Kamis, 31 Maret 2016

Ketegasan

Ketegasan

Limas Sutanto ;  Psikiater Konsultan Psikoterapi; Tinggal di Malang
                                                       KOMPAS, 30 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hari-hari kini, di negeri kita, sepertinya tidak pernah sepi dari warta tentang penangkapan terduga koruptor, penggeledahan, dan pemeriksaan tersangka korupsi oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebagian besar, hampir 100 persen, dari orang-orang yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK dinyatakan bersalah setelah diadili dalam pengadilan tindak pidana korupsi.

Rangkaian kata itu rasanya sudah mencukupi untuk membangkitkan kekaguman kepada KPK. Kinerja KPK yang begitu kuat itu seperti tidak hirau pada upaya-upaya pelemahan yang sedemikian bertubi dan keras menderanya. Pergantian kepemimpinan komisi ini pun agaknya tak banyak berpengaruh terhadap kinerja lembaga tepercaya itu. Rupanya, kehebatan KPK bukan terutama terletak pada para pemimpinnya, tetapi pada seluruh hamparan pegawai yang bekerja di dalamnya. Seluruh pegawai dalam kolektivitas semangat yang begitu kuat dalam memberantas korupsi itulah yang merupakan kekuatan utama KPK.

Fenomena KPK bukanlah sekadar rangkaian peristiwa yang mendatangkan kekaguman dan optimisme. Pada tingkat perenungan yang lebih khidmat dapat dirasakan bahwa ia mencerminkan imajinasi bangsa Indonesia tentang hari depannya yang lekat dengan nilai-nilai kejujuran, ketaatasasan, ketegaran, keteguhan, keberanian, dan kepercayaan.

Nilai-nilai itu pulalah yang selama ini menggerakkan dan merawat militansi seluruh pegawai KPK dalam memberantas korupsi. Melihat sepak terjang dan prestasi KPK adalah menyaksikan gambaran tentang hari depan yang didambakan oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi, sungguhkah nilai-nilai itulah yang paling mendasar?

Perjalanan sebuah bangsa adalah suatu trayektori, suatu lintasan yang memiliki titik keberangkatan dan titik ketibaan. Ricouer (1984) menyebut trayektori itu sebagai ”jalan cerita kehidupan”.

Bagi bangsa Indonesia, titik keberangkatan itu sudah jelas, yaitu saat-saat panjang perjuangan meraih kebebasan hakiki, yang salah satu puncaknya adalah 17 Agustus 1945, saat kemerdekaan bangsa Indonesia diumumkan oleh Soekarno dan Hatta. Namun, ihwal titik ketibaan atau destinasi masih sering dikabur- kaburkan oleh sebagian warga bangsa Indonesia, terutama justru oleh warga yang lazim disebut ”elite”. Pada perspektif ini militansi hamparan pegawai KPK yang tampil sebagai kolektivitas dengan kejujuran, ketaatasasan, ketegaran, keteguhan, keberanian, dan keyakinan dalam memberantas korupsi dapat dibaca sebagai gambaran titik ketibaan pada trayektori bangsa ini.

Destinasi yang tergambar adalah: bangsa Indonesia yang taat pada nilai-nilai kemanusiaan hakiki, memperlakukan setiap manusia tanpa kecuali sebagai subyek, dan karena itu menjadi adil, bertumbuh kembang, sejahtera, dan bahagia. Tentu saja di hari depan itu korupsi sangat minimal. Sesungguhnya titik ketibaan itulah yang menyumberi kekuatan lebih mendasar, yang terus-menerus menggerakkan militansi para pegawai KPK dalam memberantas korupsi.

Indonesia di masa depan

Titik ketibaan itu dalam psikoanalisis kontemporer disebut ”hari depan yang kini pun sudah dimiliki, tetapi belum seluruhnya sungguh teralami”. Pergerakan bangsa Indonesia memang senantiasa menuju ke ”masa depan yang sempurna” itu. Kata ”senantiasa” itu begitu penting karena ia menjelaskan betapa sesungguhnya pergerakan menuju ”hari depan nirsadar” itu selalu berlangsung, setiap saat, kendati keberlangsungan itu tak kentara, atau mungkin begitu pelan.

Penghambatan terhadap perjalanan bergerak ke destinasi trayektoris memang selalu saja terjadi. Akan tetapi, kekuatan yang menghidupi pergerakan ke depan menuju destinasi selalu lebih besar daripada daya penghambatnya, sebab memang begitulah sifat alamiah kehidupan: terus saja bergerak ke depan dalam trayektorinya sendiri, sampai mencapai titik ketibaannya sendiri. Heidegger, filsuf asal Jerman, menyebut pergerakan-pergerakan alamiah tak terbendung itu sebagai ek-stases, perjalanan bersinambung untuk ke luar dari kemandekan yang ditimbulkan oleh penghambatan.

Sebagian dari warga bangsa Indonesia yang menghambat ek-stases itu adalah mereka yang tak ingin menyadari titik ketibaan trayektoris bangsanya sendiri. Atau mereka yang masih ragu-ragu dengan destinasi yang jelas tergambar, antara lain melalui militansi hamparan kolektif pegawai KPK dan begitu banyak warga bangsa Indonesia yang mendukung mereka. Sesungguhnya kedua keadaan itulah yang mengakari ketidaktegasan. Sebaliknya, dapat dikatakan betapa ketegasan sesungguhnya berakar dalam pandangan terang setiap warga bangsa Indonesia dalam mengimajinasikan, melihat, menyaksikan, dan meyakini ”masa depan yang sempurna” dari bangsanya sendiri.

Yang membikin manusia seperti terjebak dalam kedua keadaan tadi adalah keterbujukan, keterpakuan, dan kelekatan pada kenikmatan sesaat yang begitu narsisistik. Memang bisa saja manusia mengalami kondisi seperti itu. Namun, tentulah pemimpin-pemimpin penting bangsa Indonesia tak boleh jadi orang yang dibelenggu oleh kebutuhan- kebutuhan narsisistik yang membuat mereka tidak bisa meyakini atau mengalami kekaburan dalam melihat destinasi trayektoris bangsa yang mereka pimpin.

Terkadang sebagian warga bangsa menyerukan pentingnya ketegasan dalam memimpin. Namun, sekeras apa pun seruan mereka, jika pemimpin tak kunjung mampu melihat dengan terang dan meyakini titik ketibaan bangsa Indonesia, agaknya akan sulit meraih apa yang mereka serukan. Sekali lagi ditegaskan bahwa titik ketibaan itu adalah: bangsa Indonesia yang sehari-hari sungguh memperlakukan setiap warga, tanpa kecuali, sebagai subyek, dan karena itu menjadi adil, bertumbuh kembang, sejahtera, dan bahagia; dan itu tentu juga antara lain berarti bebas dari korupsi. Sampai kapan pun korupsi akan disingkirkan oleh bangsa Indonesia, karena destinasi trayektoris kita adalah Indonesia yang bebas korupsi. ●