Selasa, 22 Maret 2016

Pertama Kali ke Luar Negeri

Pertama Kali ke Luar Negeri

Komaruddin Hidayat  ;  Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                  KORAN SINDO, 18 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sebagai orang kampung dari keluarga miskin, pengalaman pertama kali ke luar negeri dengan pesawat terbang sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Bahkan sejak proses mengurus paspor hatiku sudah berbunga-bunga.

Waktu itu saya mewakili Pengurus Besar HMI menghadiri seminar kebudayaan Islam di Kuala Lumpur, Malaysia. Persisnya pada bulan April 1980. Saya datang bertiga bersama Sahar L Hasan, sekarang aktivis Partai Bulan Bintang (PBB), dan Harry Azhar Azis yang sekarang menduduki jabatan sebagai ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Karena Malaysia dan Indonesia sama-sama menggunakan bahasa Melayu, yang paling mengesankan adalah naik pesawat terbang ke luar negeri sekalipun jarak penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur hanya dua jam. Saya bertemu dengan dua sosok intelektual dan aktivis Malaysia yang sangat populer dan disegani. Pertama Prof Naquib al-Attas, kedua Anwar Ibrahim. Saya membeli dua buah buku Naquib yang berulang kali saya baca ulang karena isinya yang cukup mencerahkan, yaitu Islam and Secularism serta Islam dan Peradaban Melayu.

Prof Naquib melakukan kritik epistemologis sangat mendasar terhadap filsafat Barat yang telah memengaruhi dunia Islam. Dia menawarkan agenda Islamisasi ilmu pengetahuan untuk menangkal proses sekularisasi pemikiran yang meracuni generasi muda Islam. Adapun di buku kedua, Naquib menjelaskan sumbangan bahasa dan peradaban Melayu terhadap penyebaran Islam di Indonesia.

Dikatakannya, terjadi hubungan simbiosis antara penyebaran Islam, bahasa Melayu, dan dinamika perdagangan yang pada urutannya baik Islam maupun bahasa Melayu dengan cepat menyebar ke wilayah Nusantara dengan pusatnya di kota-kota pantai. Budaya pantai yang egaliter juga sejalan dengan karakter Islam dan bahasa Melayu, berbeda dari budaya pedalaman serta karakter bahasa Jawa atau Sunda yang mempertahankan strata sosial.

Dengan ditetapkannya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia, komunikasi sosial berlangsung egaliter dan bahasa Indonesia juga menjadi pengikat kohesi berbangsa dengan masyarakatnya yang sangat majemuk. Salah satu efek pengalaman pertama ke luar negeri yang saya rasakan kala itu adalah munculnya keinginan dan lamunan, kapan bisa ke luar negeri berikutnya?

Bagi keluarga yang berkecukupan, liburan ke luar negeri tentu bukan acara yang menghebohkan. Tapi bagi saya yang masih berstatus mahasiswa, bisa ke Malaysia atas sponsor donatur HMI merupakan kebanggaan tersendiri yang ternyata menjadi pemula untuk jalan-jalan ke
luar negeri pada tahun-tahun berikutnya.

Sampai hari ini saya ingat-ingat sedikitnya 40 negara pernah saya kunjungi, baik sebagai wartawan, undangan seminar maupun untuk rekreasi. Sayang sekali saya tidak membuat catatan tertulis dan lengkap saat menjelajahi berbagai kota dunia dan bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi hidup saya. Misalnya sebagai tamu Muammar Qadafi, diterima dalam kemah di halaman istananya. Ketika pulang diberi uang lalu saya belikan dasi dan parfum karena uang Libya sulit dibelanjakan di luar negaranya.

Dulu hubungan antara Indonesia dan Malaysia saya rasakan hangat dan akrab. Sama-sama rumpun Melayu yang memiliki banyak kesamaan. Indonesia dianggap saudara tua yang disegani. Banyak guru dan dosen Indonesia diundang ke sana untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, Malaysia yang saat ini berpenduduk sekitar 30 juta banyak membuat terobosan dalam bidang pendidikan yang pada urutannya mendongkrak perbaikan ekonomi negaranya.

Sebagai bagian dari negara persemakmuran Inggris, bahasa Inggris masih dipertahankan, bahkan dijadikan bahasa pengantar dalam pembelajaran di kampus, sehingga sangat membantu mempermudah kerja sama keilmuan dengan negara-negara Barat, terutama Inggris dan Australia.  Ini berbeda dari Indonesia yang pernah dijajah Belanda, yang kemerdekaannya diraih melalui pertempuran, sehingga bahasa Belanda pelan-pelan hilang. Di samping pula bahasa Belanda memang tidak menonjol sebagai bahasa ilmiah dan bahasa diplomasi dalam panggung global. ●