi, dan di sisi lain salat menjadikan hamba meraih derajat mulia di mata Allah.

Karena itu, kekhusyukan dan kenikmatan salat itu harus ditransformasi dalam kehidupan nyata dengan integritas moral yang penuh kemuliaan dan kebajikan bagi umat manusia. Bukankah salat itu amalan pertama yang akan dihisab (dinilai) oleh Allah SWT di akhirat kelak?

Jadi, kita perlu ”menyalatkan hati, pikiran, dan kehidupan” agar kita bisa meraih kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat, sekaligus mampu menjaga diri dari korupsi dan aneka kemaksiatan.