Selasa, 17 Mei 2016

Tempurung

Tempurung

Samuel Mulia ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 15 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Entah mengapa beberapa bulan terakhir ini saya mulai berpikir untuk lebih sering bepergian. Bahkan, sampai kepikiran untuk menjual salah satu aset untuk tujuan itu. Saya merasa seperti katak di bawah tempurung kota besar.

Seandainya ayah saya yang kikir itu masih ada dan mendengar cita-cita itu, saya kok yakin ia akan menjerit dan mengusulkan untuk tetap tinggal di bawah tempurung saja. Sejak lama, sejak saya kecil, royal itu adalah predikat yang diberikannya untuk saya.

Gelagapan

Di bawah tempurung itu artinya, yang saya ketahui, yaa... itu-itu saja. Makanya, seperti katak di bawah tempurung, dunia yang saya ketahui itu adalah kemacetan, kurangnya toleransi, mudah naik pitam, tidak menginjak bumi, susahnya bertabiat rendah hati, bermain gengsi, kalau bisa senantiasa bersaing, mengeluarkan isu yang mematikan.

Karena dunia tempurung saya seperti itu, maka katanya, dan saya yakin Anda setuju, saya disarankan keluar dari tempurung itu sehingga saya bisa melihat dunia yang berbeda. Tujuannya ke luar dari tempurung itu cuma satu. Supaya menjadi manusia yang lebih terbuka.

Dengan terbuka, katanya, saya tidak lagi berpikir bahwa dunia sayalah yang paling benar, pendapat sayalah yang paling benar. Bahwa di luar tempurung ada yang bisa hidup sederhana dan tidak bermain gengsi, tetapi tetap bermartabat. Bahwa ada dunia di luar tempurung, yang toleransi itu tidak dianggap sebuah kekalahan, bukan juga sebuah bentuk kepengecutan.

Maka, keluarlah saya dari tempurung bernama Ibu Kota yang selama ini saya anggap sudah sangat lengkap dan tidak perlu harus keluar. Jalan-jalan ke Jawa Tengah yang saya ceritakan dua minggu berturut-turut dalam artikel mingguan ini adalah aksi nyata kalau saya mengeksekusi saran untuk keluar dari tempurung. Saya mau mencoba menjadi "katak" yang enggak gelagapan.

Katak yang tidak gelagapan berbuat baik karena selama ini saya tidak gelagapan berbuat kejahatan. Supaya saya tidak gelagapan mengeluarkan kata-kata yang membangun karena keseringan tidak gelagapan mengeluarkan kata yang menikam, yang jleb, jleb, jleb.

Supaya saya tidak gelagapan mendengar ada orang memiliki pendapat yang berbeda, karena selama ini saya tak pernah gelagapan memaksa dan mengintimidasi orang yang telah diciptakan berbeda dari sononya, untuk dijadikan sama mengikuti cara pandang saya.

"Enjoy the ride"!

Maka, saya melakukan sebuah perjalanan keluar dari tempurung dan bukan sekadar berlibur. Sepulang dari perjalanan itu, saya menjadi katak yang sedikit lebih punya toleransi. Dari perubahan yang sangat sedikit dan tidak signifikan itu, saya merasa kok bepergian itu macam penyedot debu.

Ia menyedot kotoran yang ada di tempurung yang selama ini saya lihat bukan sebagai kotoran, tetapi sebagai sebuah cara bertahan hidup. Sebelum saya melakukan perjalanan itu, saya membaca buku mengenai perjalanan yang akan saya tempuh. Tentu saya membaca waktu masih di dalam tempurung. Ternyata, membaca selama di dalam tempurung sangat berbeda reaksinya dengan melihat kenyataan.

Sekarang saya mengerti kalau tinggal terlalu lama di dalam tempurung, orang akan mengatakan: "Elo bisanya cuma teori doang." Maka, keluar dari tempurung mampu menghilangkan yang doang itu. Di dalam tempurung, saya merasa kebahagiaan itu harus spektakuler, tetapi pengalaman di luar tempurung menunjukkan bahwa kebahagiaan itu bisa berasal dari hal-hal yang sederhana dan bukan sekadar murah.

Seorang penjual batik meluangkan waktu mengantar saya makan nasi rames dan pecel. Kapan terakhir saya rela menyediakan waktu hanya untuk mengantar teman untuk makan? Di dalam tempurung, kemacetan dijadikan alasan sebagai bentuk kalau saya tidak egois.

Saya tidak egois karena kemudian mengirim pesan berikut petanya yang sekarang dengan mudah diunduh dalam sekian detik, sebagai sudah meluangkan waktu untuk orang lain, sudah melakukan kebaikan. Di dalam tempurung terjadi abrasi nurani.

Saya membaca buku untuk menambah pengetahuan, tetapi buku memberi saya keterikatan emosi yang dibayangkan dan bukan yang nyata saya alami. Buku membawa saya melayang ke awan, bepergian mengajak saya menginjak tanah.

Buku memberi saya pengetahuan bahwa kerukunan antarsesama itu baik, tetapi menyaksikan kalau kerukunan itu dieksekusi secara nyata, itu menjadi sungguh berbeda. Buku itu bisa dimisalkan seperti saya dengan mudah mengatakan aku cinta padamu. Bepergian itu mengeksekusi secara nyata kalimat aku cinta padamu itu dengan mengantar teman di tengah kemacetan sambil berkata: "Enjoy the ride!" Jadi tidak teori doang, tidak ngomong cinta doang.

Pengalaman yang saya dapati di luar tempurung itu tidak diperuntukkan untuk mengubah saya saat terjadinya perjalanan itu saja, seperti belajar berbesar hati dengan teman seperjalanan yang gitu deh itu, tetapi saat bertemu dengan klien yang super bawel, atau menjalani hidup yang seperti ayunan.

Berubah menjadi manusia yang berkualitas lebih baik tidak bisa hanya dengan berusaha sekali atau sesekali saja keluar dari tempurung. Saya harus sering melakukannya, dan bepergian adalah salah satu caranya.

Sayang ayah saya sudah tiada. Ia meninggal dalam pengertian bahwa saya adalah anaknya yang royal. Sayangnya, saya juga baru tahu pada usia sesenja ini bahwa bepergian bisa mencabut predikat royal itu. Sayang. ●