Minggu, 27 Maret 2016

Bertemu Dia Yang Bangkit di Meja Emaus

Bertemu Dia Yang Bangkit di Meja Emaus

Anwar Tjen ;  Pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI);
Bertugas sebagai Kepala Departemen Penerjemahan di Lembaga Alkitab Indonesia
                                                       KOMPAS, 26 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Darah yang mengalir itu masih segar di pelupuk mata para murid. Bagi mereka, hari itu adalah hari yang paling mengguncangkan. Sang Rabi telah pergi. Tancapan paku kekuasaan Romawi pada lengan dan kaki-Nya membuyarkan segala perjuangan yang dimulai dari Nazaret di Galilea.

Ironisnya, bukan Galilea, wilayah bangsa-bangsa ”lain” (goyim), melainkan Jerusalem, kota suci itu, yang menjadi saksi gugurnya keadilan. Konspirasi politik dan tekanan massa yang beringas atas nama kepentingan agama dan bangsa berhasil membungkam nurani pihak berwenang. Pemelintiran hukum demi keadilan yang sungsang ternyata adalah cerita usang yang kerap berulang. Misteri kubur seolah-olah saksi bisu yang menyimpan ingatan pahit akan korban tak bersalah.

Andaikata cerita Yesus dari Nazaret berakhir di situ, yang tersisa hanyalah sebuah tragedi tambahan dalam sejarah perjuangan zaman, seperti yang terjadi beberapa waktu kemudian kala Jerusalem dihancurkan. Yosefus, sejarawan Yahudi yang hidup sezaman, mencatat bahwa ribuan orang Yahudi disalibkan dan dipaku pada tembok-tembok kota itu. Tindakan brutal yang bahkan membuat Jenderal Titus merasa iba.

Perjalanan dialogis

Namun, ketentuan Ilahi berkata lain. Seluruh Perjanjian Baru menyaksikan bahwa kematian bukanlah kata akhir bagi Yesus dari Nazaret, seperti kisah berikut yang diringkas dari Injil Lukas (24: 13-35).

Pada hari pertama minggu itu dua orang murid melakukan perjalanan menuju Emaus, sebuah desa dekat Jerusalem. Saat mereka mempercakapkan berita terbaru, Yesus mendekatinya. Namun, sesuatu menghalangi mata mereka sehingga tak dapat mengenali Dia. Saat Yesus bertanya kepada mereka, ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” wajah mereka muram. Mereka balik bertanya, ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Jerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”

”Apakah itu?” balas Orang Asing itu.

Keduanya lalu bercerita tentang Yesus orang Nazaret, seorang nabi penuh kuasa yang hidup-Nya berakhir mengenaskan di salib. Kekecewaan mereka tak dapat disembunyikan. ”Padahal, kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan Israel.”

Cerita ini dilanjutkan dengan kilas balik tentang kesaksian para perempuan dan murid lain yang mendapati makam itu telah kosong sampai Orang Asing itu menegur mereka dan menyingkapkan kepada mereka makna Kitab Suci, ”Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk dalam kemuliaan-Nya?”

Mendekati Emaus, Orang Asing itu tampak akan meneruskan perjalanan, tetapi mereka mendesak Dia tinggal bersama mereka. Mata mereka baru terbuka mengenali Yesus, ketika Dia mengambil roti, mengucap syukur, dan memberikannya kepada mereka. Saat itulah Dia lenyap dari hadapan mereka. Lalu mereka segera kembali ke Jerusalem, berbagi cerita perjumpaan itu kepada murid lainnya.

”Apakah itu?”

Pertama-tama, aspek yang menarik dari cerita yang anggun itu adalah kesehariannya. Percakapan dan perjumpaan dengan Kristus yang bangkit itu terjadi dalam perjalanan hidup sehari-hari. Dia yang bangkit hadir bersama peziarah-peziarah kehidupan yang kerap diberati dengan kabar-kabar terburuk dari dunia yang dikepung kematian. Dalam cerita itu, Ia memasuki percakapan dengan sebuah pertanyaan, ”Apakah itu?”

Pertanyaan itu dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mencermati dan 
menamai konteks yang hingga kini ditandai aneka wajah kekerasan yang antikehidupan. Berbagai bentuk kekerasan terhadap anak dan kaum perempuan, politik identitas atas dasar etnisitas, ras, dan seks, pelemahan institusi pemberantasan korupsi, kekerasan di dalam agama, atas nama agama dan antaragama hanyalah segelintir realitas yang dapat disebut.

Kita belajar pula dari interaksi yang terjadi antara kedua murid dan Orang Asing itu tentang perjumpaan yang dimediasi teks-teks Kitab Suci. 
Pembacaan dan pendarasan teks-teks sakral mana pun tidak serta-merta mengantar orang kepada kehadiran Allah yang melibatkan diri dalam kehidupan hingga ke palung penderitaan. Allah yang menempuh jalan sengsara adalah anomali yang sulit dipahami. Itu sebabnya, berita tentang Kristus yang disalibkan akan tetap terdengar sumbang sebagai kebodohan dan menjadi batu sandungan bagi setiap bingkai kebudayaan yang terbayangkan (1 Korintus 1: 23).

Kekristenan tidak menyakralkan penderitaan, tetapi seperti kata Choan-Seng Song, seorang teolog dari Taiwan, ”Penderitaan adalah tempat Allah dan manusia bertemu. Itulah tempat semua orang—raja-raja, imam-imam, orang-orang miskin, dan pelacur-pelacur—menemukan dirinya sebagai manusia yang lemah dan fana, serta membutuhkan kasih Allah yang menyelamatkan.”

Sayangnya, Gereja sering lebih tertarik pada mesias yang bermahkota emas daripada yang bermahkota duri. Ia dihiasi dengan semarak dan ditinggikan di atas altar di dalam gedung-gedung nan megah. Khotbah-khotbah yang fasih atas nama-Nya dipenuhi imbuhan kenyamanan, kemakmuran, bahkan solusi instan. Narasi Emaus mengajak kita melakukan otokritik. Jalan kepada kemuliaan tidak ditempuh dengan menapaki karpet merah, tetapi mengikuti Dia melalui via dolorosa.

Meja perjumpaan

Serat-serat tekstual yang penuh makna dalam narasi Kebangkitan itu menawarkan pula sebuah visi tentang perjumpaan dengan ”yang lain”. Ajakan untuk tinggal bersama adalah sinyal kesanggrahan (hospitality) yang membuka pintu bagi kehadiran Orang Asing itu. Belajar dari sikap ini, kita dapat membaca teks ini sebagai undangan untuk merajut kebersamaan, suatu agenda yang mendesak di negeri ini.

Bukankah politik identitas yang sempit kerap memanfaatkan ego kolektif yang merasa terancam oleh ”yang lain”? Di situ ”yang lain”, yang tidak sama identitas dan kepentingannya, sah untuk dipinggirkan dan bahkan disingkirkan.

Narasi yang mengingatkan akan meja perjamuan Tuhan itu mendorong kita menemukan meja-meja kehidupan bersama ”yang lain” di dalam ziarah kehidupan yang beragam pergulatannya. Di dunia yang semakin gencar mengeksploitasi hasrat-hasrat ”memiliki”, Ia mengajak kita mengembangkan spiritualitas ugahari dan belajar hidup berbagi.

Ketika Yesus yang bangkit menghilang, saat itulah perjalanan dialogis itu dimulai dengan babak baru. Seperti yang dituliskan seorang rahib Fransiskan dan pakar biblika yang berkarya seumur hidup di negeri ini: ”Beberapa waktu setelah Yesus hilang, muncul sekelompok orang yang mengakui dirinya sebagai pengikut Yesus dan mengatakan bahwa Yesus sebenarnya hidup, tetap berarti, bermakna, dan relevan bagi manusia.” (Cletus Groenen OFM, 1921-1994).  ●