Selasa, 17 Mei 2016

Guangzhou

Guangzhou

Trias Kuncahyono ;   Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 15 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Guangzhou adalah Kota Bunga. Begitu selalu disebut. Disebut kota bunga mungkin karena indahnya kota itu: yang bersih trotoarnya, rapi, banyak taman, dan banyak lahan hijau. Pohon-pohon beringin dengan rimbun daunnya berjajar rapi seperti tentara berbaris, berdiri tegak di pinggir jalan, dan bunga bermekaran indah warnanya di sepanjang jalan di mana-mana.

Apabila malam hari, lampu-lampu berpijaran dari gedung-gedung tinggi yang berlomba-lomba ingin menggapai langit. Dan, lihatlah betapa indahnya lampu Menara Kanton yang berketinggian (sampai antena puncak) 610 meter dan, jika sampai atap saja, 454 meter. Menara yang berdiri di daerah Chigang Pagoda, Distrik Haizhu, Guangzhou, Tiongkok, itu mulai dioperasikan pada 29 September 2010 untuk Asian Games 2010.

Bunga, menurut Petr Rafaelyevich Fedorov, Direktur Urusan Internasional Radio dan Televisi Rusia (milik negara) dalam "ÄSEM Media Dialogue" di Guangzhou, menyimbolkan kehidupan dan kematian. Dalam mitos dan legenda, bunga memiliki banyak arti. Bunga juga diasosiasikan dengan masa muda, kecantikan, dan kebahagiaan. Akan tetapi, ketika menjadi layu dan mati, bunga melambangkan keringkihan dan begitu cepat berlalu dari kehidupan ke kematian.

Itulah sebabnya bunga menyimbolkan, sekaligus, kehidupan dan kematian. Namun, ketika bermekaran dengan warna yang begitu indah, bunga-bunga tidak pernah beteriak-teriak memamerkan diri, memamerkan keindahannya, berlagak penuh keangkuhan. Karena, memang, ketika bunga mekar, pada saat itu lembut, penuh warna, dan terkadang menebarkan bau wangi, tetapi ringkih.

Dari sinilah muncul kualitasnya sebagai simbol penuh makna. Dan, ketika pada akhirnya layu dan mati, bunga tidak pernah pula mengeluh, menyesali keindahannya yang dalam waktu singkat hilang. Kelopak bunganya yang indah itu rontok satu per satu. Padahal, banyak bunga yang hanya mekar selama beberapa pekan, bahkan hanya pada musim tertentu saja. Ada pula bunga yang hanya mekar beberapa jam, bahkan hanya pada malam hari.

Guangzhou memang kini "bunga" Tiongkok yang mekar di Sungai Mutiara, yang membelah kota berpenduduk 16 juta jiwa itu. Kota yang terletak 120 kilometer barat laut Hongkong dan 145 kilometer utara Makau itu adalah kota terbesar kelima di Tiongkok dan terbesar ketujuh di dunia. Inilah pintu gerbang Tiongkok ke kawasan Laut Tiongkok (China) Selatan, wilayah yang kini diklaim sejumlah negara sebagai milik mereka. Kota inilah tempat lahir Jalur Sutra Laut di zaman Tiongkok kuno (kini kita, Indonesia, juga sedang senang bicara tol laut, yang semoga juga menjadi jalur sutra di masa depan).

Sejarah menceritakan, bangsa Eropa yang pertama kali menginjakkan kaki di Guangzhou-yang dalam bahasa Portugis disebut Kanton-adalah bangsa Portugis, masuk lewat laut pada 1514. Di kota ini, mereka memonopoli perdagangan. Pada abad ke-18, Kanton menjadi salah satu pelabuhan perdagangan terbesar di dunia. Di sini pula pecah Perang Candu Pertama (1839-1842) dan Perang Candu Kedua (1856-1860) yang diakhiri, antara lain, dengan diserahkannya Hongkong kepada Inggris lewat Perjanjian Nanking.

Guangzhou sekarang adalah sebagian dari potret keberhasilan reformasi dan kebijakan membuka diri yang dilakukan Tiongkok sejak lebih dari tiga dasawarsa silam. Kebijakan "Pintu Terbuka" dimaklumkan Deng Xiaoping pada Desember 1978. Sebelumnya, mitra dagang utama Tiongkok adalah Uni Soviet dan negara-negara satelitnya.

Pada 2001, Tiongkok bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, lembaga yang menetapkan aturan perdagangan dunia. Tiongkok berharap keanggotaannya akan menjamin reformasi dan sistem ekonominya yang berorientasi pasar terus bertumbuh dan berkembang. Dan, harapan itu menjadi kenyataan. Kini, Tiongkok menjadi kekuatan besar ekonomi; tidak hanya di Asia, tetapi juga di dunia.

Itulah sukses Tiongkok setelah reformasi dan keterbukaan. Menurut Kishore Mahbubani, hal itu pertama-tama mengafirmasi sebuah revolusi besar dan konstruksi Tiongkok. Itu berarti juga mengafirmasi kekuatan bangsa Tiongkok. Akan tetapi, yang paling penting adalah mengafirmasi otentisitas peradaban dan tradisi rakyat Tiongkok. Kekuatan ini bukan sekadar lagu dan tarian dalam menyambut globalisasi dan praktik-praktik internasional yang telah membawa Tiongkok memasukinya. Ini bukan bentuk xenophobia sempit, tetapi inilah kepercayaan dan harapan besar yang diletakkan pada peradaban Tiongkok kuno. Dan, inilah yang telah membawa Tiongkok, tidak hanya Guangzhou, menjadi kapitalis bendera merah. Yang merah hanyalah benderanya, tetapi roh dan napas bendera itu kapitalis.

Guangzhou, Kota Bunga, terus berbunga dalam segala artinya; melebarkan pengaruhnya lewat Laut Tiongkok Selatan. ●