Senin, 28 Maret 2016

Tidak Pernah Mati

Tidak Pernah Mati

Trias Kuncahyono ;  Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                       KOMPAS, 27 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

”Masa lalu tidak pernah mati. Itu bahkan tidak pernah berlalu.” Demikian kata William Faulkner (1897-1962). William Faulkner, memang, tidak setenar sesama penulis AS, katakanlah Mark Twain dengan Huckleberry Finn-nya. Tetapi, William Faulkner yang tumbuh dewasa di Oxford, Mississippi, AS, juga dikenal sebagai penulis sejumlah novel ternama.

Trilogi novelnya yang kondang adalah, The Hamlet (1940), lalu volume keduanya terbit tahun 1957, The Town, dan yang ketiga adalah The Mansion (1959). Semuanya bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, dan dengan itu mereka menjadi keluarga terpandang di masyarakat.

Kalau William Faulkner mengatakan bahwa ”masa lalu tidak pernah mati. Itu bahkan tidak pernah berlalu”, berarti masa lalu itu bagian dari kita. Dan, kita harus hidup di dalamnya. Dua kalimat itu diambil dari novel karya William Faulkner, Requiem for a Nun yang diterbitkan 1951.

Masa lalu, memang, tidak pernah benar-benar berlalu, bahkan tidak pernah mati. Apalagi, kalau menyangkut hal-hal yang sangat menyakitkan, penderitaan, kesengsaraan, perbuatan tidak menyenangkan, dan perbuatan di luar batas kemanusiaan. Adakah yang melupakan holokaus yang dilakukan Nazi Jerman terhadap orang-orang Yahudi. Apakah orang sudah melupakan genosida terhadap orang-orang Armenia oleh penguasa Ottoman (1915). Genosida terhadap orang-orang Armenia terjadi tahun 1894, 1895, 1896, dan 1909.

Korban kekuasaan Joseph Stalin juga tidak dapat dilupakan orang. Selama berkuasa, 1922-1952, antara 2 juta hingga 3 juta orang tewas dibunuhnya. Ketika terjadi krisis kelaparan (1930-1933), paling kurang 5 juta orang meninggal. Kekuasaan Adolf Hitler menewaskan antara 5 juta hingga 6 juta orang; barangkali malahan lebih.

Orang juga masih mengingat bagaimana Khmer Merah (1975-1979) di Kamboja membunuh paling kurang 2 juta orang. Di Rwanda, etnis Hutu membunuh tak kurang dari 800.000 orang etnis Tutsi (1994). Paling kurang 8.000 orang menjadi korban pembantaian Srebrenica atau disebut juga Genosida Srebrenica. Berapa banyak korban tewas dalam tragedi 1965 di Indonesia?

Kini, berapa banyak orang sudah dibunuh oleh kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah? Berapa banyak korban tewas di Gaza karena serangan militer Israel? Berapa banyak korban karena aksi bom bunuh diri atau serangan bom yang dilakukan para teroris, terakhir terjadi di Brussels, Belgia. Juga serangan bom di Indonesia yang sudah berkali-kali terjadi.

Semua korban itu selalu dikenang. Diingat. ”Masa lalu tidak pernah mati.” Nama-nama para pemimpin penyebar teror dan ketakutan, kesengsaraan, dan penderitaan rakyatnya, para tiran—Benito Mussolini, Adolf Hitler, Vladimir Ilyich Lenin, Josef Stalin, Mao Zedong, François Duvalier, Enver Hoxha, Kim Il-sung, Ferdinand Marcos, Nicolae Ceausescu, Idi Amin, Moammar Khadafy, Hosni Mubarak, Ben Ali, Mobutu Sese Seko, Saddam Hussein, Slobodan Milosevic, dan masih banyak lagi— pasti akan selalu diingat. Diingat karena kekejamannya.

Hingga kini, meski zaman sudah lebih dari 2.000 tahun silam, orang masih selalu ingat Herodes Agung. Herodes berkuasa pada 73-4 SM. Ia memerintahkan pembunuhan terhadap semua anak laki-laki balita di daerah kekuasaannya, Yudea.

Nama Pontius Pilatus—Gubernur Yudea, 26- 36—pun akan selalu diingat sebagai orang yang menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus. Pada masa itu, terjadilah perselingkuhan antara politik dan agama. Konspirasi antara penguasa negara, yakni Pontius Pilatus, dan kuasa agama, para ulama—Imam Agung dan para ahli kitab—serta mobilisasi massa bayaran dan budak.

Yesus dihukum mati oleh triumvirat jahat: sang Wali Negeri (Pontius Pilatus), Raja (Herodes Antipas), dan Imam Agung (Hanas dan Kayafas). Inilah sejarah kelam konspirasi kekuatan politik dan agama yang berujung pada ketidakadilan (Trias Kuncahyono, Jerusalem 33, Imperium Romanum, Kota Para Nama, dan Tragedi di Tanah Suci).

Agama sebagai ”gagasan yang memberi kekuatan untuk memobilisasi” (Bourdieu) memang berpotensi menjadi sangat politis. Dan, ini terjadi di mana-mana, di banyak tempat dan negara, termasuk di negeri kita, Indonesia.

Jejak kekejaman terekam hingga hari ini. Di Timur Tengah, bom bunuh diri sering terjadi, seperti di Mesir, Irak, dan Lebanon. Bom bunuh diri juga seperti tak bisa berhenti di Afganistan, Irak, dan Pakistan. Peristiwa Gestapu 1965, serangan terhadap Gedung WTC di New York, AS, aksi Al Qaeda, NIIS juga merupakan jejak kekejaman yang sulit dilupakan. Karena, sekali lagi, seperti kata William Faulkner, ”Masa lalu tidak pernah mati. Itu bahkan tidak pernah berlalu.”