Kamis, 31 Maret 2016

Mengejar Khayalan, Mengakali Kemustahilan

Mengejar Khayalan, Mengakali Kemustahilan

J Kristiadi ;  Peneliti Senior CSIS
                                                       KOMPAS, 29 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Perbuatan liar manusia yang tidak mampu dikontrol jenis institusi kekuasaan apa pun adalah berkhayal. Mimpi liar yang dituntun oleh hasrat ingin tahu tentang sesuatu dengan permenungan telah menghasilkan berbagai prestasi manusia yang tidak mungkin dibayangkan sebelumnya. Misalnya, kemampuan manusia menginjak Bulan beberapa puluh tahun lalu, semula dirasakan sebagai ilusi serta bahan tertawaan karena dianggap mengakali kemustahilan. Setelah berhasil, hal itu mendorong manusia melanjutkan mimpinya untuk bertempat tinggal di sana.

Meski demikian, dalam perspektif kompetisi politik, berkhayal yang ditawarkan elite politik kepada rakyat kerap kali hanya ilusi untuk mengejar hasrat kuasa. Menjual mimpi kepada rakyat tanpa disertai rekam jejak yang nyata hanya akan menjadi bagian dari siasat dan tipu muslihat. Fenomena ini, meskipun bersifat universal, sebaik-baiknya publik harus ekstra waspada, terutama menjelang Pilkada 2017 yang digelar di 7 provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten.

Pergelaran pertarungan masif politik lokal yang masih sekitar 11 bulan lagi mulai dirasakan dengan memanasnya suhu politik. Fenomena menonjol adalah semangat masyarakat mengorganisasi diri mengajukan kandidat dalam pilkada melalui jalur perseorangan. Beberapa daerah yang merasakan getaran spirit tersebut antara lain Yogyakarta dengan Joint-Nya (Jogja Independent). Mereka telah menjaring tokoh-tokoh, seperti Busyro Muqoddas, Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Garin Nugroho, dan Danang Parikesit. Aceh dengan AAA-nya (Achenese Australia Association). Calon yang akan maju melalui jalur perseorangan antara lain Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dan mungkin akan diikuti daerah lainnya.

Gairah pencalonan melalui jalur perseorangan tidak dapat dilepaskan pemberitaan yang luas dari tekad yang nekat dari Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta. Ia ngotot memilih ”partai” Teman Ahok daripada melalui jalur parpol konvensional.

Tanpa bermaksud menihilkan peran sentral dan vital parpol sebagai pilar kekuasaan yang demokratis, tampaknya sentimen dan kecerdasan publik dewasa ini mencari alternatif pilihan di luar keranjang parpol. Tentu banyak alasan yang dapat diperdebatkan, tetapi argumen yang hampir dapat dipastikan, merebaknya fenomena tersebut buah dari kinerja dan citra parpol yang semakin surut.

Persepsi publik tersebut sebaiknya dijadikan momentum bagi tokoh-tokoh parpol melakukan refleksi, bukan reaksi kalang kabut yang hanya akan membuat parpol semakin kehilangan gengsi. Inilah saatnya parpol melakukan agenda mendesak, reformasi parpol, terutama demokratisasi internal.

Jika momentum ini dilewatkan, dikhawatirkan parpol akan semakin oligarkis dan terperangkap ”hukum besi kekuasaan”, pembusukan politik karena perilaku korup (merusak). Parpol semakin terasing dengan rakyat. Reformasi internal akan menyelamatkan parpol dari hukum sejarah, terjebak menjadi institusi ekstraktif, dinikmati para elitenya. Untuk mengembalikan marwah parpol, mungkin mantra magisnya kira-kira bunyinya: reformasi atau mati.

Dalam sudut pandang ini, rakyat semakin pintar membedakan antara kandidat yang hanya menebar siasat dan calon yang mampu bekerja berat demi rakyat. Muslihat menyebar khayalan dan mengakali kemuskilan untuk memburu kekuasaan sudah usang. Sekadar menyebut, kemonceran Wali Kota Surabaya, Wali Kota Bandung, Bupati Bojonegoro, Bupati Bantaeng, adalah hasil kerja ekstra keras dan berprestasi dalam mengelola kekuasaan pemerintahan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Masyarakat semakin meyakini dan menikmati ungkapan klasik: actions speak louder than words. Dalam konteks pilkada, kira-kira maknanya, gaung kebijakan nyata yang memihak masyarakat lebih bergema dari sekadar keahlian memelintir kata-kata. Janji sudah menjadi basi, rakyat rindu prestasi. Dalam bahasa ekonomi, kandidat seperti itu mempunyai nilai pakai dan nilai tukar tinggi. Pertama, menunjuk pada kepemimpinan yang cocok untuk daerah tertentu; dan kedua, menunjuk kepada nilai jual tinggi, laris manis dijual kepada publik dan parpol. Perkawinan silang antara dukungan parpol dan masyarakat tampaknya akan menjadi fenomena menguat di masa datang.

Kandidat yang mengandalkan modal siasat justru dikhawatirkan membangun citra sebagai pengidap delusi (waham) kebesaran (delusion of grandiosity). Gejala kejiwaan yang menunjuk kepada rasa percaya diri berlebihan, merasa yakin sebagai tokoh penting, berpengaruh, serta menganggap diri berpotensi besar menjadi pemimpin. Sosok pengkhayal maka secara tidak sadar sering membual.

Oleh karena itu, daripada mengejar khayalan yang hanya akan menangkap angin, lebih baik menggenggam kenyataan meskipun tidak sempurna. Pilihan politik hanya menyajikan itu. Pilihan memang tidak sempurna, tetapi melalui rekam jejak, masyarakat sudah tahu dan telah menyaksikan kelebihan (prestasi) serta kekurangannya. Ungkapan universalnya adalah bahasa yang agak sarkastis: better the devil you know than the devil you don’t know.

Dalam perspektif pilkada, kurang lebih maknanya lebih baik memilih kandidat yang diketahui ”setan” jenis apa daripada tidak atau belum mengetahui jenis ”iblis” macam apa kandidat tersebut. Oleh karena itu, dalam menghadapi setiap kontestasi politik, sebaiknya masyarakat diharapkan tidak tergoda bujukan untuk memburu khayalan yang hanya mencoba mengakali kemuskilan. ●