Selasa, 22 Maret 2016

Einstein

Einstein

Goenawan Mohamad  ;  Esais; Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
                                                     TEMPO.CO, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Saya lahir 14 Maret 1879 di Ulm...."

Einstein menuliskan biodatanya pada suatu hari di tahun 1932. Akademi Ilmu Pengetahuan Kaiser Leopold, sebuah institusi yang sangat bermartabat—Goethe pernah jadi salah satu anggotanya—memintanya bergabung.

Ada sembilan pertanyaan yang harus dijawab. Pada pertanyaan ke-8 ia mengatakan, ia "pernah diberi beberapa medali". Tapi ia tak merinci apa saja penghargaan itu. Ia juga tak menyebutkan bahwa pada 1921 ia pernah menerima Hadiah Nobel untuk Fisika....

Baginya, penghargaan adalah bagian puji-pujian yang sering ia terima dengan enggan—atau dengan ironi. Sebagian besar ia sembunyikan di satu sudut yang ia namai Protzenecke, "pojok bual". Baginya, yang lebih penting adalah kerja keilmuan—yang sering harus menyendiri.

Uang tak pernah memancing Einstein. Yang diterima dari Hadiah Nobelnya ia dermakan. Di tahun 1927, ia bantu 150 keluarga miskin di Berlin. Suatu hari ia mendapat US$ 1.500, sumbangan Rockefeller Foundation. Ceknya ia pakai buat penyekat halaman buku; bukunya hilang.

Pernah ia kaget dijanjikan honorarium tinggi untuk menulis di sebuah majalah; ia pun menawar agar dibayar separuh saja dari jumlah itu. Ia juga baru mau bergabung dengan Institute for Advanced Studies di Universitas Princeton jika jumlah gajinya dipotong. Ia menolak menerima pemberian, apalagi ketika dihadiahi sebuah violin Guarnerius seharga US$ 33.000. Ia merasa alat musik itu terlalu berharga buat kepandaiannya bermain violin.

Ia tak mau mengambil banyak, ia selalu memberi banyak. Ia membalas surat-surat yang mengalir ke alamatnya dari mana saja: sarjana fisika yang termasyhur, Ratu Belgia, atau anak kecil yang ingin dihibur. Ketika ia terima sekaleng tembakau dari seorang buruh yang kehilangan kerja, ia membalasnya dengan menulis khusus seuntai sajak terima kasih. Seorang kelasi menulis surat bahwa di kapalnya ada kucing yang ikut naik dari pelabuhan Jerman, dan awak kapal memberinya nama "Albert Einstein". 

Sang pemenang Nobel membalas, mengirim salam kepada kucing itu.
Einstein memang bukan orang yang gampang bilang "tidak" kepada mereka yang tak didengar. Ia tahu kemasyhurannya bisa berguna untuk orang banyak—terutama untuk menghimpun dana, atau dukungan suara, untuk tujuan seperti gerakan perdamaian.

Tentu saja untuk nasib orang-orang Yahudi yang di Eropa berabad-abad terancam. Einstein seorang Zionis yang aktif. Tapi ia tak melihat Zionisme sebagai gerakan nasionalis. Zionisme, tulisnya di awal 1946, memberi sisa kaum Yahudi kekuatan batin untuk menanggungkan hantaman, "dengan tegak dan tanpa kehilangan harga diri yang sehat".

Ketika Nazi berkuasa di Jerman—waktu itu Einstein sudah tak di sana lagi—rumahnya disita. Teori Relativitas dianggap ilmu "Yahudi" dan "Komunis" (meskipun di Uni Soviet yang komunis teori itu juga dihantam sebagai anti-"materialisme dialektis").

Di zaman penuh kebencian itu, ada saat-saat Einstein nyaris putus asa. "Tampaknya orang selalu butuh setan untuk saling membenci; dulu itu kepercayaan agama, kini negara," tulisnya setelah usai Perang Dunia I. Ia tak yakin nalar manusia bisa menyelamatkan. "Nalar bukanlah satu cara mempertalikan manusia di bumi...."

Tapi Einstein tahu, dunia yang dibentuk nalar bukanlah segala-galanya. Ia, yang membaca karya-karya Yunani klasik tanpa terjemahan (tapi tak begitu menyukai Plato, yang baginya aristokratik), yang jatuh cinta dan menikah dengan gadis Katolik dan punya anak di luar nikah, yang mencintai musik dan bisa menulis tinjauan kritis atas lakon George Bernard Shaw, mengalami bahwa ada sesuatu yang lain dalam diri manusia. Yakni: dorongan etis, yang disebutnya "moralitas".

Bukan agama. "Agama, menurut kodratnya, tidak toleran," katanya. "Moralitas sepenuhnya persoalan manusia," tulis Einstein kepada seorang rabi di Chicago yang ingin mengaitkan Teori Relativitas dengan Yudaisme di akhir 1939.

Tak berarti manusia bisa menjawab segala hal. Ilmuwan hanya mencoba-coba mengutip kebenaran. Alam dan eksperimen, tulis Einstein, bukanlah hakim yang bisa diduga dan juga "bukan hakim yang sangat bersahabat". Lebih sering Alam dan eksperimen mengatakan "Tidak" kepada satu teori, atau paling ramah "Barangkali". Malah sangat mungkin tiap teori kelak akan bertemu dengan "Tidak".

Kerendahan-hati itu punya sifat "religius". "Religius" bagi Einstein adalah rasa takjub menyaksikan "skema yang menyatakan diri di alam semesta materi". Tapi ketakjuban itu tak harus membuat kita mewujudkan Tuhan "yang bisa mengajukan tuntutan kepada kita".

Dengan kata lain, manusia membentuk sendiri hubungan etis di antara sesama dari kerendahan-hati itu. "Alam bukanlah insinyur atau kontraktor," jawab Einstein ketika ditanya apa yang akan terpikir olehnya sebelum meninggal.

Ia meninggal 18 April 1955. ●