Senin, 28 Maret 2016

R.I.P.

R.I.P.

Samuel Mulia ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                       KOMPAS, 27 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di hari Minggu yang lalu, saya iseng-iseng mencari arti dari tiga huruf RIP. Requiescat in pace dijelaskan sebagai sebuah ekspresi atau tulisan singkat di batu nisan yang menggambarkan harapan akan sebuah kehidupan yang damai dan abadi untuk mereka yang meninggal.

Damai versi kamus

Saya tidak menyangka bahwa keisengan itu memancing hati nurani menciptakan sebuah "nyanyian" sengau. "RIP itu adalah ucapan dari orang lain untuk elo yang meninggal. Masalahnya sekarang, elo meninggal itu udah ngejalanin hidup yang damai belom? Apakah selama elo ngejalanin hidup, elo tu udah jadi agen perdamaian? Kalau meninggal dengan damai dalam artian tidak menderita atau enggak sakit, itu bukan hal yang dimaksud."

Selama ini, sih, saya merasa telah dan masih menjalani kehidupan yang damai untuk diri sendiri dan orang lain. "Wkwkwkwk.elo memberi damai ke orang lain? Ngaca kali, bro. Bukannya elo dulu musuhnya banyak. Sampai bulan lalu aja, masih ada yang nanyain salah satu karyawan elo, kok bisa-bisanya doi kerja ama elo? Damai apaan? Damai dari mane?"

Saya agak menyesal mengapa saya iseng sekali mencari tahu soal tiga kata itu. Akan tetapi, karena nurani bawel itulah saya bisa menulis artikel ini. Damai atau dalam bahasa Inggris, peace, mengandung makna ketenangan, harmoni, diam, tenteram, keadaan tidak bermusuhan, aman, tidak ada perang, dan rukun.

Nah, penjelasan soal damai versi kamus itu saya gunakan sebagai alat untuk menilai apakah nyanyian sengau yang dilantunkan nurani bawel itu benar adanya. Saya mulai menilai diri saya sendiri. Saya ini orang yang penuh iri hati. Iri hati itu sejujurnya memberi beban.

Saya merasakan itu bertahun lamanya, bahkan sampai sekarang mau saya hilangkan susahnya setengah mati. Setiap kali berusaha agar beban itu lepas, eh, makin lengket, terutama saat melihat ada manusia yang tidak bekerja, tetapi berkatnya mengalir seperti air bah. Sementara saya kerja pontang-panting dari dulu, yaaa... cuma segini-segini saja.

Kalau sudah begitu, saya menjadi kesal dan melakukan aksi protes. Kalau dengan Yang Maha Kuasa melalui doa, kalau sama teman dekat curhat dengan nada tinggi. Hal yang terakhir ini pernah diabadikan saat saya lagi emosi. Saya sampai kaget melihat hasil bidikan itu.

Mata saya menyorotkan amarah, urat leher terlihat tegang, air muka kencang, dan gerakan tangan yang menunjukkan kekesalan yang sangat. Sebuah foto manusia tanpa kedamaian sama sekali. Saya ini kalau dilihat dari luarnya saja lumayan seperti orang yang damai, tetapi bagian dalamnya, ya, seperti foto tadi.

Damai versi saya

Bahkan, sampai sekarang ini, saya masih punya musuh. Dan keputusan bermusuhan karena saya berpikir itu memberi rasa damai dan menjauhkan saya dari sumber petaka. Nah, bisakah Anda membayangkan kalau saya tiba-tiba meninggal dengan hati yang dipenuhi iri hati dan kekesalan yang sangat, serta bermusuhan dan tidak memaafkan?

Bisakah dibayangkan kalau saya meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang salah mengartikan kata damai itu dan meyakinkan bahwa kesalahan itu adalah sebuah kebenaran? Bisakah dibayangkan, saya dikubur, tetapi melencengkan makna kata damai itu berdasarkan versi otak saya sehingga harmonis itu buat saya adalah menciptakan musuh, mengartikan tidak ada perang itu adalah dengan menciptakan perang. Bermusuhan di antara dua manusia itu adalah perang dalam skala yang kecil.

Ironisnya, orang yang melayat atau menuliskan ucapan turut berdukacita di sosial media menggunakan tiga huruf itu yang diartikan bahwa mereka berharap saya akan memiliki hidup setelah kematian yang abadi dan damai. Saya sendiri belum pernah meninggal. Jadi, sungguh saya tidak tahu apakah makna damai versi saya dan versi yang selama ini kita ketahui mendapatkan ganjaran yang berbeda atau sama.

Dan sudah barang tentu Anda setuju kalau saya sendiri tidak mampu menciptakan damai versi kamus, sudah pastinya tak ada damai versi macam itu yang bisa saya tularkan kepada orang lain, bukan? Yang ada hanya damai berdasarkan versi saya. Ya, itu tadi, bermusuhan.

Bukti bahwa saya sudah mengerjakan pekerjaan rumah sebagai penyebar rasa damai adalah dengan memaafkan. Maka, kalaupun saya dimakamkan di pemakaman super mahal, itu hanya memberi gengsi kepada yang menguburkan saya, tidak untuk saya. Apalah gunanya saya terbujur di sebuah pemakaman super mahal dengan hati yang tidak damai dan keliru memaknai kata damai itu?

Sayang tempat pemakamannya. Mahal-mahal, tetapi menguburkan manusia yang seperti bom yang meluluhlantakkan. Dan lebih tak ada gunanya lagi mengukir nisan saya dengan Rest in Peace, la wong sayanya beristirahat dalam kekeliruan memahami perdamaian.

Saya sih belum pernah meninggal, tetapi kok saya yakin ukiran tiga kata itu tak bisa merayu Tuhan membirukan angka merah di rapor kehidupan saya. Waktu dan kesempatan untuk menjadi agen perdamaian sudah diberikan. Selesai, tidak selesai, kumpulkan!

Tiba-tiba terdengar nyanyian lagi yang buat saya lebih dari sengau. "Oke okelah, elo kalau nulis mang paling bisa. Terus kapan mau memaafkan musuhmu itu." ●