Jumat, 25 Maret 2016

Bukan Mantan Terindah

Bukan Mantan Terindah

M Subhan SD ;  Wartawan Senior Kompas
                                                       KOMPAS, 24 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono pernah bertemu empat mata di Nusa Dua, Bali, 27 Agustus 2014. Suasananya terlihat relaks meskipun membicarakan transisi kepemimpinan. Tak pelak, pertemuan itu menjadi tradisi baru yang baik. Namun, sejak pekan lalu, hubungan Jokowi dan SBY tampak menegang. SBY menyindir pemerintah agar tidak terlalu ngotot membangun infrastruktur di kala ekonomi lesu.

Jokowi memang getol ingin membangun jalan tol, waduk, dermaga, transportasi massal, dan lain-lain. Kritik itu terbilang keras dan menusuk. Ibarat tinju, SBY melancarkan pukulan jab dari Pati, Jawa Tengah, 16 Maret 2016, sewaktu safari temu kader Tour de Java. Namun, Jokowi tidak bereaksi. Tak ada jumpa pers untuk membalas atau sekadar klarifikasi. Jokowi memang bukan tipikal pemimpin yang suka berwacana. Jokowi lebih berkomunikasi secara nonverbal.

Dua hari kemudian, Jokowi mendadak meninjau megaproyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Olahraga Nasional Hambalang di Bogor. Hambalang adalah proyek di era SBY. Proyek itu hancur sejak dikorupsi, termasuk oleh petinggi Partai Demokrat. Dan Jokowi melihat bagaimana proyek Rp 1,2 triliun itu telantar.

Kunjungan Jokowi itu simbolis sekali. Barangkali Jokowi lebih suka model komunikasi interaksi simbolis ketika simbol, tafsir, dan makna menjadi pesannya. Gestur politik Jokowi menusuk tajam. Jokowi seakan mengayunkan long hook dari Hambalang. Di media massa dan media sosial, ramailah Jokowi versus SBY.

Komunikasi Jokowi dan pendahulunya itu kian memperkuat dugaan bahwa mengapa hubungan presiden dengan mantan presiden (atau sebaliknya) di Indonesia hampir selalu tidak akur. Hubungan Soekarno dan Soeharto seperti langit dan bumi. Setelah disingkirkan, Soekarno bahkan dijadikan tahanan rumah.

Soeharto juga menolak bertemu BJ Habibie, presiden pengganti yang ditunjuknya sendiri saat gelombang reformasi tahun 1998. Megawati Soekarnoputri juga tak "berbaikan" dengan SBY yang mengalahkan dirinya dalam dua kali pilpres berturut-turut. Inikah yang namanya kutukan politik? Membayangkan presiden dan mantan presiden duduk bersama satu meja dan berbincang santai barangkali ide yang sulit terwujud. Terkadang iri juga melihat para mantan Presiden Amerika Serikat yang masih akur. Mereka masih bisa duduk bersama dalam forum sama.

Misalnya saja, pada 25 April 2013, lima Presiden AS terakhir berkumpul di kampus Southern Methodist University di Dallas, Texas. Mereka hadir saat peresmian Perpustakaan dan Museum George W Bush. Kelima presiden itu adalah Barack Obama (presiden ke-44), George W Bush (presiden ke-43), Bill Clinton (presiden ke-42) George HW Bush (presiden ke-41), dan Jimmy Carter (presiden ke-39). Presiden ke-40, yaitu Ronald Reagan, telah meninggal pada tahun 2004.

Memang ada yang namanya "klub presiden" (the president club). Namun, lebih berwujud ide ketimbang institusi. Bukan entitas resmi, lebih berupa "ikatan". Nancy Gibbs dan Michael Duffy, duo penulis The President Club: Inside The World's Most Exclusive Fraternity (2012), melukiskan bagaimana hubungan di antara Presiden AS yang sering kali juga diwarnai persaingan dan persekongkolan. "Klub" itu muncul saat pelantikan Dwight Eisenhower (presiden ke-34), 20 Januari 1953, ketika Herbert Hoover (presiden ke-31) bercanda pada Harry Truman (presiden ke-33), "Saya kira kita harus mengatur klub mantan presiden." "Oke," jawab Truman, "Anda presiden klub, saya sekretarisnya."

Itu kisah di benua Amerika. Di negeri kita ini, presiden dan penggantinya (bisa dibaca sebaliknya) kerap tidak akur. Dua peristiwa kenegaraan-peringatan 17 Agustus di Istana dan Sidang MPR di parlemen- yang selalu mengundang para mantan presiden dan wapres, tidak selalu lengkap. Sepuluh tahun SBY berpidato di parlemen dan memimpin upacara di Istana, tak sekalipun Megawati hadir. Gus Dur pernah hadir satu kali. Para mantan wapres-lah yang sering kali hadir lengkap.

Setelah Jokowi menjadi presiden, baru Megawati mau kembali ke Istana. Namun, SBY memilih memperingati Agustusan 2015 di kampung halaman di Pacitan, Jawa Timur. Apa mau dikata, meminjam pendapat ahli politik dan komunikasi Harold Lasswell (1902-1978), para mantan itu belum dapat menjalankan salah satu fungsi komunikasi, yaitu transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Barangkali seperti lagu biduanita Raisa yang nge-hit, tetapi mereka bukanlah "Mantan Terindah". ●