Senin, 21 Maret 2016

Agar Cepat Sembuh?

Agar Cepat Sembuh?

Jean Couteau  ;  Penulis Kolom UDAR RASA Kompas Minggu
                                                       KOMPAS, 20 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Gondal-gandul! Aku tadinya tidak menghiraukannya, bahkan tidak tahu perannya.!! Biarpun aku kerap pegang, bersihkan, selipkan di celana, atau apain lagi, aku sama sekali tidak menyadari bahwa sepotong daging itu bisa sedemikian menentukan kehidupanku. Menandakan aku menjadi laki-laki di mata banyak orang. Aku hanya menyadarinya baru-baru ini, ketika sudah terlambat. Dan mukaku sudah memar. Apa sih salahku? Aku tidak tahu. Inilah ceritaku.

Apakah aku memang lahir begitu? Aku merasa normal, kok! Bila ada yang pikir bahwa aku tidak mengerti, mereka keliru. Aku tahu bahwa laki-laki selalu diunggulkan. Bahkan sejak lahir: masalahnya adalah titit. Aku telah pelajari dari internet. Yang paling dulu nongol adalah kening, lalu seluruh kepala, kan? Tetapi apakah disoraki? Tidak! Baru ketika "barang kecil itu" menampakkan diri", masih keriput dan penuh darah, baru disoraki gembira: "Hore!! Laki-laki." Aku pun bersorak. Laki-laki selalu favorit.

Namun untuk betul-betul menjadi favorit itu, harus laki-laki beneran. Apakah aku memang begitu? Rasanya tidak. Tapi waktu aku lahir, aku tidak dimintai pendapat. Sekarang aku terus dipaksa berlagak seolah-olah aku memang cowok biasa. Apa nih dasarnya? Pendapat mereka tentang titit itu: harus jantan! Okay, tapi bagaimana? Dan bagaimana kalau tak bisa? Yang bilang "harus jantan" itu sama sekali tidak peduli tentang "rasaku" tentang diriku ini loh. Jadi apakah aku pria sejati? Ya, tapi gabeng, tak jelas. Gabeng sih gabeng, tapi normal. Minta "dikelonin" oleh ibu tersayang, mencueki bapak dan ditertawai cewek!

Aku memang bukan cewek. Cewek itu aneh. Aku tahu dari kakakku: dia cuma punya garis panjang di depan. Untuk kencing, katanya. Lainnya rata, aduuh. Aku tahu itu dari waktu kita sama-sama mandi. Kalau kencing: dia tidak perlu pegang apa pun untuk itu.. Selain itu, kakak pakai rok, dibelikan boneka, dan boleh nangis bila disakiti, sedangkan aku tidak boleh itu semua, tetapi harus bisa nendang bola dan berkelahi. Aku tidak mengerti mengapa. Katanya, karena kakak cewek, sedangkan aku cowok. Aku iri tetapi kepo. Kenapa begitu? Apakah harus terus memakai celana karena disuruh ibu, dan ikut antrean dengan laki-laki karena diperintah bapak guru. Tidak adil.

Yang aku tidak mengerti adalah si Eddy. Aku sudah lihat cara dia mengintip cewek waktu kami mau olahraga. Kata si Anton, dia tidak mempunyai kakak perempuan. Maka dia merasa pantas menguntit dan mengintip, agar tahu tubuh perempuan. Dia memang ganteng, dan jelas lebih "cool" dari Gatot. Smash-nya di pertandingan bulu tangkis minggu yang lalu memang hebat! Luar biasa! Tetapi kenapa dia begitu sama aku ya? Ajakan berteman dariku selalu dibalas cemoohannya: "Sialan luh, Kris, ada apa dengan ente, berlagak kayak cewek". Aku biasa mendengar cercaan macam itu. Tetapi aku tidak menduga akan jadinya begini. Dijebak, di seberang jembatan sana, di Jalan Gunung Salak. Dia sama si Edmon, cowok kelas enam. Awalnya, ketika gagang kemudi sepedaku dipegang Edmon, aku kira mereka mau guyon: "Ente bencong beneran?" Aku tidak menyahut. Lalu aku ditarik, jatuh dari sepeda. Mereka tertawa. Ketika aku berdiri, mau pegang sepedaku, aku mendapatkan bogem mentah. Taaar! Maka mata kananku sekarang bengkak. Aku ingin menangis, tetapi aku tahan. Hanya menyeringai.

Sesampai di rumah, ibu bertanya bagaimana mataku bisa mengsle begitu. Aku cerita jatuh di sekolah, lalu merangkulnya tersedu-sedu. Dia tidak bertanya lebih jauh. Mungkin dia tahu. Tetapi peristiwa jembatan sampai ke telinga kepala sekolah. Dua hari yang lalu, aku disuruh menghadap beliau. Aku ditegur: "Kris, Bapak heran! Kamu sekarang lihat akibat gelagatmu? Begini jadinya. Tetapi, Bapak mau bantu. Bapak akan mendaftarkanmu pada pelatihan khusus untuk orang seperti kamu. Kamu pasti bisa sembuh, Kris. Bapak jamin."

Aku mengiya-iyakan saja. Di benakku terbayang cowok-cowok yang akan sama-sama ikut latihan. Asal ada yang ganteng, boleh aja, sih! Agar cepat sembuh, hi-hi-hi!

Tapi, pikir-pikir, aku tak sakit, kok! Apalagi tidak siap direbus! ●