Senin, 09 Mei 2016

'Five In One', Ini Yang Membuat 'Sharing Economy' Menjadi Besar

'Five In One',

Ini Yang Membuat 'Sharing Economy' Menjadi Besar

Rhenald Kasali ;   Pendiri Rumah Perubahan
                                                         KOMPAS, 05 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tulisan ini merupakan lanjutan kolom kemarin: Semoga kita sepakat bahwa budaya sharing itu bagus. Dan itulah yang dari dulu selalu diajarkan para orang tua kita.

Dan sharing selalu dikontraskan dengan owning. Maka, sharing economy, dalam hal tertentu bisa lebih memberi ruang bagi hadirnya kewirausahaan baru, ketimbang owning economy.

Keduanya bisa hidup berdampingan, tetapi butuh regulasi yang lebih humanis dan menghormati keberadaan keduanya.

Masalahnya juga ada: kalau dilengkapi dengan teknologi, ia punya efek merombak persaingan. Apalagi kalau perekonomian masih kurang efisien dan terlalu banyak pungutan yang mendistorsi.

Rakyat (khususnya kaum muda) yang berkolaborasi, akan punya cara sendiri membangun kemandiriannya. Baiknya kita periksa kembali ideologi kita berbangsa.

Jadi sharing adalah kerjasama, gotong royong. Dalam perekonomian, dasar gotong royongnya tampak dalam sharing resources. Namanya juga perekonomian, harus ada value creation, yaitu benefit yang bisa di-share, yaitu kesejahteraan.

Anda boleh kasih nama apa saja: spiritual, emotional, material atau monetary benefit.

Benefit itu adalah insentif yang memotivasi manusia, bukan? It's a basic fundamental of human behavior.

Lantas mengapa sekarang tiba-tiba banyak kaum muda yang terlibat dalam sharing economy dan berhasil mengubah dunia? Mengapa ia bisa membuat para incumbent (pelaku bisnis konvensional) jungkir balik? Ini jawabannya: Five in One Strategy.

Five itu mencakup: model bisnis, struktur biaya baru, teori disrupsi, big data analytics, dan sharing resources itu sendiri. Jadi, sharing economy tidak berdiri sendiri. Ia dipadukan dengan teknologi, ilmu statistik realtime dan cara berpikir kaum muda.

Kecuali incumbent menjalankan prinsip "managing like start ups"  saya kira akan banyak yang mengalami kesulitan di sini.

Model Bisnis

Ini adalah mantra lain dalam berkompetisi di abad 21. Singkatnya model bisnis atau business model adalah cara manusia menemukan benefit atau rezeki yang tersembunyi. Bisa langsung maupun tidak. Jadi, harus cerdik karena dunia sudah benar-benar berubah. Ibarat memotong hewan kurban, mereka mencari, "dimana dagingnya?"

Sharing economy juga merupakan business model. Tak perlu beli yang baru, sharing saja yang masih ada lifetime value-nya, yang menganggur (idle). Jangan dikuasai untuk didiamkan, dipagari atau digudangkan.

Regulator bisa mendukung atau sebaliknya mendistorsi sehingga terjadi ekonomi biaya tinggi. Apalagi, kalau mereka hanya fokus pada peraturan-peraturan yang ada Pendapatan Negara Bukan Pajak.

Segala hak milik pribadi kalau selalu harus diinstitusikan dulu, baru di-sharing-kan, tentu menjadi hambatan bagi kerjasama dan biaya.

Kalau kita jeli dengan business model, harusnya kita bertanya mengapa banyak pelaku ekonomi baru yang tak memungut bayaran? Lihat saja mesin pencari Google, Facebook, Twiter, Line, Path, Youtube, bahkan kuliah gratis seperti TEDx dan IndonesiaX.

Melalui business model itulah, para pelaku menggarap key-partners, menggarap keuntungan dari sisi lain dan memilih waktu yang tepat.

Saya ambil saja contoh proyek kereta api cepat yang kontroversial itu. Jepang dan China saja punya business model yang berbeda.

Yang satu ingin membangun lintasan pada jalur kereta  api lama sehingga butuh dana besar untuk pembebasan tanah. Income dari bisnis transportasi itu sendiri: utamanya tiket kereta api.

Sedang yang satunya menggunakan konsep sharing resources dari BUMN (jalan Tol milik Jasa Marga, terminal di area  perkebunan Walini, konstruksinya oleh WIKA, dan operatornya PT Kereta Api) dan mendapatkan keuntungan dari usaha di kawasan TOD: Rumah sakit, Kampus, perumahan, perkantoran, sarana kerja dan sebagainya. Sumber pendapatannya lebih beragam.

Kalau anda belum puas, baca lagi kolom saya ini:  Mereka yang Melakukan Perubahan dengan Cara Sederhana.

Di situ Anda akan membaca, betapa cerdasnya orang kampung dari Pulau Adonara ini membangun desanya.

Bahasa kerennya itu kita sebut business model. Anda juga bisa mereka-reka bagaimana business model kickstarter.com atau kitabisa.com. Silahkan dipelajari.

Predatory dan Disruption

Ekonomi selalu mencari dua jalan: Efisiensi dan kesejahteraan. Untuk itulah Clayton Christensen sejak 20 tahun lalu mengingatkan proses disruption, yang bisa saja berakibat “kehancuran” atau “kemunduran” di antara para incumbent.

Incumbent, menurut teori disruption, akan fokus pada kelompok segmen pasar yang memberi banyak keuntungan padanya dan loyal. Mereka menerapkan  sustaining innovation.

Anak-anak muda, wirausaha baru, yang ingin masuk ke dalam pasar, sebaliknya menerapkan disruptive innovation melalui business model.

Maka biasanya, wirausaha-wirausaha baru “mencari pasar” dari bawah yang harganya murah. Mereka melayani kelompok yang belum menjadi pasar karena soal harga dan diabaikan incumbent.

Tetapi perlahan-lahan terjadi dua hal: wirausaha baru memperbaiki layanan dan teknologi, sedangkan segmen yang di atas tergoda pindah. Apalagi kalau bagus dan jauh lebih murah. Di situlah terjadi proses disruptif. Bergejolak dan ribut.

Lantas yang dikhawatirkan sebenarnya adalah kalau mereka menerapkan strategi temporary, predatory.

Selentingan ini juga beredar kuat di masyarakat karena terbetik kabar, Grab, Uber dan Gojek setiap bulan masih harus mengeluarkan jutaan dollar. Mari kita buka teori dan praktiknya.

Menarik di simak karena sejarah perubahan  25 tahun terakhir ini yang berpola sama.

Mungkin kalau hidup di sini, Google dan Facebook (keduanya juga rugi bertahun-tahun tapi kini menjadi yang terkaya di dunia) juga dituding sebagai pelaku predatory pricing. Mereka menerapkan zero price, freemium. Tapi lihatlah, itu bukan berlaku sementara, tetapi memang business model-nya.

Sementara Amazon yang berbayar, juga lebih dari lima tahun rugi di tengah-tengah popularitasnya. Juga bukan hal yang aneh, semua pendatang baru membutuhkan  2-5 tahun untuk  mencapai titik impas.

Starbuck Indonesia, Sogo, Pizza Hut, dan sebagainya juga mengalami hal serupa, sama dengan yang membuka usaha restoran. Rugi dan harus nombok beberapa tahun di awal.

Nama ya learning curve. Semua pengusaha melewati kurva belajar sampai profit datang.  Tetapi mengapa sebagian dari mereka menerapkan harga yang murah? Sekali lagi pelajari business modelnya.

Big Data Analitics

Akhirnya harus saya katakan bahwa sharing economy tidak berdiri sendiri. Untuk menembus barikade ekonomi berbiaya tinggi itulah publik berkolaborasi, menciptakan sistem sendiri, menemukan business model yang pas, dan mencari teknik-teknik baru untuk mengikis inefisiensi.

Jadi bagian mana yang tidak disukai kaum propaganda yang “tidak welcome” terhadap kehadiran sharing economy? Ekonomi Gotong royong? Business model? Proses disruption? Predatory pricing  (atau learning curve) atau analitics?

Ini five in one sehingga sulit dibendung.

Mekanisme teknologi ini menjadi amat runyam, kalau incumbent dan regulator terlambat belajar ilmu statistik baru yang didasarkan pergerakan data real time.

Ya, generasi tua belajar teori sampling dan data time series, kaum muda tinggal dalam big data dan real time.

Mereka bisa mendeteksi mood public dari kata-kata yang di ucapkan dan ditulis lewat social media, bahkan mereka bisa memetakan siapa menteri yang harus diganti.

Mereka menggunakan NLP ( Natural Language Programming), Memory Based Reasoning (Recommendation), Sentiment Analysis, Customer Segmentation using RFM ( Recency Frequency Monetary) dan Churn Risk analysis.

Senjata analitics itu juga bisa mendeteksi di mana ada permintaan pada waktu tertentu. Dengan begitu pasukan suply dapat dikerahkan untuk menjemput demand at the right time.

Kalau sudah begitu, "daging" ekonominya bisa lebih mudah ditangkap. Jadi usaha mereka   lebih sehat, agile dan lebih sejahtera. Bahkan para driver dalam sistem ekonomi five in one ini harusnya tak perlu lagi bekerja 12 jam.

Hanya dengan bekerja 8 jam saja sehari, sesuai dengan amanat UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (2009), harusnya sudah bisa sejahtera kalau sistemnya efisien. Kecuali regulator berkata lain, maka hasilnya akan berbeda.

Jadi Sharing Economy  dalam proses disruption ini tak berdiri sendiri.  Saya berharap kita tak memilih untuk sekedar menjadi penonton dalam gejolak perubahan ini.

Pelaku lama perlu meremajakan diri, strategizing like startups. Regulator perlu membuka wawasan berpikirnya. Dan para startups tidak cengeng dalam berjuang.

Detail semua ini bisa anda saksikan dalam kuliah umum saya di IndonesiaX.co.id.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan bisa membuat kita lebih kompetitif kalau paham dan terus mengikutinya. Karena dunia terus berubah.