Senin, 28 Maret 2016

Revolusi Sopir Taksi

Revolusi Sopir Taksi

Sarlito Wirawan Sarwono ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                       KOMPAS, 27 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan cuma-cuma, melainkan melalui Revolusi Kemerdekaan yang berdarah-darah. Karena itu ada Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November untuk memperingati para pahlawan (menurut versi Belanda: ekstremis) yang gugur pada pertempuran dahsyat di Surabaya pada tanggal tersebut di tahun 1945.

Dua puluh tahun kemudian terjadi lagi Revolusi di Indonesia, yaitu Peristiwa G-30-S (Gerakan Tiga Puluh September) pada 1965. Pada 30 September 1965 itu terjadi pembunuhan para jenderal TNI (yang kemudian diberi gelar Pahlawan Revolusi), oleh para pembelot TNI yang didukung oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).

Diluar korban para jenderal TNI itu, di daerah-daerah sudah ribuan korban akibat saling bunuh antara pendukung PKI dan ormas-ormas Islam. Revolusi Kemerdekaan RI maupun peristiwa G-30-S adalah perwujudan konflik antarideologi. Dalam Revolusi Kemerdekaan nasionalisme anakanak muda Indonesia yang ingin merdeka bertabrakan dengan kolonialisme yang menjadi ideologinya penjajah Belanda.

Dalam G-30-S ideologi Pancasila bertabrakan dengan ideologi komunisme. Tetapi bukan itu saja. Semua revolusi sepanjang sejarah manusia dilandasi oleh konflik ideologi. Sebut saja Revolusi Prancis (1789) yang berujung pada pemenggalan kepala Ratu Marie Antoinette di bawah pisau guillotine (1793), yang merupakan awal keruntuhan monarki oleh demokrasi. Bukan hanya di Prancis, melainkan di seluruh Eropa, bahkan di seluruh dunia.

Atau perang saudara di Amerika Serikat (1861-1865) antaranegara-negara bagian di wilayah selatan Amerika melawan negara-negara bagian di Utara. Perang saudara yang telah menewaskan sekitar 750.000 warga Amerika dari kedua belah pihak ini adalah dampak Revolusi Industri di Inggris(1760-1830) yaitu dengan ditemukannya mesin-mesin untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan.

Para petani di selatan Amerika (disebut golongan Konfederasi) yang perekonomiannya masih berbasis pertanian, ingin mempertahankan perbudakan; penduduk di utara Amerika (Union) yang sudah beralih ke industry memilih antiperbudakan karena dianggap tidak manusiawi. Dalam perang saudara ini tidak jarang kakak-beradik dalam satu keluarga terpaksa berpisah karena yang satu memilih bertempur untuk pihak Konfederasi, saudaranya memihak Union.

Ribuan revolusi sudah terjadi sepanjang sejarah manusia. Tetapi Alfin Toffler, futurolog kondang, menuliskan dalam The Thrid Wave (1980) bahwa revolusi-revolusi manusia di dunia dapat dibagi ke dalam tiga gelombang saja, yaitu gelombang pertama yang dikenal dengan istilah revolusi neolitik, yaitu ketika teknologi pertanian dan budi daya menggantikan kebudayaan berburu dan pengumpul.

Manusia yang awalnya nomaden (berpindah-pindah) berubah menjadi menetap, mempunyai kampung halaman untuk berkebun atau beternak. Revolusi gelombang kedua adalah Revolusi Industri pada Abad XVII yang sudah disinggung di atas, dan yang terakhir adalah revolusi pascaindustri, atau disebut juga revolusi era informasi.

Ciri dari masyarakat industri adalah serbamassal. Produksi, distribusi, konsumsi, pendidikan, media, rekreasi, semua dibajukan. Jika digabungkan semuanya maka ideologinya adalah standardisasi dan sentralisasi, yang berwujud dalam organisasi dan birokrasi. Di pihak lain, ciri era informasi justru kebalikannya 1.800 dari era industri.

Di era informasi, semua orang bisa menjangkau informasi dari mana saja dan dari siapa saja di seluruh pelosok dunia secara real time (nol detik). Thomas Friedman menulis buku The World Is Flat (2005). Maksudnya, di era informasi ini semua orang setara, tidak perlu lagi organisasi seperti dalam perusahaan atau negara. Semua standardisasi, sentralisasi, dan birokrasi ditinggalkan. Digantikan oleh kreativitas, desentralisasi, dan spesialisasi.

Masyarakat yang mengunggulkan sekolah akan digusur oleh masyarakat tanpa sekolah yang oleh Ivan Illich (1971) dinamakan thedeschooling society, karena sumber informasi bisa didapat dari mana-mana, khususnya melalui dunia maya sehingga untuk belajar orang tidak perlu lagi sekolah.

Dalam hubungan inilah hendaknya kita memandang aksiaksi demo oleh para sopir taksi yang terjadi baru-baru ini di Jakarta yang berakhir anarkistis. Para pendemo berasal dari perusahaan-perusahaan taksi yang sudahmapan, yangmasingmasing punya armada yang terdiri dari ribuan unit taksi (awas: bukan ribuan armada loh!).

Perusahaan-perusahaan taksi itu organisasi besar, yang tersentralisasi, terstandardisasi (mobil merek tertentu saja yang ditetapkan oleh perusahaan) dan semua gerak armada dikendalikan oleh para dispatcher di kantor pusat. Perbaikan dan servis dipusatkan di bengkel perusahaan. Pajak dan lainnya diatur oleh perusahaan.

Para sopir tinggal menunggu perintah dari dispatcher. Perusahaan taksi besar adalah perwujudan era industri. Sebaliknya taksi-taksi dan ojek yang didemo bekerja atas inisiatif sendiri. Mereka bergabung dalam jaringan aplikasi tertentu. Kalau ada panggilan, dan kalau berminat mau mengambil order itu, mereka adu cepat untuk menerima order; atau kalau sedang malas ya matikan saja aplikasinya.

Mereka bebas memilih, tetapi pajak kendaraan, perawatan dsb jadi tanggungan sendiri. Perusahaan tidak menyiapkan. Jelas perbedaan yang sangat mendasar. Taksi-taksi dan ojek aplikasi adalah cerminan era informasi, bukan lagi era industri. Revolusi antar-era inilah yang menyebabkan sopir taksi bukan hanya mogok kerja, tetapi merusak taksi yang tidak ikut demo, menurunkan paksa penumpang di tengah jalan tol, bahkan memukuli sopir ojek yang kebetulan lewat dan tidak tahu apa-apa.

Tetapi di luar demo sopir taksi korban sudah berjatuhan juga: toko/penyalur DVD, toko buku, bioskop, supermarket, jasa pos, dan lainlain akan atau bahkan sudah gulung tikar karena bisnisnya diambil alih oleh bisnis digital. Mudah-mudahan tidak ada lagi demo-demo karena konflik horizontal setelah ini. ●