Selasa, 17 Mei 2016

Memori

Memori

Bre Redana ;   Penulis Kolom UDAR RASA Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 15 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bagaimana sebenarnya mengatasi memori? Peristiwa lama, kota lama, pacar lama, atau apa saja yang hendak kita lupakan kadang muncul berkelebat tanpa kita kehendaki. Memori dan imajinasi: selain jadi rahmat dan keberuntungan, kadang jadi beban.

Tanpa saya bisa cegah, ketika orang membicarakan peristiwa 1965 seperti dalam Simposium Tragedi 1965 di Jakarta bulan lalu, saya membayangkan Umberto Eco yang kini telah jadi roh hadir duduk di sebelah saya. Sebagai filosof, ahli semiotika, sejarah, dan peminat segala hal yang berhubungan dengan keganjilan, mendadak ia bertanya kepada saya.

"Mengapa disebut peristiwa 30 September?"

"Memangnya kenapa, Tuan?" tanya saya takzim. Ia idola saya. Di mata saya, ia seperti dewa.

"Bukankah peristiwanya terjadi tanggal 1 Oktober?"

Jelas semua yang berminat pada sejarah tahu hal itu. Dini hari tanggal 1 Oktober 1965, sejumlah pasukan bergerak dari kawasan pinggiran Jakarta masa itu, Halim Perdanakusuma, menuju Menteng di jantung Jakarta. Di kawasan ini semua jenderal yang jadi target penculikan tinggal. Pasukan disebar ke tujuh rumah yang menjadi sasaran. Kejadian berlangsung sekitar pukul 04.00 pagi.

"Ya, persiapannya, kan, beberapa jam sebelumnya," jawab saya, tak ingin orang asing mengotak-atik anakronisme sejarah bangsa.

"Peristiwa seserius itu dipersiapkan beberapa jam sebelumnya?" dia melotot.

Baru saya sadar. Yang saya hadapi penulis sejumlah novel berlatar belakang konspirasi kekuasaan, dari The Name of the Rose sampai The Prague Cemetary.

"Ya, itu pelaksanaannya, Tuan," saya membela diri, tak mau kehilangan muka. "Kalau persiapannya, seperti ditulis para ahli, berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya."

Dalam hati saya berharap, ia berhenti bertanya. Dalam The Prague Cemetery, ia menggambarkan rumitnya operasi rahasia untuk mendongkel kekuasaan. Selain rumit, juga ia gambarkan berlangsung sangat lama, dengan menanam agen di mana-mana.

Ah, fiksi berbeda dibandingkan sejarah, kata saya dalam hati. Meski kalangan post-modernis saya tahu akan menukas: fakta dan fiksi tak ada beda, Bung.

"Beberapa bulan sebelumnya...," Eco mendesah tanpa menoleh ke saya. "Itu berarti suatu operasi yang direncanakan untuk gagal."

Tak saya tanggapi pernyataannya. Kenyataannya, peristiwa penculikan para jenderal terjadi dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Pada hari yang sama, sekitar pukul 20.00 atau 16 jam sesudahnya, serangan balik oleh Soeharto memorakporandakan kalangan penculik sekaligus membalikkan keadaan.

Tidak ada perlawanan berarti dari pihak komando operasi penculikan. Tokoh-tokohnya telah kabur meninggalkan Halim Perdanakusuma beberapa jam sebelumnya. Begitu pun Presiden Soekarno yang pada 1 Oktober itu sempat berada di Halim Perdanakusuma. Dia telah diungsikan ke Bogor. Tanggal 2 Oktober sekitar pukul 06.00, operasi pemulihan keamanan praktis bisa dianggap beres.

"Bukankah penamaan peristiwanya ganjil?" Eco bertanya sembari menatap saya.

Sudah saya duga, sebagai orang yang berminat pada keganjilan, dia akan bertanya seperti itu. Banyak buku tentang keganjilan ia tulis, antara lain On Ugliness. Mengenai kekuasaan yang selalu membutuhkan sosok musuh, ia menulis kumpulan esai berjudul Inventing the Enemy.

"Yang tengah kami bicarakan bukan kronik sejarah, Tuan," saya membikin ancang-ancang untuk mendebatnya. "Kami tengah membicarakan upaya rekonsiliasi dan maaf. Sing wis yo uwis," kata saya mengutip pernyataan bijak seorang tokoh. Siapa tahu saya ketularan bijak.

"Kalau kronik peristiwa tidak jelas, siapa harus memaafkan siapa?" dia terus mendesak. "Maaf itu mudah. Waktu mampu menyembuhkan luka. Apalagi dalam peristiwa bangsa yang melibatkan begitu banyak orang. Di antara para pelaku dan keturunannya pasti terekonsiliasi dan terhubung dengan sendirinya. Bukan tidak mungkin di antara mereka terjadi hubungan cinta dan pernikahan," ia melanjutkan.

"Iya, Tuan," kata saya seperti pesakitan.

Mungkin kesal, ia menghilang meninggalkan saya.

Mudah-mudahan dia tak datang lagi. ●