Selasa, 29 Maret 2016

Memahami Tumbuh Kembang Anak

Memahami Tumbuh Kembang Anak

Ahmad Baedowi ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                             MEDIA INDONESIA, 28 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DALAM pertemuan dengan para orangtua siswa di beberapa sekolah, pertanyaan pertama yang saya ajukan ialah tentang cita-cita mereka dan anak-anak. Ketika menyangkut cita-cita para orangtua, lebih dari 80% orangtua teridentifikasi sebagai orangtua yang gagal mencapai cita-cita mereka. Sambil tertawa para orangtua dengan jujur berkata mereka seperti dihinggapi perasaan dendam terhadap cita-cita sehingga ketika anak-anak bersekolah, mereka mencoba memaksakan cita-citanya.
Ketika hal ini dikonfirmasi kepada anak-anak, sebagian dari mereka mengakui orangtua lebih dominan ketika menentukan cita-cita mereka.

Kesadaran dan pemahaman orangtua terhadap proses tumbuh-kembang anak jelas memiliki peran penting terhadap masa depan anak-anak.
Bukan hanya orangtua, peran guru juga menjadi sangat penting dalam melakukan penetrasi psikologis terhadap proses tumbuh kembang anak.
Namun bisa dikatakan, sekali lagi, pemahaman serta kesadaran orangtua dan guru terhadap proses tumbuh-kembang anak sangat minim dan miskin sehingga posisi psikologis anak ketika tumbuh menjadi tidak maksimal. Dengan para orangtua, mereka ditekan dan dipaksa untuk mengikuti semua keinginan orangtua. Ketika di sekolah, mereka mendapati para guru dengan perilaku yang sama.

Kenali ciri-cirinya

Harus dikatakan secara tegas kepada seluruh orangtua dan juga para guru, bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa, melainkan mereka ialah makhluk kecil yang diyakini memiliki potensi diri untuk berkembang.
Namun, karena kesadaran dan pemahaman tentang hal ini sangat minim, tak jarang ada begitu banyak jenis intervensi orangtua dan guru yang salah karena tak mengerti tentang proses tumbuh-kembang anak, terutama ketika mereka berada pada periode emas pertumbuhannya, yaitu pada usia 1-6 tahun. Periode ini banyak diyakini sebagai fase kritis bagi proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikologis.

Jika pertumbuhan anak selalu berkaitan dengan masalah perubahan fisik dalam hal yang berkaitan dengan besar, jumlah, dan ukuran organ individu, hal ini dapat diukur melalui ukuran berat, ukuran panjang, besar lingkaran kepala, dan sebagainya, serta memerlukan proses pemantauan yang tepat. Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan.
Peristiwa perkembangan ini biasanya berkaitan dengan masalah psikologis, seperti kemampuan gerak kasar dan halus, intelektual, sosial, dan emosional.

Aspek perkembangan anak dapat terbagi dalam enam bagian besar. Satu sama lain saling memengaruhi. Jika salah satu aspek terhambat perkembangannya, akan menghambat perkembangan kelima aspek lainnya. Pertumbuhkembangan anak yang optimal jika keseluruhan aspek berkembang dengan baik dan sesuai usia. Pola pengasuhan dan peran orangtua sangat besar dalam hal ini. Dukungan dan bantuan orangtua dan guru ialah dasar yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh aspek secara optimal.

Pertama, perhatikan aspek motorik kasar anak melalui kemampuan anak untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup gerakan-gerakan otot besar. Perkembangan motorik kasar dapat dilihat dari kemampuan anak untuk merangkak, berjalan, berlari, melompat, memanjat, berguling, berenang, dan sebagainya. Aspek kedua ialah motorik halus, yaitu kemampuan anak untuk mengontrol keluwesan jemari tangan yang dapat dilihat dari kemampuan untuk menyentuh, menjumput, meraih, mencoret, melipat, memasukkan benda atau makanan ke dalam mulut, dan sebagainya. Kedua kemampuan motorik ini penting untuk selalu diamati para guru dan orangtua.

Aspek ketiga ialah kognitif, yaitu kemampuan anak untuk memproses, menginterpretasikan dan mengategorikan informasi-informasi yang diperolehnya melalui pancaindra. Kemampuan ini selanjutnya berkembang menjadi kemampuan berpikir logis yang selanjutnya menentukan apakah anak mampu memahami lingkungannya.

Aspek keempat, kemampuan bahasa, adalah untuk melihat perkembangan aspek sosial anak sebagai makhluk sosial, yakni sejak bayi anak telah bisa berkomunikasi untuk menyatakan perasaan dan keinginannya, yaitu dengan tangisan, tertawa, dan mengoceh yang merupakan awal dari perkembangan bahasa. Selanjutnya, anak akan belajar untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa. Kemampuan bahasa selain membantu anak untuk memahami apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya, juga untuk dapat dipahami orang lain. Perasaan mampu memahami dan dipahami dapat menumbuhkan rasa percaya diri.

Aspek kelima, yaitu emosi, adalah kemampuan anak untuk mengenali berbagai hal yang dirasakannya, mengekspresikan perasaan dalam bentuk yang dapat diterima lingkungannya, serta kemampuan untuk mengendalikan dan mengatasi perasaannya. Kematangan emosi tidak terjadi dengan sendirinya, tapi secara bertahap dan sangat membutuhkan peran serta guru dan orangtua dan lingkungan sosial.

Aspek terakhir, keenam, ialah aspek sosial, yaitu kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memberi respons pada orang lain, dan berbagi. Pengalaman sosial anak hanya dapat tumbuh dan berkembang dari pengalamannya dengan orang-orang terdekat. Pola asuhan dan arahan orangtua sangat penting dalam perkembangan aspek sosial anak.

Dari ciri-ciri tersebut, mungkin ada baiknya jika kita juga dapat memahami beberapa ciri lain yang berkaitan erat dengan ciri-ciri di atas, yang dalam bahasa Maria Montessori digambarkan sebagai berikut:

1. Semua anak punya ingatan yang mudah menyerap/cepat belajar.

2. Semua anak belajar melalui bermain dan belajar ide-ide baru, adaptasi sosial, dan mengatasi masalah-masalah emosi.

3. Semua anak melalui sejumlah tahap perkembangan setiap tahap saling berkaitan.

4. Semua anak ingin kebebasan dalam menunjukkan kemampuan/keterampilan yang dimiliki.

Karena itu, mari kenali ciri-ciri tumbuh kembang anak dengan baik agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama terhadap masa depan anak-anak. ●