Sabtu, 26 Maret 2016

Perjuangan Kurdi dan Berkah Pergolakan

Perjuangan Kurdi dan Berkah Pergolakan

Ibnu Burdah ;  Penulis buku Islam Kontemporer: Revolusi dan Demokratisasi
                                                      JAWA POS, 23 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DI tengah kekacauan dan penderitaan akibat pergolakan kawasan beberapa tahun terakhir, etnis Kurdi seolah justru memperoleh berkah. Selama hampir satu abad Kurdi dipandang sebagai etnis terbesar paling menderita di Timur Tengah. Mereka menjadi lapisan masyarakat yang sangat terpinggirkan. Salah satu penyebabnya, mereka tidak memiliki negara sendiri kendati mempunyai populasi yang sangat besar.

Populasi etnis Kurdi saat ini diperkirakan mencapai 40 juta jiwa. Jumlah itu berarti berpuluh-puluh kali lipat dari jumlah penduduk negara Timur Tengah yang kecil seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Bahkan, jumlah populasi mereka lebih besar daripada jumlah penduduk negara-negara Arab besar seperti Arab Saudi, Yaman, Syria, Iraq, dan Jordania. Faktanya, hingga saat ini, mereka tidak bisa membangun negara Kurdistan.

Mereka justru terbagi dalam empat negara. Padahal, secara geografis populasi etnis Kurdi menyatu. Mereka menjadi minoritas di semua negara itu, yakni di Iraq, Syria, Turki, dan Iran. Pengkavlingan Timur Tengah secara ''gegabah'' dalam Perjanjian Sykes-Picot pada 1916 tak memberi mereka suatu kedaulatan politik atas sejengkal tanah pun. Mereka seolah tidak ada dalam peta di Timur Tengah kala itu, khususnya di mata Inggris dan Prancis. Atau, ini memang desain negara besar pemenang perang.
Etnis Kurdi lalu menjadi minoritas di banyak negara. Tanah Kurdistan ''Raya'' terbagi dalam empat negara di Iraq, Syria, Iran, dan Turki. 

Penduduknya pun menjadi minoritas signifikan di empat negara tersebut. Mereka juga menjadi minoritas kecil di banyak negara lain seperti Azerbaijan, Lebanon, dan Jordania. Sebagai minoritas, persoalan diskriminasi sulit dihindari, apalagi di negara-negara diktator atau dalam kekacauan.

Etnis Kurdi di Iraq mengalami persekusi yang luar biasa keras, terutama pada masa pemerintahan Saddam Hussein. Namun, kekacauan panjang di Iraq pasca tumbangnya Saddam Hussein ternyata justru memberikan berkah tersendiri bagi etnis Kurdi. Konflik Sunni-Syiah di Iraq yang seolah tiada henti membuat etnis ini mampu melakukan konsolidasi politik bahkan ''paramiliter''. Tak main-main, mereka sekarang sudah memiliki wilayah pemerintahan dengan otonomi sangat luas yang berpusat di Arbil di bawah pemimpin karismatis Mas'oed al-Barzani.

Munculnya negara brutal ISIS di Iraq yang membawa bencana skala luas ternyata justru membawa berkah tersendiri bagi Kurdi. Perang lawan ISIS menandai akselerasi perjuangan politik dan militer Kurdi. Ibu kota ISIS di Iraq adalah Mosul, dan wilayah utama mereka di Irak Utara sangat berdekatan dengan Arbil dan wilayah Kurdi Iraq.

Pada awalnya, Kurdi Iraq memilih tak ambil bagian dalam perang melawan ISIS. Padahal, kehadiran mereka sangat dibutuhkan karena wilayah mereka sangat berdekatan dan mereka memiliki satuan keamanan yang potensial.

Kesediaan Kurdi berbaris bersama pemerintah Iraq, tampaknya, bukan tanpa imbalan. Ada negosiasi begitu panjang menjelang keputusan berbaris untuk perang melawan ISIS. Penulis menduga, mereka bersedia bertempur karena janji politik yang tak kecil. Yakni, referendum bagi kemerdekaan wilayah Kurdistan pasca kekalahan ISIS di Iraq kelak. Konsesi semacam ini cukup masuk akal. Wawancara Sky News dengan Mas'oed al-Barzani baru-baru ini menegaskan bahwa Kurdi menginginkan referendum.

Setelah dua tahun terlibat perang melawan ISIS, Kurdi memperoleh berkah besar. Yaitu, penguatan pasukan Peshmarga yang jadi kebanggaan pemerintahan otonomi Kurdistan di Iraq saat ini. Pasukan tersebut tidak hanya memperoleh pengalaman tempur di medan yang sangat berbahaya. Mereka juga semakin memperkuat diri dengan peralatan pertahanan yang semakin memadai seiring dengan besarnya bantuan perang melawan ISIS. Mereka juga memiliki pengalaman berkoordinasi dengan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Mereka secara de facto semakin siap menjadi Kurdistan merdeka. Jika aspirasi Kurdi Iraq untuk merdeka tersebut diabaikan, kekuatan Kurdi Iraq bisa menjadi masalah baru yang tak bisa diremehkan.

Syria dan Turki

Nasib etnis Kurdi di Syria tak jauh berbeda dengan yang di Iraq. Mereka menjadi warga negara yang terpinggirkan baik secara po¬litik, ekonomi, maupun sosial. Mereka menjadi korban dari lima tahun pergolakan di Syria. Apalagi, wilayah mereka juga berdekatan dengan pusat ISIS di Syria, yakni Raqqa. Kehidupan mereka benar-benar terancam akibat perang Kurdi Iraq melawan ISIS. Etnis Kurdi Syria menjadi sasaran balas dendam oleh ISIS.

Namun, lagi-lagi situasi kacau dan penderitaan luar biasa tersebut membawa berkah tersendiri bagi etnis yang sangat merindukan lahirnya negara Kurdistan itu. Mereka berhasil membangun kekuatan paramiliter yang tangguh. Bahkan, beberapa hari lalu (17/3) di tengah proses perdamaian Syria yang dengan susah payah didorong, etnis Kurdi di Syria berani memproklamasikan diri sebagai negara federal di wilayah Rojava. Wilayah itu berada di Syria Utara dan berbatasan dengan Turki.

Turki tentu sangat menentang perkembangan baru ini. Sebab, menguatnya Kurdi di Syria bisa jadi akan membantu penguatan kelompok pemberontak Kurdi di Turki, PKK. Kelompok PKK saat ini berada dalam situasi perang ''menyeluruh'' dengan pemerintah Turki. Mereka diduga juga melancarkan aksi-aksi bom bunuh diri di kota-kota Turki kendati mereka hingga kini tak mengakui.

Kurdi sebagai unit baru sebuah bangsa dan negara adalah fakta yang semakin sulit dibantah di lapangan, khususnya Kurdi Iraq dan Syria. Kapasitas mereka semakin hari semakin besar, dan itu terjadi justru di tengah pergolakan dan perang. Di balik penderitaan luar biasa akibat perang lima tahun terakhir, Kurdi sepertinya akan menjemput takdirnya untuk mengakhiri nasib buruk mereka selama hampir satu abad. ●