Kamis, 24 Maret 2016

Antisipasi Musim Panen dan Kemarau Basah

Antisipasi Musim Panen dan Kemarau Basah

Bustanul Arifin  ;  Guru Besar UNILA; Ekonom Senior Indef;
Ketua Forum Masyarakat Statistik (FMS)
                                             MEDIA INDONESIA, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MUSIM panen padi pada 2016 ini diperkirakan bersamaan dengan fenomena kemarau basah, mirip kejadian pada 2010-2011. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan pada April-Mei 2016 akan terjadi La Nina, suatu kondisi hujan berlebih, yang umumnya mengikuti musim kering esktrem El Nino. Sebuah lembaga kredibel International Research Institute for Climate and Society (IRI), yang berafiliasi dengan Columbia University (Amerika Serikat), juga memprakirakan terjadinya iklim basah (La Nina) masih tinggi pada Agustus-Oktober 2016.

Secara teknis, pertemuan suhu muka laut yang sangat dingin di Samudra Pasifik (Daerah Nino 3,4) dan suhu perairan Indonesia yang hangat akan menimbulkan curah hujan dengan intensitas tinggi di Indonesia. Saat terjadi La Nina, angin pasat timur yang bertiup di sepanjang Samudra Pasifik membuat massa air hangat yang terbawa semakin banyak ke arah Pasifik Barat. Akibatnya, massa air dingin di Pasifik Timur bergerak ke atas dan menggantikan massa air hangat yang berpindah itu. Pada 2011, La Nina berdampak menurunkan produksi padi 1,1%, yang telah diakui secara objektif oleh pemerintah.

Artikel ini menganalisis fenomena kemarau basah itu sebagai suatu fakta perubahan iklim yang mewarnai ekonomi beras pada 2016. Artikel ini menawarkan strategi antisipasi yang perlu dilakukan pemerintah dan pengampu kepentingan pertanian lainnya.

Harga gabah belum jatuh

Pada akhir Maret atau April 2016, musim panen padi diperkirakan akan berlangsung terutama di hampir semua sentra produksi di Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, dan sebagian di Flores, Nusa Tenggara Timur. Sekitar 60%-65% padi Indonesia dipanen pada musim rendeng, yang kebetulan mengalami musim tanam mundur 3-4 minggu, sebagai dampak dari musim kering ekstrem El Nino yang terjadi pada 2015. Pemerintah dan Badan Pusat Statistik (BPS) masih melakukan prognosis produksi dengan memperhitungkan sekian macam asumsi, prediksi, laporan dari lapangan, dan pengukuran dari sampel ubinan. Dengan pertimbangan strategis, psikologi pasar dan lain-lain, angka ramalan produksi pangan akan diumumkan pada 1 Juli 2016.

Salah satu indikator yang dijadikan acuan tentang keseimbangan suplai, cadangan, dan permintaan beras ialah pergerakan harga gabah dan harga beras. Pergerakan harga di tingkat lapangan itu dapat dijadikan acuan bagi Perum Bulog untuk melakukan pengadaan beras, pengelolaan cadangan, dan tugas besar yang baru, yaitu stabilisasi harga tingkat produsen dan tingkat konsumen untuk beras, jagung, dan kedelai. Harga beras relatif mudah diprediksi karena pemerintah memberikan perhatian yang memadai, termasuk jargon pajale (padi, jagung, dan kedelai) yang telah mulai akrab di tengah masyarakat.

Harga jagung terkadang bertingkah laku agak aneh, apalagi kredibilitas data produksi sering diragukan oleh lembaga internasional. Kenaikan harga jagung yang terjadi pada awal tahun di tengah super siklus penurunan harga jagung dunia juga berhubungan dengan kebijakan perdagangan jagung dalam negeri. Harga kedelai juga relatif mudah dimengerti karena Indonesia amat tergantung pada pasokan kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat, Argentina, Brasil, dan lain-lain.

Laporan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang Februari 2016, harga rata-rata gabah kering panen (GKP) di tingkat petani masih tinggi, Rp5.211 per kilogram, dan harga gabah kering giling (GKG) juga tinggi, yaitu Rp5.753 per kilogram. Dari 625 observasi yang dilakukan, dapat ditelusuri bahwa harga gabah petani GKP terendah tercatat di Jawa Tengah (Rp3.800) dan tertinggi di Kalimantan Tengah (Rp9.000). Dari 153 observasi, harga GKG terendah tercatat di Sumatra Utara (Rp4.500) dan tertinggi di Kalimantan Selatan (Rp8.878). Harga rata-rata gabah kualitas rendah atau yang tidak memenuhi syarat teknis untuk diolah dan disimpan juga masih tinggi, yaitu Rp4.223 per kilogram.
Dari 167 observasi, harga gabah kualitas rendah tercatat paling rendah di Jawa Timur (Rp3.200) dan paling tinggi di Banten (Rp6.300).

Situs resmi Kementerian Pertanian juga menampilkan harga rata-rata GKP per 19 Maret 2016 yang tinggi, yaitu Rp4.512 per kilogram dan GKG yang tinggi Rp5.195 per kilogram. Angka tersebut memang menunjukkan penurunan ketimbang harga GKP pada 7 Maret 2016 yang tercatat Rp4.578 dan GKG sebesar Rp5.313 per kilogram.

Harga gabah masih jauh di atas harga referensi atau harga pembelian pemerintah (HPP) GKP Rp3.700 per kilogram di petani dan GKG Rp4.600 per kilogram di penggilingan, sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 tentang Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah. Tidak mengherankan jika banyak analis yang mempertanyakan validitas dan efektivitas HPP untuk melindungi petani atau membantu mengurangi risiko usaha tani, karena HPP tersebut berada di bawah harga keseimbangan pasar.

Secara teori, harga referensi HPP berbeda dengan harga dasar gabah (HDG)--kini tidak diadopsi lagi--yang selalu ditetapkan di atas harga keseimbangan pasar. HPP lebih banyak hanya dimaksudkan sebagai referensi bagi kegiatan pengadaan gabah oleh Perum Bulog. Benar bahwa sampai akhir minggu lalu, harga gabah ada yang berada di bawah HPP, seperti di Sumbawa (Rp3.400), Brebes, Tuban, dan Bima (Rp3.600). Rendahnya harga gabah sampai di bawah HPP berhubungan dengan kualitas gabah yang tidak memenuhi persyaratan teknis, umumnya terlalu basah, sehingga jika dipaksakan digiling, gabah akan patah dan bahkan hancur.

Kementerian Pertanian juga melaporkan harga rata-rata beras medium per 19 Maret 2016 sebesar Rp9.063 per kilogram dan beras premium Rp10.253 per kilogram, berdasarkan laporan dari 43 kabupaten/kota.

Harga tersebut sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga sehari sebelumnya atau pada 18 Maret 2016, yaitu Rp8.992 per kilogram untuk beras medium dan Rp10.157 per kilogram untuk beras premium, yang berasal dari 93 kabupaten/ kota. Laporan harga beras dari Kementerian Pertanian tercatat lebih rendah ketimbang laporan harga beras dari Kementerian Perdagangan, yang mencatat bahwa harga rata-rata sebesar Rp10.920 per kilogram pada 18 Maret 2016.

Dari kedua sumber data resmi tersebut, harga beras di Indonesia masih lebih tinggi ketimbang harga beras rata-rata di Thailand, Vietnam, dan India, sebagaimana dilaporkan Lembaga Oryza per 18 Maret 2016. Harga beras Thailand 25% broken (setara beras medium di Indonesia) tercatat US$355-US$365 per ton, beras Vietnam 25% broken US$355-US$365 per ton, dan beras India 25% broken US$335-US$345 per ton. Para analis umumnya mengolah lagi informasi dasar tentang harga beras itu, disesuaikan dengan paritas impornya dengan mempertimbangkan ongkos angkut, asuransi, dan lain-lain.

Pada akhir bulan, BPS akan mengeluarkan laporan resmi yang diolah dari beberapa data harga beras dari sekian macam instansi resmi. BPS juga melakukan pencatatan berkala tentang perubahan harga beras dan harga pangan strategis lain bersama harga-harga umum, menjadi angka laju inflasi yang dilaporkan setiap awal bulan berikutnya. BPS melakukan pengolahan tingkat lanjut harga dan produksi barang dalam suatu tabel input-output (I-O), khususnya tabel suplai dan penggunaan atau supply and use table (SUT) walau terlambat beberapa tahun. Tabel I-O amat bermanfaat untuk analisis akademik dan kebijakan ekonomi, berikut intervensi yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing bangsa di masa depan.

Penanganan pascapanen

Antisipasi yang perlu dilakukan pemerintah dalam menghadapi kemarau basah ini ialah memperbaiki penangan pascapanen, dari tingkat penggilingan sampai transportasi dan distribusi. Berdasarkan hasil pendataan industri penggilingan padi (PIPA) yang dilakukan BPS (2012), jumlah penggilingan padi di Indonesia tercatat 182.199 unit, sebagian besar (94%) penggilingan skala kecil, 6% skala menengah, dan 1% skala besar. Penggilingan padi skala besar mampu menghasilkan kualitas beras kepala sampai 82,5% dengan rendemen cukup tinggi 61,5%, sedangkan penggilingan padi hanya mampu menghasilkan beras kepala sampai 74,3% dan rendemen rendah sebesar 55,7%.

Jika sebagian besar gabah di Indonesia diolah oleh industri penggilingan skala kecil, volume dan kualitas beras yang dihasilkan tidak terlalu tinggi.
Pada kondisi kemarau basah, penggilingan skala kecil itu bahkan akan menderita inefisiensi cukup tinggi karena gabah yang basah akan mudah pecah dan hancur.

Di masa depan, Indonesia perlu lebih serius memperbaiki penanganan pascapanen padi dan secara berkala meningkatkan skala usaha industri penggilingan padi ke arah skala menengah dan besar. Pertama, memberikan fasilitas yang memadai pada investasi baru penggilingan beras skala besar, dan konsolidasi penggilingan skala kecil dan menengah, sesuai ketersediaan bahan baku dan infrastruktur pendukung di perdesaan. Langkah itu perlu dintegrasikan dengan pembangunan infrastruktur pertanian, terutama jalan, pelabuhan dan jaringan irigasi sebagai proksi penyediaan bahan baku di lapangan.

Kedua, melakukan penguatan kelembagaan kelompok tani, pendampingan yang terus-menerus untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha pangan, seperti pengembangan usaha pangan masyarakat (PUPM) dan lembaga usaha ekonomi pedesaan lainnya, baik yang difasilitasi pemerintah, maupun atas inisiatif masyarakat. Tingkat kewirausahaan akan menjadi cikal bakal penguatan industri penggilingan padi serta daya saingnya di masa depan.

Ketiga, mengembangkan sistem kemitraan petani dan penggilingan padi dalam suatu kerja sama contract farming yang adil dan beradab, sampai pada tingkat pasar induk dan pasar eceran. Sistem kemitraan itu seharusnya mampu berkontribusi pada perbaikan penyimpanan cadangan beras, manajemen pergudangan, dan peningkatan daya jangkau (outreach) sistem resi gudang (SRG) dan pasar lelang pada sentra produksi beras di seluruh Tanah Air. ●