Senin, 28 Maret 2016

Tentang Sastra

Tentang Sastra

Bre Redana ;  Penulis Kolom UDAR RASA Kompas Minggu
                                                       KOMPAS, 27 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seperti beberapa teman di kantor, beberapa waktu lalu saya mendapat banyak pertanyaan apakah koran edisi Minggu bakal tidak ada. Ada yang gusar bertanya, apakah berarti cerpen dan puisi tamat.

Entah dari mana pertanyaan tadi berasal. Di zaman pemberhalaan media sosial ini, apa yang terjadi di dinding ruang kantor atau kamar tidur Anda bukan tidak mungkin tersebar ke luar. Kalau tidak hati-hati, berapa kali dalam seminggu Anda bercinta orang tahu.

Atas pertanyaan tadi, tentu saja saya bilang tidak. Mana mungkin, puji Tuhan semua di sini berkesadaran kebudayaan adalah roh. Sastra berkemampuan mengungkapkan sesuatu yang tak bisa dinyatakan oleh fakta, hard fact.

Oleh sastra, sesuatu yang solid, dianggap faktual, nyata, tampak kasatmata, berat membatu, bisa diurai lapisan-lapisannya, bahwa segala sesuatu sejatinya memiliki segi yang tidak nampak, ringan, light. Seperti manusia, di balik fisik yang tampak, ada DNA, impuls neuron, yang terus bergerak menentukan kesadaran. Itulah mengapa Milan Kundera menulis novel The Unbearable Lightness of Being.

Sejak lama sastra bergulat di situ. Mitologi, folklor, cerita rakyat merupakan khazanah untuk menjaga kesadaran. Kemajuan peradaban dan modernisasi Eropa, misalnya, sebagian ditentukan oleh kuatnya pemahaman mereka atas sejarah yang membentuk diri mereka sampai ke mitologi-mitologinya. Itu yang disebut spirit.

Kalau Anda masih belum percaya pada fungsi eksistensial sastra, ambil contoh teknologi. Dari waktu ke waktu, teknologi berevolusi dari yang berat menuju ke yang ringan.

Revolusi Industri diawali dengan mesin, berlanjut pada penemuan alat-alat berat. Pada perkembangan berikut, Revolusi Industri berikutnya, revolusi di dunia informasi. Informasi mengalir di antara sirkuit-sirkuit dalam bentuk impuls elektronik. Peranti-peranti berat tetap ada, tetapi mereka mengikuti perintah perangkat lunak. Hardware tunduk pada software.

Masyarakat yang menikmati teknologi sebatas sebagai produk dan tidak terlibat proses kelahirannya tak ambil peduli pada itu semua. Mereka cenderung melihat dari segi praktisnya saja. Ukurannya menguntungkan atau tidak. Untung itu pun dipersempit pengertiannya, menghasilkan duit atau tidak.

Pernah saya mendengar khotbah seorang motivator, yang dengan bangga menyatakan bahwa ia tak pernah membuang-buang waktu baca novel. Sia-sia katanya. Bacaan harus memberi petunjuk bagaimana orang bisa sukses dengan segera. Kalau dekat dengannya, niscaya saya akan bilang, nyuwun duwite Mas. Duit dia pasti banyak, tapi imajinasinya miskin.

Beruntunglah kalau banyak di antara kita tidak percaya pada pemikiran keblinger seperti itu. Pada ranah atau domain yang mengawang dalam dunia digital ini letak pergulatan hidup manusia sekarang. Informasi mengalir deras. Kesadaran memperoleh tantangan baru, setidaknya kesanggupan membedakan antara kenyataan dan kenyataan gadungan, virtual realities. Sudah banyak yang terjebak pada delusi dunia digital.

Sangat berat perjuangan memori ini. Di zaman sebelum berkembangnya perangkat memori tiruan atau artificial memory, memori kita dikuasai oleh kekuatan politik penguasa. Penguasa menentukan, untuk sejarah negeri ini, mana boleh diingat mana tidak boleh dan harus dilupakan.

Otak atau memori yang termanipulasi kekuasaan pada perkembangannya memanipulasi dirinya sendiri. Masyarakat sendiri kini menentukan, siapa ingin berevolusi dalam peradaban siapa ingin tetap primitif, mana hendak diingat mana tidak. Kelompok dominan menekan pihak lain. Kegiatan memutar film atau membicarakan apa yang telah terjadi pada bangsa ini puluhan tahun lalu pun digerebek.

Entah bagaimana kekuatan fisik, kekerasan, soliditas, masih diagung-agungkan untuk menggencet sesuatu yang ringan, light, tidak berwujud, seperti memori kita. Untuk itu, sastra tak boleh tamat. Mengutip Milan Kundera sekali lagi, tujuan sastra adalah untuk menyelamatkan diri kita dari proses menjadi (to be).