Selasa, 22 Maret 2016

Generasi Milenial untuk Jakarta

Generasi Milenial untuk Jakarta

Anggoro Gunawan  ;  Pekerja Media
                                                       KOMPAS, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Para peminat kursi gubernur DKI Jakarta sudah mulai mengasah senjata. Celotehannya sudah mulai riuh mengisi lini masa. Apa pun upaya mereka, sebaiknya mereka sadar satu hal istimewa: jangan lupakan para pemilih muda yang kini diisi oleh generasi milenial. Mereka inilah penentu kursi gubernur yang sesungguhnya.

Generasi milenial (kelahiran 1980-an-1990-an) bertingkah laku berbeda. Mereka adalah generasi yang bertumbuh dengan keleluasaan informasi. Mereka sadar gaya hidup sekaligus lebih peduli sesama.

Dalam Digital Culture and Religion in Asia, Sam Han dan Kamaludeen Mohamed Nasir menyebutkan bahwa generasi milenial—disebut juga generasi Y—ini lebih liberal dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka peduli dengan sesama. Inilah generasi yang bisa berpindah pekerjaan karena merasa tak sesuai dengan jiwanya. Kalau generasi X (kelahiran 1965-1989) dan baby boomers (kelahiran sesudah Perang Dunia II-1964) berprinsip setidaknya satu tahun tinggal dalam satu pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, bagi generasi milenial itu hanya buang-buang waktu.

Dalam berpolitik, generasi milenial ini mencatat banyak berperan dalam berbagai kisah dunia. Kericuhan di Timur Tengah yang dikenal dengan Arab Spring, misalnya, berasal dari mobilisasi melalui Facebook oleh para pemuda belia. Di Tiongkok, Joshua Wong yang masih berumur 17 tahun berhasil memobilisasi 120.000 orang menentang kurikulum berbau komunis.

Apakah Facebook dan Twitter sedemikian sakti untuk mendulang perolehan suara dalam pemilu? Mengingat ada sedemikian banyak pengguna boneka (puppet account), yakni satu manusia dengan banyak akun, segala macam survei daring yang ada menjadi tak layak dipercaya. Metode yang lebih bisa dipercaya adalah penghitungan pemengaruh (influencer). Ini pun masih perlu dilihat apakah memang pengikut (follower) yang aktif itu sungguhan atau pengikut pesanan.

Riuh rendah LGBT (lesbian, gay, biseksual, transjender) di media sosial baru-baru ini bisa dijadikan cermin sederhana. Antara yang pro dan kontra seakan berimbang. Celaka bagi kaum yang menentang legalisasi LGBT, walaupun dunia maya itu liberal, tetapi dimungkinkan adanya sensor. Facebook mendukung LGBT. Jadi, beberapa akun dengan pengikut ribuan banyak yang kena imbasnya. Mereka diblokir (sementara atau selamanya) karena menolak legalisasi LGBT. Mereka dianggap menyebarkan rasa permusuhan. Pihak pro legalisasi di atas angin.

Apakah di dunia nyata demikian adanya? Apakah LGBT kemudian dianggap lumrah di kehidupan sehari-hari? Kenyataannya, masih banyak pengajian dan khotbah yang menentang. Dan, itulah yang dominan di dunia nyata dan berbagai grup WhatsApp atau Blackberry Messenger yang bersifat privat.

Akan tetapi, riuh rendah di media sosial itu setidaknya berdampak pada beberapa individu. Adu argumentasi gegap gempita itu memunculkan beberapa pemikiran baru, yang tadinya seperti tersembunyi di rak-rak perguruan tinggi. Kondisi ini memungkinkan muncul vote swingers. Semua orang yang terlibat dalam proses debat ini seakan mendapat pencerahan baru bahwa masih ada persoalan-persoalan yang belum terselesaikan.

Politik milenial

Secara jumlah, generasi milenial terhitung besar. Chip Espinoza dkk dalam buku Millennials@Work menjelaskan dengan canda: kesamaan generasi milenial dan baby boomers ada satu, yakni jumlahnya banyak. Selebihnya saling bertolak belakang. Jadi, secara signifikan mereka berpengaruh dalam penentuan perolehan suara.

Ambil contoh apa yang terjadi dengan keberhasilan Barack Obama pada dua kali pemilihan di AS. Presiden kulit hitam pertama itu mengantongi 66 persen dan John McCain hanya 23 persen pada jajak pendapat 2008. Itu adalah hitung-hitungan untuk usia di bawah 30 tahun. Perolehan untuk pemilih di atas 30 tahun adalah 51-49 persen. Selama empat dekade, belum pernah terjadi perbedaan angka antara pemilih muda dan pemilih senior yang keterlaluan seperti ini.

Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, Ahmad Dhani, Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, dan Mischa Hasnaeni Moein adalah nama-nama yang sudah terus terang berniat mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017. Jakarta adalah provinsi istimewa, tidak hanya secara administratif, tetapi juga secara maya. Inilah wilayah yang memiliki tingkat penetrasi internet paling tinggi. Itu artinya, para petarung harus memperhatikan kepopuleran mereka di media daring.

Riset yang dilansir pada pertengahan Februari lalu oleh Komunikasi Indonesia Indikator menunjukkan, ada Basuki Tjahaja Purnama, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Ahmad Dhani, serta Yusril Ihza Mahendra. Ridwan Kamil menyatakan tidak akan ikut memperebutkan kursi gubernur DKI Jakarta. Dalam catatan selama sebulan, Komunikasi Indonesia Indikator mencatat Ahok memimpin dengan 1.254 pemberitaan. Pesaing terdekat Ahok adalah Ahmad Dhani dengan 330 berita.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Oktober lalu juga masih menempatkan Ahok berada di posisi puncak. Ia mendulang 23,5 persen dengan pesaing terdekat Ridwan Kamil (3 persen). Namun, prediksi ini menjadi kedaluwarsa seketika karena kemunculan beberapa nama baru, seperti Ahmad Dhani dan Yusril Ihza Mahendra.

Memang masih terlalu dini mengukur kesaktian masing-masing kandidat. Pertarungan bakal berlangsung lebih seru ketika sudah ada pendaftaran resmi pada Agustus nanti. Kita juga belum memperoleh hasil dari pemilihan terbuka yang diinisiasi Front Pembela Islam (FPI) yang akan dilakukan melalui jalur perseorangan. Hasil penjaringan FPI tampaknya sebagai strategi menggerus pencalonan perseorangan. Sayangnya, mereka tak pernah berhasil merebut hati massa jagat maya. Demikian pula kalau dilihat dari kacamata generasi milenial, institusi agama tak lagi jadi patokan utama.

Pertarungan nanti

Lalu, apa yang jadi perhatian mereka sesungguhnya? Beberapa penelitian menunjukkan, generasi milenial ini terlalu beragam. Efek globalisasi informasi yang masif membentuk pola pikir yang beragam. Satu hal kesamaan mereka adalah pola pikir liberal. Mereka memilih untuk bebas berpikir. Mereka bukan generasi yang bisa dipengaruhi dengan iklan ”percayalah, ini kecap nomor satu”. Mereka adalah generasi yang menghargai keikutsertaan.

Langkah FPI dan Teman Ahok yang mengumpulkan KTP adalah salah satu contoh formulasi ini. Para calon dari kubu partai politik sepertinya harus mencari resep baru untuk mendulang suara. Mereka bukan generasi yang terpaku pada institusi. Karena mereka juga individu-individu bergaya global, abaikan isu-isu sektarian yang mungkin berhasil sebagai meme di internet, tapi kurang signifikan di rentang usia mereka.

Agustus nanti sudah bisa dipastikan akan muncul perseteruan dunia daring untuk merebut para pemilih dari generasi milenial. Bagi yang malas berpikir terlalu serius, cukuplah dengan cekikikan menikmati meme yang bertebaran. Gambar-gambar lelucon itu saling timpal, dari versi sindiran hingga jenaka tak mematut rasa. Akan tetapi, jangan lagi memakai baju Mickey Mouse untuk kampanye ke generasi ini. Kaus Mickey Mouse itu lebih cocok untuk mendulang pemilih baby boomers. ●