Selasa, 22 Maret 2016

Perang Antargenerasi

Perang Antargenerasi

Sarlito Wirawan Sarwono  ;  Psikolog
                                                       KOMPAS, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Beberapa bulan sebelum pilkada serentak tahap pertama, 9 Desember 2015, masuk kiriman pesan melalui WhatsApp ke telepon seluler saya. Isinya: mengajak saya bergabung dalam ”Teman Ahok” dan membantu mengumpulkan tanda tangan untuk pencalonan Basuki Tjahaja Purnama alias Basuki atau Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada Serentak 15 Februari 2017.

Fenomena ”Teman Ahok” (TA) ini menarik. Kelompok ini tiba-tiba saja muncul dari perut bumi seperti zombie, atau datang dari planet lain seperti alien yang mau menyerbu dunia. Mereka terdiri atas anak-anak muda yang idealis, yang awalnya tidak saling kenal. Kemudian mereka saling sapa melalui media sosial, yang sering disebut medianya orang autis, lalu berseliweran di dunia maya dan tahu-tahu sudah ”kopi darat”: membentuk gerakan TA dan mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP) untuk mendukung Basuki.

Jadi bahan tertawaan

Pada mulanya target mereka hanya untuk memenuhi persyaratan UU, yaitu cukup dukungan 500.000 KTP saja. Namun, gerakan ini makin lama makin dahsyat, dan hari ini sudah hampir mencapai 800.000. Target sejuta KTP tinggal menunggu waktu.

Masalahnya, gerakan TA ini membuat partai politik gerah, termasuk PDI-P sebagai parpol pemenang Pemilu 2014. Mereka merasa eksistensinya terancam sehingga TA perlu dilawan habis-habisan, bahkan dituding anti demokrasi. Padahal, calon perseorangan—sering dikelirukan sebagai calon ”independen”—sebetulnya sah menurut UU.

Basuki sendiri, yang semula tak menyangka bahwa TA akan sebegitu dahsyatnya, mau tak mau harus lebih mempercayakan keberhasilannya sebagai cagub kepada TA ketimbang kepada PDI-P yang terus-terusan melambankan diri untuk mengizinkan Djarot Saiful Hidayat—Wagub DKI saat ini—untuk menemani Basuki maju sebagai cawagub. Maka, pada saat perwakilan TA mengunjungi rumah Basuki untuk minta kepastian siapa yang akan jadi pasangannya, Basuki dengan cepat memutuskan Heru Budi Hartono sebagai mitranya. Heru adalah salah satu bawahannya, PNS biasa yang tidak terkenal. Jadi, ia bukan memilih Djarot yang juga bereputasi baik, tetapi belum mendapat izin dari PDI-P untuk maju sebagai cawagub.

Keputusan Basuki yang mendadak itu bagaikan jurus silat ”ular naga mematok banteng”, yang membuat sejumlah parpol kelabakan. Maka, keluarlah jurus-jurus balasan dari parpol. Sebutlah seperti tudingan ”deparpolisasi” yang anti demokrasi; rencana memanggil Basuki (oleh DPR) untuk kasus RS Sumber Waras; pernyataan kalau calon ”independen” ternyata tak seperti yang diharapkan lalu siapa yang tanggung jawab? Bahkan belakangan muncul upaya menjegal Basuki dengan usulan memperberat ambang batas dukungan bagi calon perseorangan dalam revisi UU pilkada. Semua itu justru hanya jadi bahan tertawaan karena terlalu banyak kandungan sesat pikir di dalamnya.

Namun, di balik adegan-adegan lucu yang sering tidak masuk akal dalam argumentasi pihak parpol melawan TA, menurut saya sedang terjadi fenomena luar biasa yang merupakan awal dari perubahan dahsyat yang akan terjadi di Indonesia, atau bahkan di seluruh dunia, yaitu ”perang antargenerasi”. Pihak parpol (bukan hanya PDI-P, tetapi juga parpol lain dan selebritas serta artis yang juga ingin jadi gubernur DKI dengan melawan Basuki dan TA) adalah representasi dari kelompok umur yang dalam istilah demografi disebut generasi baby-boomer, sedangkan TA dan tentunya Basuki sendiri adalah representasi dari generasi X dan generasi Y.

Generasi baby-boomer adalah generasi yang lahir selama dan sesudah Perang Dunia II. Mereka adalah generasi yang bangkit dari kehancuran perang dan menginginkan negara yang aman, sejahtera, tata-tentrem, kerta raharja. Mereka mendambakan kemapanan, mencari pekerjaan yang bisa memberi jaminan sampai pensiun, para politisi pun mengharapkan gaji tetap dan besar dari pekerjaannya sebagai anggota parlemen atau sebagai menteri, perubahan harus bertahap. Senioritas sangat dijunjung tinggi; tidak ada yunior yang bisa naik pangkat sebelum seniornya pensiun atau meninggal dunia. Mereka sulit menerima hal-hal baru, sangat mengandalkan hukum dan peraturan yang tidak berubah, dan seterusnya.

Sisa masa lalu

Satu ciri khas dari generasi ini: mereka gagap teknologi. Jangankan memainkan gadget, memindahkan saluran TV dengan alat kontrol jarak jauh pun mereka lebih suka minta bantuan cucu. Karena itu, mereka lebih mengandalkan jaringan dunia nyata yang dasarnya sejak dulu adalah perkoncoan, kekeluargaan, dan primordialisme yang dipertahankan melalui tradisi dan penokohan orang-orang tertentu berdasarkan keturunan yang cenderung feodalistik.

Generasi X dan Y adalah generasi anak-anak dan cucu-cucu generasi baby-boomer. Di Indonesia, generasi X adalah mereka yang ketika lahir sudah ada TVRI siaran berwarna, dan generasi Y adalah yang lahir di era bukan hanya ada satu stasiun TV, tetapi belasan bahkan puluhan. Teknologi informasi sudah sangat maju sehingga akses terhadap segala macam informasi bisa dijelajah, diunggah, dan diunduh dengan sangat cepat. Berita dan grafis beredar real time, dan dunia benar-benar bukan selebar daun kelor lagi (meminjam kalimat pepatah Melayu lama).

Maka, watak generasi X dan Y tak sabaran. Mereka bukan hanya mendambakan perubahan, tetapi betul-betul ditabrak oleh perubahan yang sangat cepat sehingga kalau tidak ikut berubah mereka akan digilas oleh perubahan itu sendiri. Generasi X dan Y sangat lentur, cepat menyesuaikan diri, anti kemapanan, siapa yang mau maju cepat akan berlari kencang, tidak peduli pada senioritas, kurang peduli pada sistem, prosedur dan birokrasi, berganti-ganti pekerjaan tidak masalah selama pendapatannya meningkat terus. Mereka tak lagi percaya pada satu sumber informasi karena bisa mengakses informasi dari 1001 sumber hanya dengan memencet tombol-tombol telepon seluler dengan jari jempol. Jaringan mereka terbangun melalui dunia maya, yang lebih impersonal dan jauh dari primordialisme dan feodalisme.

Kembali ke Pilgub DKI 2017, Basuki yang didukung TA menurut pendapat saya mewakili generasi X dan Y, sedangkan parpol mewakili generasi baby-boomer. Penyanyi kondang dan politisi terkenal (yang pernah jadi menteri) yang juga ingin jadi gubernur DKI juga tergolong sebagai generasi baby-boomer (dari sudut pandang cara berpikir mereka), walaupun mungkin dari usia sudah lebih dekat ke generasi X.

Mana di antara kedua generasi itu yang akan keluar sebagai pemenang? Untuk jangka pendek (2017) agak sulit menebaknya karena semua faktor pemenangan pemilu masih di tangan para penguasa sekarang yang rata-rata masih tergolong generasi baby-boomer, termasuk intrik-intrik dan tipu-tipu politik. Namun, peluang pihak TA yang akan tampil sebagai pemenang saya kira lumayan tinggi, apalagi untuk jangka panjang. Ini mengingat TA, terutama Basuki, adalah fenomena masa depan yang sudah hadir sekarang, sementara generasi baby-boomer sisa masa lalu yang kebetulan masih hadir sekarang. ●