Kamis, 24 Maret 2016

Mencerdaskan Masyarakat melalui Sekolah

Mencerdaskan Masyarakat melalui Sekolah

Ahmad Baedowi ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                             MEDIA INDONESIA, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DALAM prinsip mass education program, hubungan simbiosis antara sekolah dan masyarakat selalu menjadi persoalan krusial pada level implementasi. Terkadang sekolah dianggap sebagai lembaga paling kredibel yang bisa dan mampu memengaruhi posisi masyarakat, tetapi tidak jarang juga masyarakat memiliki pengaruh kuat untuk menggerakkan arah dan tujuan sekolah. Karena itu, cukup beralasan jika ada pertanyaan tentang faktor apakah yang paling dominan dalam memproduksi rasa dan nilai superioritas seseorang secara intelektual? Jawabannya ialah sekolah.

Jika sekolah dipercaya sebagai tempat untuk menempa seseorang dalam mengembangkan kapasitas intelektual, dengan ribuan teks dan buku diajarkan dan dibaca secara reguler dan inspiratif melalui serangkaian proses belajar mengajar yang baik, tak mengherankan sampai saat ini masih banyak orang menaruh harapan terhadap eksistensi sekolah.

Meskipun sekolah kerap dikritik sebagai tempat atau karantina yang mungkin saja membelenggu kebebasan manusia dalam berekspresi, hingga saat ini hanya lembaga itulah (sekolah) yang di luar keluarga masih memiliki kekuatan melakukan perubahan, baik terhadap perorangan maupun kelompok.

Hasil pendidikan di sekolah juga yang membuat orang memiliki sistem dan skema nilai (value) seseorang secara material berdasarkan tingkat pendidikannya. Siswa terus dinilai berdasarkan grades/kelasnya, guru dinilai berdasarkan lama dan pengalaman bekerjanya, kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pembiayaan orangtua/komunitas tertentu, dan lain-lain.

Pendek kata semua pendekatan yang berkaitan dengan sekolah selalu memiliki nilai material, yang semakin lebar letak stratifikasi sosial terjadi, semakin besar pula tingkat perbedaan kualitas satu sekolah dengan lainnya. Di zaman yang serbamaterial ini, tujuan sekolah gampang dibentuk berdasarkan teori kapitalisme sederhana: supply and demand.
Semakin masyarakat menginginkan sebuah sekolah berkualitas, kebutuhan pembiayaan sekolah pun meningkat.

Peran masyarakat

Dalam buku Paul Tough, How Children Succeed: Grit, Curiosity, and the Hidden Power of Character (2013), jelas dibuktikan bahwa keberhasilan seorang anak ternyata tidak terletak pada bekal seberapa banyak pengetahuan yang mereka dapatkan ketika di sekolah. Namun, justru bergantung pada seberapa efektif proses pendampingan orangtua dan guru ketika mereka tumbuh dan berkembang.

Bagi seorang anak, belajar terjadi bila mereka dihadapkan dengan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Sesuatu yang baru tersebut sebaiknya dan seharusnya adalah daftar kualitas karakter anak, seperti kegigihan, rasa ingin tahu, dan hormat pada orang lain.

Keterampilan nonkognitif, seperti kegigihan, rasa ingin tahu, dan hormat pada orang lain, ternyata memegang peran penting dalam kesuksesan seseorang di masa depan. Jenis keterampilan nonkognitif biasanya tumbuh dalam sebuah lingkungan belajar yang sehat, penuh harmoni, dan tentu saja suasana belajar yang selalu menyenangkan. Berbeda dengan lingkungan belajar yang membuat anak-anak seperti di dalam penjara dan tak membebaskan. Jika lingkungan belajar tidak kondusif, peluang stres lebih besar akan terjadi pada anak-anak, yang dalam jangka panjang akan menumbuhkan orang-orang yang tidak siap menerima kegagalan.

Ada kutipan menarik dari buku Paul Tough (2013) di atas. Katanya, 'the part of the brain most affected by early stress is the prefrontal cortex, which is critical in self-regulatory activities of all kinds, both emotional and cognitive. As a result, children who grow up in stressful environments generally find it harder to concentrate, harder to sit still, harder to rebound from disappointments, and harder to follow directions. And that has a direct effect on their performance in school.”  Ini artinya jika dunia pendidikan kita tidak peduli dengan lingkungan belajar yang baik dan sehat, anak-anak akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab.

Lingkungan belajar yang baik dan positif hanya akan tercipta jika ada peran yang besar dari orangtua dan masyarakat. Bentuk partisipasi masyarakat dan orangtua haruslah konkret. Setidaknya dapat mencakup program pemberdayaan orangtua dan kemitraan masyarakat dan sekolah (partnership/communal parents and teachers collaborate equitably). Dalam banyak penelitian tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan, bentuk kedua berupa kemitraan sekolah dan masyarakat yang sederajat (equal partnership) merupakan strategi yang paling efektif dan memberikan pengaruh besar terhadap hasil belajar siswa (Bauch and Goldring, 1998).

Dari program pemberdayaan ini akan muncul kesimpulan, apakah misalnya sebuah sekolah harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip pembiayaan yang berorientasi pasar atau dibangun berdasarkan kemampuan masyarakat itu sendiri. Di tengah desakan liberalisasi ekonomi yang merambah hingga ke jantung sekolah, pola partnership sekolah dan masyarakat ialah pilihan strategis dan fundamental untuk menentukan posisi masyarakat dan sekolah secara bersamaan.
Posisi tawar masyarakat terhadap kualitas sekolah harus terus digiring ke arah pertumbuhan yang sesuai dengan tingkat kemampuan pembiayaan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, hal ini diharapkan akan menjadi pertanda bangkitnya kepedulian masyarakat terhadap sekolah.

Penting bagi setiap komunitas sekolah untuk membentuk dan mengelola rasa memiliki (ownership) dan kecintaan terhadap sekolah melalui serangkaian proses yang disepakati bersama. Langkah awalnya ialah dengan mencoba berbagi tanggung jawab (shared responsibility) dan berbagi dalam membuat keputusan (shared decision making) terhadap setiap program dan kebijakan yang direncanakan sesuai dengan kesepakatan bersama.

Tak mudah bagi setiap sekolah untuk melakukan hal ini karena biasanya sekolah selalu mengambil alih secara penuh tanggung jawab pelaksanaan sekolah tanpa melibatkan para pemangku kepentingan yang terlibat di dalamnya. Saatnya pemerintah mengembalikan partisipasi masyarakat secara penuh terhadap sekolah agar pada waktu yang bersamaan masyarakat juga menjadi semakin tecerdaskan melalui interaksi yang seimbang dengan sekolah. ●