Senin, 21 Maret 2016

Zaman Edan

Zaman Edan

Trias Kuncahyono  ;  Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                       KOMPAS, 20 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sudan, 2013-2014, dikuasai perang saudara. Suatu hari pada 15 April 2014, terjadi pembantaian di Bentiu, sebuah kota di bagian utara Sudan Selatan. Majalah The Economist menggambarkan serangan ke Bentiu itu sebagai ”pembantaian paling sadis” selama perang saudara.

Serangan dan pembantaian tersebut dilakukan ”Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan yang beroposisi” pimpinan Nuer. Mereka membunuh siapa saja yang dianggap musuh dan melawannya. Tentara pemberontak melakukan operasi dari pintu ke pintu, dari masjid ke gereja, dan masuk rumah sakit. Lebih dari 400 orang dibunuh. Seminggu setelah penyerangan di jalan-jalan masih terlihat jenazah yang tak terurus.

Ayak, perempuan muda—berusia 18 tahun—bernasib begitu malang. Ia kehilangan kedua orangtuanya ketika tentara pemberontak menyerang desanya; sebuah desa kecil dekat Bentiu. Ayak tidak hanya kehilangan kedua orangtuanya, tetapi juga kehilangan ”dirinya”.

Ketika sedang melarikan diri mencari selamat, ia ditangkap pemberontak. Dan, diperkosa. Ia diperkosa berkali-kali. Sampul majalah TIME edisi 21 Maret 2016 memajang gambar Ayak yang hanya mengenakan celana dalam, tanpa selembar pun baju. Perutnya buncit karena mengandung sembilan bulan. Foto diambil 8 Desember 2015.

Salah seorang pemerkosa memberinya HIV. Dokter mengatakan kepadanya bahwa penyakitnya tidak bisa diobati. Ia juga sadar tak ada lelaki yang mau menikahinya. Tetapi, ia siap menanggung risiko, akan merawat anaknya, yang akan menjadi satu-satunya anggota keluarganya. Ini karena di Sudan, penderita HIV akan terlempar masuk kasta paria.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, 200.000 perempuan dan anak-anak menjadi korban pemerkosaan ketika Kongo dilanda perang saudara. Jumlah yang hampir sama terjadi di Sudan Selatan. Tetapi, jumlah tersebut, menurut Pablo Castillo-Diaz, spesialis kejahatan seksual dan konflik dari PBB, masih terlalu sedikit.

Ketika pecah perang Bosnia (1992-1995), banyak perempuan diperkosa tentara Serbia. Nasib yang sama banyak diderita para perempuan di Rwanda, ketika negeri itu dilanda perang (1994). Di Irak dan Suriah, kaum perempuan etnis minoritas Yezidi dijual dijadikan budak seks. Sebuah klinik milik PBB di Irak Utara merawat 700 perempuan Yezidi korban pemerkosaan tentara NIIS (International New York Times).

Di Nigeria, Boko Haram menculik ratusan murid sekolah perempuan. Mereka dipaksa kawin, diperkosa, dan dijual sebagai budak seks. ”Pemerkosaan adalah senjata yang jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan bom atau peluru. Peluru hanya mematikan. Tetapi, jika Anda diperkosa, Anda oleh masyarakat akan dilihat sebagai perempuan yang dikutuk. Setelah diperkosa, tak seorang pun sudi bicara dengan Anda; tak seorang pun laki-laki memandangmu; hidup layaknya mati saja,” tutur Jeanna Mukuninwa (28), korban pemerkosaan di Kongo pada tahun 2004.

Orang sering mengatakan, pemerkosaan dalam perang telah setua perang itu sendiri. Perang, dengan demikian, memang benar-benar menghancurkan segala-galanya. Ketika perang, manusia bisa bertabiat seperti binatang. Manusia kehilangan kesusilaan.

Manusia menjadi tidak beradab. Ketidakberadaban ini mendorong manusia menghalalkan segalanya, termasuk menghilangkan nyawa manusia lain dengan mudah tanpa beban; memerkosa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Dan bencana peradaban itu sungguh-sungguh terjadi.

Apakah ini yang disebut oleh RNg Ronggowarsito (1802-1873), pujangga besar budaya Jawa, sebagai Zaman Edan? Pada zaman inilah manusia terjerumus ke dalam kutukan zaman Kalabendu, yang membuat manusia mengalami kemerosotan susila, kemmerosotan moral, menjadi tidak beradab.

Tetapi, NIIS dan Boko Haram—inilah kegilaannya—membenarkan pemerkosaan pada masa perang menurut interpretasi mereka terhadap doktrin religiusnya. Bukankah dengan demikian, bagi mereka, definisi tentang manusia yang disodorkan Plato tidak berlaku. Plato suatu ketika mengatakan, Quid est homo? Homo est animal rationale. Manusia itu apa? Manusia adalah binatang yang mempunyai rasio, berakal budi. Akal budi inilah yang membedakan manusia dan binatang.

Mereka yang membenarkan pemerkosaan (dan juga melakukan pemerkosaan), apa pun alasan dan dasarnya, bisa digolongkan sebagai melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka tentu tidak bisa dimasukkan ke dalam kelompok ”binatang yang berakal budi”. Karena, mereka tunanurani.

Apabila demikian, adalah wajar jika orang mempertanyakan, apakah benar agama menyumbang peradaban dan memajukan kemanusiaan?

Tentu, pertanyaan itu ditujukan kepada mereka yang tunanurani. ●